Untitled Document
IDP Norway

EENET Asia Newsletter - Edisi ke-5 -

Kwartal ke-4 2007 / Kwartal ke-1 2008

EENET Global
Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]


EENET asia Newsletters : Kwartal ke-4 2007 / Kwartal ke-1 2008

Pergi, Bercerita, Bernyanyi

Dalam keluarga pendongeng tradisional kami, anak-anak membuat sebuah perubahan dalam profesi ini karena seringkali mereka sulit mengatur kehidupan. Nenek kami adalah penghubung kami dengan dunia dongeng, tapi saat ini dengan kemerosotan hubungan antar generasi, kami juga kehilangan hal tersebut.

Bercerita, kami percaya, terjadi. Banyak budaya percaya bahwa jika anda mempunyai sebuah dongeng untuk diceritakan - dan tidak diceritakan - hal-hal aneh dapat terjadi. Berberapa gongeng mempunyai cara unik dan menakjubkan yang meyakinkan bahwa mereka harus diceritakan! Dongeng berjudul Kannada diceritakan oleh AK Ramanujan, yang mengumpulkan dan mengedit kumpulan dongeng rakyat India terbaik, adalah sebuah contoh yang luar biasa. Inilah ceritanya:

Pada suatu ketika hiduplah seorang wanita yang mengetahui tentang sebuah dongeng. Tapi dia menyimpannya untuk dirinya sendiri, dan tidak pernah mengatakannya pada orang lain. Terkurung dalam diri wanita tersebut, dongeng yang tidak diceritakan dan nyanyian yang tidak dinyanyikan ini merasa tercekik dan terperangkap. Mereka memutuskan untuk melarikan diri.

Suatu hari, ketika si wanita tidur dengan mulut terbuka, si dongeng melarikan diri; keluar dari tubuh si wanita, dan mengambil wujud benda menjadi sepasang sepatu, dan duduklah di luar rumah. Begitu pula dengan sang nyayian dengan cepat mengikutinya, dan mengambil wujud seperti sebuah pakaian pria, dan menggantung pada sebuah pancang. Ini menimbulkan sang suami sangat curiga; khususnya ketika si wanita tetap berkeras bahwa dia tidak mengetahui siapa pemiliknya atau darimana asal benda tersebut. Dengan marah, sang suami mengambil selimutnya, dan pergi ke sebuah kuil terdekat untuk tidur.

Api dalam lentera di kota tersebut, sekali mereka padamkan, tidak benar-benar padam. Mereka pindah ke kuil tersebut dan bermalam di sana, bergunjing sampai lentera tersebut menyala kembali hari berikutnya. Pada saat itu, semua lentera dari seluruh rumah telah tiba di kuil – kecuali satu, yang datang belakangan. “Mengapa kamu sangat terlambat malam ini?” yang lainnya bertanya. “Karena di rumahku, pasangan suami-istrinya bertengkar hingga larut malam ini.” Kata lentera tersebut. “Kenapa mereka bertengkar?” Sang api menceritakan peristiwa tersebut kepada yang lain. Ketika ia selesai api yang lain bertanya: “Tapi darimana asal mantel dan sepatu itu?”

“Sang wanita di rumah kami mengetahui sebuah cerita dan sebuah nyanyian. Ia tidak pernah bercerita dan bernyanyi kepada siapa pun. Dongeng dan nyanyian itu merasa tercekik di dalam: jadi mereka keluar dan merubah diri menjadi sebuah mantel dan sepasang sepatu. Melihat hal ini sang suami menjadi marah. Kelihatannya mereka balas dendam.” Sang suami, yang berbaring di bawah selimutnya di dalam kuil, mendengar penjelasan sang lentera. Kecurigaannya hilang sudah. Ketika ia pulang pada waktu subuh, ia membangunkan istrinya dan memintanya bercerita tentang ceritanya dan menyanyikan lagunya.

“Cerita apa? Lagu apa?” Ia bertanya. Dia dengan sedih telah lupa akan keduanya.

Di daerah Cree, Manitoba, Kannada ada juga cerita serupa, ketika mereka tidak diceritakan, tinggal di desa mereka di mana mereka hidup sendiri. Dari waktu ke waktu, bagaimanapun, sebuah cerita akan meninggalkan tempat asalnya dan mencari seseorang untuk tinggal. Beberapa orang akan dengan cepat keranjingan cerita tersebut dan menceritakan dongeng tersebut, menyanyikannya kembali seperti sebuah lingkaran. Pergi dan Ceritakanlah, nyanyikanlah!

