![]() |
EENET Asia Newsletter - Edisi ke-5 - Kwartal ke-4 2007 / Kwartal ke-1 2008 |
|
|
Bagaimana Kita Belajar Bersama? Sebuah Praktek Inklusi di Jepang Kentaro Fukuchi Salam hangat untuk setiap pembaca EENET Asia. Nama saya Kentari Fukuchi. Saya seorang mahasiswa tunanetra di Universitas Tsukuba. Latar Belakang Sekolah Dasar [SD] Dalam lingkungan pergaulan, saya mempunyai waktu yang menakjubkan; walaupun saya mempunyai beberapa masa sulit untuk ikut serta dalam permainan bola. Saya takut untuk bermain bola walaupun saya memiliki teman untuk membimbing saya. Jadi saya ikut serta dalam banyak permainan di mana saya dapat berpartisipasi dengan baik. Dart adalah salah satu contohnya. Anda mungkin berpikir bagaimana seorang anak yang buta dapat menembakkan dart ke sebuah sasaran? Saya menyentuh dan mengenali lokasi sasarannya dulu, dan kemudian saya mundur dengan hati-hati. Sebelum saya lupa lokasinya, saya melemparkan anak panah ke arah sasaran. Saya juga ikut dalam membangun sebuah rumah kayu, bermain kartu Braille dan lain-lain. Sekolah Menengah Pertama [SMP] Saya juga bertemu dengan contoh/model panutan di SMP. Dia adalah seorang mahasiswa tunanetra yang juga belajar di sekolah umum. Dia bertemu dengan orangtua saya melalui jaringan kerja para orangtua dengan anak tunanetra yang bersekolah di sekolah umum. Dia direkrut sebagai guru privat saya di rumah dan membantu saya dalam bidang matematika dan kimia karena keduanya membutuhkan kode Braille khusus. Dia dan saya berbagi keprihatinan khusus yang tidak dimengerti oleh teman saya yang awas. Sebagai contoh, kami bicara tentang betapa sulitnya untuk mulai berbicara di sebuah kelompok besar atau untuk mengenali orang hanya dengan suara mereka. Ketika saya bepergian dengan kereta api bersamanya, saya belajar bagaimana cara meminta tolong pada orang lain di stasiun. Semasa sekolah saya, saya menjabat sebagai ketua komisi siswa. Yang merupakan sebuah pengalaman penting bagi saya karena anak cacat yang bersekolah di sekolah umum tidak selalu mendapat kesempatan untuk mengemban tanggung jawab, yang membuat mereka hanya sebagai “tamu” di sekolah mereka sendiri. Setiap anak perlu belajar untuk menerima tanggung jawab meskipun jika anak itu cacat sekalipun. Sekolah Menengah Atas [SMA] Kehidupan Kampus Pada Agustus 2005, saya belajar selama 1 tahun di Universitas Georgetown, Amerika Serikat [AS]. Saya terkejut mengetahui bahwa ada beberapa kesulitan umum yang dialami oleh anak-anak Latin dan anak-anak cacat. Sebagai contoh, membentuk identitas adalah sebuah tantangan baik bagi pelajar berbahasa asing yang bersekolah di sekolah berbahasa Inggris juga bagi anak-anak tunarungu yang bersekolah di sekolah umum. Selama saya berada di AS, saya magang di Independent Living Center sebagai konselor teman sebaya. Hal ini mengajarkan saya betapa pentingnya dukungan teman sebaya dan model panutan bagi orang-orang dengan kecacatan untuk membuat hidup mereka berharga di masyarakat. Pada kenyataannya hal ini juga terjadi pada pelajar dari etnis minoritas. Ada sebuah pusat komunitas bagi kaum muda Latin yang diatur oleh sukarelawan dari Komunitas Latin. Pengalaman ini menarik saya untuk memunculkan konsep pendidikan inklusif; mengikutsertakan semua anak, tidak terbatas pada anak-anak cacat. Mulai bulan Juni ke depan, saya akan bekerja di Palang Merah dan ingin mengembangkan pengertian saya terhadap anak-anak dengan atau tanpa kecacatan di daerah bencana dan bagaimana meningkatkan pendidikan mereka. Konseptualisasi Pendidikan Inklusif Untuk itulah, saya percaya bahwa pendidikan inklusif adalah proses untuk mengembangkan sebuah sistem yang membiarkan semua anak belajar bersama dengan terpenuhi kebutuhan untuk belajar dari masing-masing anak. Tidak hanya berarti menempatkan anak-anak dalam kelas umum atau memisahkan mereka hanya karena nilai akademis atau pelatihan aktivitas sehari-hari. Kedua unsur yaitu; memenuhi kebutuhan belajar tiap individu, dan menciptakan lingkungan yang memungkinkan bagi mereka semua adalah inti dari pendidikan inklusif. Sebagai pengaruh sosial, saya percaya bahwa pendidikan inklusif dapat menciptakan lingkungan yang inklusif dengan memperkenalkan pemahaman yang saling menguntungkan. Salah seorang dari teman saya semasa sekolah ingin menjadi perancang untuk menciptakan pakaian yang akan dikagumi oleh orang lain, termasuk mereka yang mengalami cacat penglihatan. Para siswa yang memilih saya menjadi ketua mungkin telah terpengaruh oleh filosofi dari pendidikan inklusif. Guru kesenian saya berkata “Jika kelas ini dapat diakses oleh Kentaro, berarti juga terbuka bagi semua”. Untuk menyadari pendidikan inklusif, seluruh sistem pendidikan harus direformasi, Pelatihan guru, jaringan kerja orangtua-guru, kerangka kerja institusional, dan juga dukungan adalah semua yang diperlukan untuk mengikutsertakan semua anak ke dalam sistem pendidikan umum. Akhirnya, saya ingin menyampaikan rasa penuh terima kasih saya kepada orangtua, para guru, sukarelawan, dan teman-teman yang memungkinkan saya untuk belajar dan mengembangkan kehidupan saya. Dengan satu harapan untuk sebuah masyarakat yang inklusif. Terimakasih banyak. Bpk. Kentaro Fukuchi dapat dihubungi melalui email: dir@fox.zero.ad.jp atau alamat surat: 2-7-3-302 Nishifunahashi Hirakata; Osaka; Japan; 573-1122
EENET asia Newsletters : Kwartal ke-4 2007 / Kwartal ke-1 2008
|
|
|