EENET asia Newsletters : Kwartal ke-4 2007 / Kwartal ke-1 2008
Mulainya Sebuah Perjalanan: Peningkatan Kinerja Guru di India
Bagaimana sistem pendidikan dapat memberi perubahan pada guru dan dalam skala besar? Ini adalah sebuah pertanyaan yang dihadapi India dalam memastikan bahwa peningkatan akses pendidikan dengan sendirinya mengubah akses menuju pendidikan berkualitas. Sebagaimana jumlah sekolah dasar meningkat dari 0,84 juta dalam tahun 1999-2000 menjadi 1,04 juta dalam tahun 2005-2006, dan jumlah guru meningkat dari 3,2 juta dalam tahun 99-00 menjadi 4,17juta dalam tahun 05-06, merupakan peningkatan yang besar pada setiap survei walaupun tingkat pembelajaran yang dicapai anak tetap sangat rendah.
Dalam hal ini sebuah resensi pelatihan [in-service] guru yang diusulkan [kebanyakan praktek guru yang ada dilaksanakan sampai 20 hari dalam setahun di bawah Program PUS India, Sarva Shiksha Abhiyan]. Salah satu realisasi yang muncul adalah tidak adanya kesepakatan dan kejelasan bagaimana ‘pelatihan guru yang baik’ juga karena tidak adanya kesepakatan dan mengenai bagaimana mengajar yang baik. Nilai ujian dapat dicapai meskipun tanpa arti mengajar yang baik, nilai semacam ini juga menyembunyikan tingkat kebutuhan sebagian besar kelompok marginal dimaksud [atau tidak]. Untuk mengatasinya, tingkat kinerja guru saat ini memerlukan asesmen dan strategi terencana guna meningkatkan kualitas mengajar dan belajar; upaya nasional di laksanakan oleh pemerintah India dengan dukungan dari UNICEF.
ADEPTS, dan konteks keberagaman
Kemajuan Kinerja Pendidikan melalui Dukungan Guru [Advancement of Educational Performance through Teacher Support - ADEPTS] adalah upaya yang dimaksud, dimulai dengan sebuah pertemuan badan penasihat yang dihadiri oleh beberapa negara bagian di India untuk menyetujui draf ‘standar kinerja’ untuk guru, pelatih dan institusi pendukung guru dari kecamatan sampai tingkat propinsi. Menariknya, konsensus pertama keberagaman kelompok siswa adalah faktor utama yang diperhatikan. Dalam sebuah konteks dimana anak mempunyai latar belakang sosial ekonomi, etnis, bahasa dan tingkat kemiskinan yang berbeda [mempengaruhi kemampuan mereka bersekolah], di India peningkatan pendaftaran telah menyadarkan anak-anak yang secara tradisi tidak pernah bersekolah seperti anak cacat, pekerja anak, kelompok imigran, anak perempuan dari masyarakat tertentu dan lainnya dari kelompok yang paling marginal. Kelas, pedagogi, kurikulum dan bahan pelajaran masih belum dapat menganggap pentingnya hubungan keragaman ini, sebagai akibatnya mereka yang paling mendapat keuntungan, adalah yang mengorbankan yang lemah, dan kualitas pendidikan secara keseluruhan tetaplah buruk.
Standar-Standar Performa yang muncul
Sebuah ciri khusus dari ADEPTS adalah menciptakan kepemilikan dan merubah cara yang ‘masuk akal’ dalam diskusi dengan para prakatisi. Dimulai dengan, sebuah pertemuan untuk menimbulkan bahwa tempat kerja guru yaitu sekolah adalah merupakan satu kesatuan penting dari hubungan dan proses. Berikutnya peserta dalam proses tersebut, termasuk guru-guru, terikat pada pertanyaan: ‘Apa yang kita inginkan untuk melihat yang sedang dikerjakan guru?’ Banyak jawaban yang muncul dari pertanyaan ini, dan yang penting dari keseluruhan itu adalah kesepakatan. Selama beberapa bulan daftar panjang ini telah disatukan kedalam empat aspek atau dimensi sekolah: fisik [atau menciptakan lingkungan fisik yang kondusif], kognitif [memungkinkan pembelajaran melalui interaksi], sosial [berpusat pada hubungan, etika] dan organisasional [sekolah sebagai sebuah badan, dalam kaitannya dengan masyarakat]. Melalui kegiatan ini, beberapa harapan muncul menjadi sejumlah kelompok atau kategori yang diberi judul sebagai ‘pernyataan standar’, dengan daftar yang mereka pegang sebagai indikatornya.
Disadari juga adanya indikator dengan kompleksitas yang berbeda-beda dan oleh karenanya tidaklah adil untuk mengharapkan seorang guru berusaha mencapai semuanya dalam waktu bersamaan. Ketika dieksplorasi, ada 4 tingkatan kinerja yang diharapkan, untuk itu keuntungan seorang pengawas dapat digunakan baik untuk mengukur kinerja juga membantu kemajuan guru melalui tingkatan yeng berturut-turut yang lebih baik.