Kami ingin mendengar cerita dan lagu-lagu dari anak-anak di negara anda semua. Bagikanlah kepada kami. Kami memulai kolom ini dalam EENET Asia EDISI no. 5 dengan cerita berikut dari India.

Belanga yang Retak

Seorang pembawa air di India memiliki 2 Belanga besar, masing-masing ia gantung pada ujung sebuah kayu yang digantung di lehernya. Satu dari belanga tesebut sangat sempurna dan tidak pernah bocor. Yang lain memiliki sebuah retakan dan setiap kali sang pembawa air tiba di rumah majikannya, airnya bocor keluar dan tinggal setengah. Hal ini terjadi setiap hari selama 2 tahun, dengan sang pembawa hanya dapat mengantarkan satu setengah belanga air ke rumah majikannya. Tentu saja si belanga yang sempurna bangga dengan hasil kerjanya. Tapi belanga yang retak merasa malu pada ketidak sempurnaan dirinya dan merasa sedih karena hanya dapat membawa setengahnya saja.

Setelah 2 tahun dari apa yang dirasanya sebagai sebuah kegagalan pahit, suatu hari ia bicara pada si pembawa air, “Saya merasa malu pada diri saya dan ingin meminta maaf padamu.”

“Kenapa?” tanya si Pembawa Air “Apa yang membuatmu malu?”

“Saya hanya mampu, selama 2 tahun terakhir ini mengantarkan hanya setengah dari seharusnya yang bisa saya tampung karena retakan ini yang menyebabkan air bocor keluar dalam perjalanan pulang ke rumah majikanmu. Karena kecacatan saya ini, kamu harus melakukan semua pekerjaan ini, dan tidak mendapatkan hasil penuh dari usahamu. Ujar si Belanga. Pembawa air merasa kasihan pada Belanga retak, dan ia berkata, “Hari ini, ketika kita kembali ke rumah majikan saya, saya ingin kamu perhatikan bunga-bunga yang indah yang ada di sepanjang jalan.”

Sungguh, ketika mereka menaiki bukit, sang belanga retak memperhatikan matahari menghangatkan bunga-bunga liar yang indah di sepanjang jalan, dan hal ini sedikit menyenangkan hatinya. Tapi pada akhir perjalanan, ia tetap merasa bersalah karena ia telah membocorkan setengah air yang dapat ditampungnya, dan lagi sang belanga memohon maaf kepada si pembawa air atas kegagalannya.

Si pembawa air berkata kepada sang belanga, “Apakah kamu memperhatikan bahwa bunga-bunga ini hanya berada pada jalurmu tapi tidak pada jalur belanga yang lain? Itu karena saya selalu mengetahui kekuranganmu, dan saya mengambil keuntungan darinya. Saya menanam bibit bunga pada sisi jalurmu, dan setiap hari sementara saya berjalan pulang dari sungai, kamu telah menyiramnya. Selama 2 tahun saya dapat memetik bunga-bunga yang cantik ini dan menghiasnya di atas meja majikan saya. Tanpa kamu yang apa adanya, dia tidak akan mendapat keindahan ini menghias rumahnya.”

Masing-masing dari kita memiliki kekurangan masing-masing yang unik. Kita semua adalah belanga yang retak. Kita perlu untuk mengakuinya, dan kita harus dapat menukar kelemahan kita menjadi kekuatan kita.

Anak-anak juga mempunyai kebutuhan, kekuatan dan kelemahan yang perlu kita turuti. Sebuah budaya sekolah yang semua anak-anaknya dihargai dan diterima, bersamaan dengan pengajaran dan metode manajemen kelas bersama itu pula akan memiliki pengaruh kuat yang positif pada semua anak dan orang dewasa di lingkungan sekolahnya.

Apa yang dikatakan oleh cerita di atas tentang anak-anak anda sekalian? Apakah anda berpikir mereka memiliki kelemahan dan kekurangan yang ternyata menjadi kekuatan dalam sebuah situasi tertentu? Tuliskan pada kami tentang mereka. Kami menanti pandangan anda dan akan senang berbagi tanggapan anda dengan pembaca EENET Asia yang lain.


EENET asia Newsletters : Kwartal ke-4 2007 / Kwartal ke-1 2008

 

Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]