Kompendium
Perjanjian, Hukum dan Peraturan Menjamin Semua Anak Memperoleh Kesamaan Hak untuk Kualitas Pendidikan dalam Cara Inklusif

[about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]

 

Kembali

 

Komitmen Sentani untuk Memberantas HIV/AIDS di Indonesia - 2004

 

Sejak ditemukan kasus pertama HIV/AIDS di Indonesia pada tahun 1987, selanjutnya telah berkembang dengan sangat pesat dan menjadi epidemi terkonsentrasi di 6 propinsi, yaitu Bali, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Papua dan Riau, serta cenderung terjadi pula di beberapa propinsi yang lain.

Dalam upaya menghindari agar epidemi tersebut tidak menjadi lebih luas lagi, dan menyebar ke populasi umum (generalized epidemic) dan menjadi ancaman nasional, maka pada hari ini, Senin, tanggal 19 Januari, kami yang berkumpul di Sentani (Propinsi Papua) dalam rangka Pertemuan Koordinasi KPA Nasional dengan 6 propinsi prioritas Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia dengan sadar dan penuh tanggung jawab menyatakan kesepakatan bersama dengan gerakan nasional untuk memerangi HIV/AIDS melalui Gerakan Nasional dengan upaya-upaya sebagai berikut:

Pertama: Mempromosikan penggunaan kondom pada setiap aktifitas seksual berisiko dengan target pencapaian 50% pada tahun 2005.

Kedua: Menerapkan pengurangan dampak buruk penggunaan Napza suntik.

Ketiga: Mengupayakan pengobatan HIV/AIDS termasuk penggunaan ARV kepada minimun 5,000 Odha pada tahun 2004.

 

Keempat: Mengupayakan pengurangan stigma dan diskriminasi terhadap Odha.

Kelima: Membentuk dan memfungsikan KPAD Propinsi/Kabupaten/Kota.

Keenam: Mengupayakan dukungan peraturan perundangan dan penganggaran untuk pelaksanaan penanggulangan HIV/AIDS tersebut.

Ketujuh: Mempercepat upaya nyata dalam penanggulangan HIV/AIDS dengan memperhatikan semua aspek (seperti: pendidikan, pencegahan, KIE, pendidikan agama dan dakwah) yang nyata yang diketahui berpengaruh dalam keberhasilan upaya tersebut.

Kami sadar bahwa keberhasilan upaya penanggulangan AIDS merupakan taruhan yang harus dilaksanakan untuk menyelamatkan bangsa Indonesia ini dari keadaan yang lebih memburuk lagi.

Sentani, 19 Januari 2004

Wakil-wakil Propinsi:

  • Wakil Gubernur Bali, I.G.N. Kesuma Kelakan
  • Kepala Dinkes DKI Jakarta, Dr. Halik Masulili, Msc
  • Sekda Jawa Barat, Ir. Setya Hidayat
  • Assisten Bid. Kesmas Jawa Timur, Ir. R. Kardani
  • Gubernur Papua, Drs J.P. Solossa, Msi
  • Sekda Riau, Arsyad Rachim

Pimpinan KPA Nasional:

  • Menko Kesra selaku Ketua KPA, H.M. Jusuf Kala
  • Menteri Kesehatan selaku Wakil Ketua Harian KPA, Dr. Achmad Sujudi, MHA
  • Menteri Sosial selaku Wakil Ketua KPA, H. Bachtiar Chamsah, SE
  • Menteri Agama selalu Wakil Ketua KPA, Prof. Dr. Said Aqiel Munawar
  • Sekjen Pendidikan Nasional, selalu Wakil Ketua KPA, Drs. Baedhowi, MS
  • Ditjen PMD Departemen Dalam Negeri selaku angota KPA, DR. Drs. H. Ardi Artadinata, Msi
  • Kepala BKKBN selaku anggota, Dr Sumaryati Aryoso
  • Ketua komisi VII DPR-RI, Dr Sanusi Tambunan

 

Sumber: Merangkul Perbedaan:
Parangkat UNESCO untuk Mengembangkan Lingkungan Inklusif Ramah Terhadap Pembelajaran [LIRP];
Buklet 6: Menciptakan LIRP yang Sehat dan Aman

Bagian ini menjabarkan bagaimana pendidikan dapat digunakan untuk mencegah HIV/AIDS dan mengurangi stigmatisasi mereka yang terjangkit penyakit ini. Selain itu kegiatan dalam bagian ini dapat diadopsikan untuk digunakan dalam menangani masalah kesehatan seperti yang dibahas di atas.

Pendidikan merupakan kunci untuk mengurangi stigma dan pemahaman yang lebih besar tentang HIV/AIDS. Sekolah merupakan tempat penting untuk mendidik anak tentang HIV/AIDS, serta untuk menghentikan penularan lebih lanjut dari infeksi HIV. Keberhasilan dalam melaksanakan ini tergantung pada seberapa baik kita menjangkau anak dan remaja pada waktunya untuk meningkatkan perilaku sehat yang positif dan mencegah perilaku yang beresiko.

Mengajarkan remaja tentang bagaimana mencegah terinfeksi atau tertular oleh orang lain merupakan tanggung jawab penting bagi guru. Dengan cara ini, guru dapat membuat peningkatan kualitas kesehatan yang penting bagi remaja di sekolah dan bermanfaat bagi peningkatan kesehatan di masyarakat.

Pendekatan berbasis kecakapan terhadap HIV/AIDS melalui teknik belajar partisipatori (aktif) dapat:

  • membantu individu mengevaluasi diri sendiri;
  • menelaah nilai dan keyakinan pribadi;
  • menentukan tindakan yang harus dilakukan untuk melindungi diri mereka sendiri dan orang lain dari HIV; dan
  • memiliki kecakapan yang dapat membantu mereka untuk bertindak sesuai keputusan mereka.

Pendidikan kesehatan berbasis kecakapan untuk mencegah HIV/AIDS meliputi kesehatan reproduksi dan kandungan, pendidikan kependudukan, pendidikan kehidupan keluarga, dan pencegahan penyalahgunaan zat adiktif.

Cara-cara apakah yang dapat dilakukan untuk memulai program berbasis kecakapan untuk mencegah HIV/AIDS kepada peserta didik kita? Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pendidikan kesehatan yang dilakukan sekolah.

 

Informasi lebih lanjut:
UNGASS: www.ungass.org
UN: www.un.org/ga/aidsmeeting2006
UNAIDS: www.unaids.org/en/HIV_data/2006GlobalReport

Merangkul Perbedaan - Perangkat UNESCO untuk Mengembangkan Lingkungan Inklusif Ramah Terhadap Pembelajaran

Versi Bahasa Inggris: www2.unescobkk.org/elib/publications/032revised

Versi Bahasa Indonesia: www.idp-europe.org/toolkit

Kembali