EENET asia Newsletters : Kwartal ke-4 2007 / Kwartal ke-1 2008
Melanjutkan Isu Sistem Pendidikan
di Sri Lanka
Rohan Senarath
Akses pada pendidikan dan pemeliharaan di sekolah telah diidentifikasi sebagai tantangan utama yang dihadapi sistem pendidikan Sri Lanka. Kecuali di beberapa sekolah swasta dan internasional baru, pendidikan di Sri Lanka disediakan gratis oleh negara bagian yang memiliki sekolah-sekolah. Peningkatan jumlah anak-anak dari keluarga ekonomi berkecukupan yang bersekolah di sekolah swasta dan internasional di mana Bahasa Inggris sebagai pengantar. Bahasa lokal digunakan sebagai bahasa pengantar di sekolah yang dimiliki oleh negara bagian dengan akses terbatas terhadap Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran. Anak-anak menghadapi persaingan yang kuat untuk masuk di sekolah populer atau dikenal “bagus”, anak-anak dalam pengaruh konflik dan daerah pedesaan mengalami tantangan dan hambatan lain.
Banyak organisasi PBB dan LSM yang telah melakukan suyvey dan studi untuk menemukan penyebab banyaknya pada sistem pendidikan di Sri Lanka saat ini. Tantangan-tantangan yang diringkas di bawah ini dikumpulkan menggunakan laporan studi, artikel, jurnal yang berbeda berhubungan dengan situasi sistem pendidikan di Sri Lanka. Latihan ini menyajikan informasi penting dan mengidentifikasi sejumlah alasan penting adanya peningkatan angka putus sekolah pada anak-anak di Sri Lanka. Kebanyakan dari tantangan tersebut adalah sama dengan yang ditemui di beberapa negara di Asia Selatan dan Tenggara namun yang lainnya lebih spesifik dalam konteks negara Sri Lanka.
Bahasa pengantar dalam sekolah pemerintah adalah Sinhala dan Tamil. Walaupun kebanyakan distrik di mana presentase anak-anak yang putus sekolah, tidak bersekolah atau baru mulai bersekolah tidak terlalu signifikan, di salah satu distrik yang terdampak konflik 17% dari anaknya putus sekolah, tidak bersekolah atau tidak pernah mendaftar untuk bersekolah.
Tinjauan literatur berikut telah membuka isu kritis yang menjadi penyebab keengganan mendaftar dan hadir di sekolah.
- Kurangnya sistem pendidikan yang ramah anak
- Kurangnya pengetahuan di antara para guru tentang cara pengajaran interaktif, pedagogi modern dan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada anak
- Para guru lebih memfokuskan kepada si “cepat” belajar sementara mengabaikan si “lambat” belajar
- Favoritisme oleh para guru
- Guru-guru kurang berempati pada murid-murid yang miskin
- Guru lebih memilih bekerja di daerah perkotaan menyebabkan kurangnya tenaga guru di sekolah pedesaan
- Kurangnya ketertarikan di antara pejabat pendidikan untuk menempatkan kebijakan wajib belajar yang telah ada sejak tahun 1997
- Intervensi politik dalam proses penempatan guru-guru
- Kurangnya tekanan, motivasi dan dukungan dari masyarakat untuk meningkatkan kemauan mendaftar dan masuk sekolah
- Anak-anak menjadi sangat rentan di daerah yang terpengaruh perang
- Pemindahan internal
- Keluarga dengan penghasilan rendah berjuang untuk menyediakan keperluan sekolah misalnya sepatu, seragam, alat tulis dan buku-buku bagi anak-anak mereka
- Kurangnya kerjasama dengan sektor swasta dan penyandang dana dalam mengatasi isyu pendidikan
- Tidak ada partisipasi masyarakat dalam pengawasan penggunaan dari anggaran pendidikan yang sesuai
- Kurangnya kebijakan dan praktek pendidikan inklusi
- Penurunan persentase GDP secara perlahan yang dialokasikan untuk pendidikan
- Anak-anak terikat pada kegiatan ekonomi rumah tangga untuk membantu keluarga daripada datang ke sekolah, atau harus menjaga saudaranya yang lebih muda
- Kesenjangan dalam mekanisme pengumpulan informasi dari tingkat sekolah, lingkungan, propinsi dan juga tingkat nasional
- Kurangnya sistem untuk menghargai guru dan kepala sekolah yang mengenalkan metode inovatif untuk menjaga tingkat kehadiran
- Buruknya fasilitas sekolah di pedesaan
- Tidak tersedia sekolah multi-grade bagi anak putus sekolah dan kembali bersekolah di hampir seluruh daerah geografis.
- Kurangnya kesadaran masyarakat pada konsekuensi dari anak-anak putus sekolah - media tidak berperan aktif dalam kepekaan orangtua, dinas dan masyarakat untuk memastikan semua anak mempunyai hak yang sama mengakses pendidikan berkualitas
- Ejekan dan hukuman kekerasan oleh guru walaupun ada larangan untuk melakukan hukuman fisik
- Pelayanan konseling tidak tersedia pada sekolah dasar dan menengah
- Tidak ada sistem untuk menjaga anak-anak dari para ibu yang bermigrasi walaupun ini menjadi sumber no. 1 dari pendapatan luar negeri di Sri Lanka
- Buruknya program kesehatan sekolah dan tidak mencukupinya program pemberian pangan di sekolah.
Dengan tujuan dari daftar yang dibicarakan di atas, sejumlah LSM Internasional membantu Departemen Pendidikan Tingkat Propinsi untuk menerapkan pendekatan baru sebagai proyek panduan di daerah yang berbeda di Sri Lanka selama beberapa tahun terakhir. Mengambil pertimbangan praktis terbaik, Kementerian Pendidikan saat ini memfokuskan pada pengembangan dan penerapan sistem sekolah ramah anak dalam semua sekolah pemerintah dengan bantuan LSM Internasional. Sejumlah LSM Internasional yang tertarik telah memberikan kontribusinya untuk mengembangkan kerangka kerja umum untuk penerapan sekolah yang berpusat pada anak, berfokus anak, dan ramah anak di Sri Lanka. Kementerian Pendidikan berencana meluncurkan sebuah operasi nasional untuk menerapkan sistem sekolah ramah anak dalam waktu dekat dan meminimalisasi pengaruh yang disebabkan oleh isyu yang disebutkan di atas.
Bpk. Rohan Senarath adalah Direktur Eksekutif dari Koalisi bagi Pengembangan Pendidikan. Email: rohansenarath@gmail.com, atau alamat pos:
Coalition for Educational Development,
917/2, Etul Kotte, Kotte
Sri Lanka
EENET asia
Newsletters : Kwartal ke-4 2007 / Kwartal ke-1 2008
|