Dengan kesepakatan yang luas terhadap harapan-harapan ini, tahap berikutnya adalah mengukur tingkat kinerja saat ini. Menggunakan hasil ini, tim pusat kemudian melaksanakan ‘kunjungan siswa ke negara bagian lain’ ke ratusan sekolah dan struktur-struktur pendukungnya. Di seluruh negeri, ada sebuah kesadaran bahwa kinerja guru di dalam kelas pada kenyataannya berada pada tingkat yang sangat rendah dan perlu untuk ditingkatkan secara dramatis. Ciri khusus dari proses ini adalah dimulai oleh mereka yang berada di dalam sistem daripada dari luar, menuju pengertian dan penerimaan serta keputusan yang lebih besar.
Membuat Perbaikan
Semua ini bagaimanapun juga adalah bagian yang mudah. Saat ini ada beberapa kejelasan akan kinerja yang ada dan yang diinginkan tentang, bagaimana perbaikan dapat disempurnakan? Beberapa kunci dasar yang disepakati dalam hal ini adalah sebagai berikut:
- Motivasi utama bagi para guru adalah mengalami kesuksesan di kelas. Dengan dimikian telah disepakati bahwa persyaratan minimum harus dipenuhi sebelum guru dapat diharapkan untuk menerapkan standar-standar.
- Guru berubah ketika melaksanakan standar tersebut dalam praktek daripada melalui teori. Diharapkan standar ini termasuk di dalam kursus in-service. Beberapa daerah sudah memperbaiki proses ini melalui input dari guru mereka.
- Ada masa di mana guru belajar [dan begitu juga halnya dengan institusi dan sistem]. Lebih baik apabila menghindari harapan yang berlebihan. Perbaikan oleh karenanya direncanakan dalam tahap pengembangan guru, dibagi fase triwulanan, di mana setiap fasenya mempunyai angka indikator yang sangat terbatas untuk dicapai [4-8]. Ketika guru mencapai satu indikator, memotivasi mereka dan juga mempersiapkan mereka ke fase berikutnya, yang lebih tinggi. Institusi pendukung juga bekerja sama dengan para guru dan berjalan berdampingan satu sama lain
- Standar dan indikator dapat cenderung rancu! Penting untuk mengubahnya ke dalam langkah nyata yang dapat diterapkan secara aktual oleh para guru. Demikian, jika sebuah indikator yang telah disepakati maka ‘anak-anak boleh bebas bertanya, tanpa ada rasa takut’ ada suatu kebutuhan untuk memperjelas apa yang perlu dilakukan seorang guru dengan tepat dalam hal seperti ini. Oleh sebab itu, sebagai bagian dari membuat perbaikan, seluruh tim memperinci langkah-langkah nyata yang terlibat dalam mengubah harapan menjadi tahap tindakan yang dapat dilakukan.
- Memilih pelaksana dan bekerjasama dengan guru adalah lebih seperti memberi hasil daripada meneruskan dalam satu bentuk instruksi. Dalam pertemuan daerah, para guru memilih indikator yang akan mereka capai [lebih dulu dari daftar indikator potensial yang diberikan untuk tahap tersebut] dan mengidentifikasi / membentuk tahapan yang diperlukan untuk mencapainya. Kinerja mereka akan dinilai terhadap indikator yang telah mereka pilih. Jika mungkin, penilaian murid akan dimasukkan.
- ‘Kumpulan target’ dalam syarat tahapan perbaikan performa sekarang dapat diterapkan. Para guru dan narasumber mereka dapat menggunakan dokumen standar untuk memperbaiki tahap perubahan yang mereka cari hasilnya, katakanlah dalam setahun atau 6 bulan.
- Mengambil pendekatan ‘sedikit campur tangan’ membantu menghilangkan tekanan pada sistem untuk mengubah kurikulum atau buku teks atau bahkan memperkenalkan model pengajaran yang baru. Hal ini lebih pada ‘mengerjakan hal yang sama seperti sebelumnya, tapi dengan sedikit perbedaan’; hal ini mengurangi tekanan pada sistem dan memungkinkan penerapan yang cepat.
Langkah pertama …
Dalam beberapa bulan, lebih dari 15 negara bagian di seluruh negeri baru-baru ini telah berinisiatif melaksanakan ADEPTS dalam cara yang berbeda memperbaiki pelatihan in-servis, mengadakan pertemuan tahap lokal para guru untuk memilih dan menerapkan standar, mengembangkan materi pendukung, dan hal-hal seperti itu. Adalah sangat dini untuk mengatakan seperti apa pengaruhnya. Bagaimanapun yang jelas adalah ada kesepakatan yang sangat besar dalam hal rasa memiliki pada setiap level, antusiasme dan kontekstualisasi [karena keluwesan yang melekat dalam pendekatan memungkinkan pelaksana untuk menyesuaikan usaha dalam situasi dan kebutuhan mereka sendiri]. Karena ide dari ADEPTS mendapatkan kesungguhan dan akar ‘kemenangan’ yang lebih, tentu saja mungkin langkah pertama yang terkenal dalam sebuah perjalanan panjang sebenarnya telah diambil.
Bapak Subir Shukla adalah Koordinator Nasional dari ADEPTS dan dapat dihubungi melalui email subir@hotmail.com
EENET asia Newsletters : Kwartal ke-4 2007 / Kwartal ke-1 2008
|