![]() |
EENET Asia Newsletter - Edisi ke-5 - Kwartal ke-4 2007 / Kwartal ke-1 2008 |
|
|
Dari Editor: Proses Pedagogi di kelas Harus Berubah. Guru tidak hanya Bertanggung Jawab untuk Mengajar Kurikulum... Mereka Harus Mengajar Anak. Selamat Datang di edisi ke-5 EENET Asia Newsletter. Untuk edisi kali ini kami mengundang editor tamu - John Morefield - yang menulis tentang pentingnya kepemimpinan sekolah ketika mencoba untuk meningkatkan kualitas dan pendidikan yang inklusif. Di banyak negara kepala sekolah dipandang sebagai manajer secara eksklusif. Ide dari kepemimpinan, inisiatif diri atau kreativitas sering tidak menjadi bagian dalam deskripsi kerja atau apa yang diharapkan dari para kepala sekolah. John menulis tentang standar kepemimpinan dan pengembangan profesional di Kamboja, tetapi relevansi yang beliau jelaskan berlaku di kebanyakan negara. “Pendidikan guru di Daerah Karen” menjelaskan tantangan yang beragam dalam mengembangkan sistem pendidikan untuk masyarakat minoritas pribumi di dalam dan di luar perbatasan Birma dan peran pendidikan guru pada peningkatan kualitas dari hasil pembelajaran siswa, ketika mengembangkan sebuah kurikulum yang menggunakan bahasa ibu dan merefleksikan budaya pribumi. Hubungan terhadap kemampuan kualitas mengajar guru adalah kemampuan asesmen yang juga memerlukan kewajaran dan tanggapan terhadap keberagaman murid dan pengajaran. “Asesmen melalui kacamata murid” menyoroti pentingnya penemuan bagaimana pengalaman murid dalam asesmen. Hal ini juga menjelaskan bagaimana asesmen yang formatif dapat menjadi strategi inklusif dalam membantu guru untuk menanggapi lebih baik keberagaman kebutuhan di dalam kelas. Harus jelas bahwa kami perlu melindungi dan mempromosikan hak pendidikan dalam situasi darurat, rekonstruksi awal dan konflik yang kronik khususnya bagi anak-anak dan remaja. Dalam terbitan sebelumnya kami telah membaca tanggapan tentang gempa bumi di Pakistan dan pendidikan untuk anak perempuan di Afghanistan setelah jatuhnya kelompok Taliban. Bagian dari “memampukan [enabling]” berpendidikan seharusnya termasuk mengajar dan belajar tentang siaga darurat. Hal ini dijelaskan dalam cerita Chitraporn Vanaspong tentang “Sekolah berbasis Pelatihan dalam menghadapi Resiko Bencana” yang dikembangkan di bagian selatan Thailand. Ilustrasi “menolong orang dengan menolong diri sendiri” menjelaskan bagaimana filosofi hubungan pembelajaran seumur hidup dengan empat pilar pembelajaran yang sedang di implementasikan di Filipina. Kami kembali mencoba untuk mendapatkan contoh praktis pelaksanaan program inklusif dan responsif dari para pembaca di seluruh daerah dan dari dokumentasi yang ada, dimana kemungkinan beberapa dari pembaca tidak dapat mengaksesnya. Studi kasus dari Sightsavers adalah satu kasus yang menggambarkan contoh praktis yang baik, bahkan ketika “Memungkinkan Pendidikan Untuk Anak Tunarungu” belum tercakup dalam EENET Asia. Banyak saran praktis disediakan dalam artikel ini untuk para guru dan lainnya. David Spiro dari Helen Keller menulis tentang pentingnya kerja sama praktek pendidikan inklusif dengan advokasi pendidikan inklusif. Untuk banyak orang pendidikan inklusif tetap menjadi sebuah tantangan dengan demikian contoh praktis yang baik dan fakta yang berbasis penelitian lebih perlu digunakan untuk advokasi dengan secara lebih strategik. Hemophelia adalah kondisi kesehatan yang mungkin tidak diketahui oleh banyak orang, tetapi dapat merupakan penghalang pendidikan bagi para murid yang memiliki kondisi ini, sebagaimana kasus kesehatan kronik yang sama seperti asma, kemungkinan anak bersangkutan sering tidak masuk sekolah karena sakit. Pendidikan inklusif juga harus menanggapi tantangan semacam ini, sebagaimana diilustrasikan oleh Chandra Galih Permana dari Indonesia. Ketika melihat isu pelaksanaan praktis kita membatasi beberapa tantangan. Kadang-kadang pembaca mengirim kami beberapa contoh sementara di lain waktu kami membaca semacam kasus tersebut di koran atau di materi lainnya. Sangatlah menarik apabila kita menerima umpan balik dari para pembaca. Di dalam edisi ini kami mempunyai isu yang dapat direfleksi secara kritis dan mempertimbangkan tanggapan, dari Pakistan tentang mengajar remedial untuk taman kanak-kanak. Mohon, kami diberi masukan bagaimana menurut anda! Beberapa kegiatan yang dilaksanakan di daerah kami seperti pertemuan tentang kebijakan regional untuk wilayah Asia Selatan dan Lokakarya Pendidikan untuk Darurat di Nepal, dilaporkan dan kegiatan baru di umumkan, ketika kami menemukan publikasi baru untuk pembaca semua yang mungkin sangat menarik untuk dibaca. Kami juga mendorong para pembaca untuk berbagi mengenai kegiatan yang akan datang atau publikasi baru tentang “memampukan pendidikan” untuk semua, dengan sebuah fokus khusus pada mereka yang rentan terhadap marginalisasi dan pemisahan. Editor
EENET asia Newsletters : Kwartal ke-4 2007 / Kwartal ke-1 2008
|
|
|