Untitled Document
IDP Norway

EENET Asia Newsletter - Edisi Keempat-

Juni 2007

EENET Global
Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]


EENET asia Newsletters : Edisi Keempat Juni 2007

Pengetahuan dan Pendidikan Pribumi

‘Kita perlu menemukan cara-cara inovatif tentang bagaimana meneruskan Pengetahuan Pribumi kita kepada generasi-generasi baru jika kita tidak ingin kehilangan pengetahuan tersebut’

Ini adalah salah satu kekhawatiran yang disuarakan oleh para Praktisi Pribumi dalam Konferensi Regional Pendidikan Pribumi di Maehongson, Thailand. Ini juga merupakan salah satu tantangan utama yang disuarakan di berbagai kelompok kerja; Pertanian Rotasi, Obat-obatan Penyembuh dan Herbal, Bibit-bibit Pribumi, yang difasilitasi oleh Jejaring IKAP (Orang-orang dan Pengetahuan Pribumi).

Lebih dari 40 Praktisi Pribumi dari 6 negara jaringan bertemu pertama kalinya dan berbagi Sistem Penularan Pengetahuan Pribumi mereka sendiri dengan satu sama lain. Mereka juga mendiskusikan pengalaman-pengalaman mereka dalam merevitalisasi lembaga-lembaga tradisional dan menemukan cara-cara bagaimana melibatkan Pengetahuan Pribumi ke dalam kurikulum sekolah modern. Banyak kemitraan dengan sistem pendidikan nasional melampaui dari sekadar terlibat dalam inisiatif-inisiatif pendidikan bilingual yang berbasis bahasa ibu. Ini juga meliputi penularan sistem keyakinan, sejarah, kecakapan untuk mata pencaharian, seni dan kerajinan.

UNESCO-Bangkok membagikan toolkit untuk ‘Pendidikan Inklusif’ dan ‘Pendidikan Multilingual’ dan Kantor Pendidikan Propinsi Maehongson dalam proyek ‘Sekolah Alternatif untuk Anak-anak Kurang Beruntung’.

Para peserta sepakat bahwa hambatan-hambatan yang paling umum untuk penularan Pengetahuan Pribumi adalah pada umumnya masyarakat (khususnya anak muda) semakin kurang menghargai Pengetahuan Pribumi dan bahwa sikap, kebijakan, hukum dari pemerintah nasional dan kelompok mayoritas etnis tidak didukung.

Pendidikan Pribumi tidak hanya terbatas pada pengetahuan ‘traditsional’, tapi juga harus dipahami sebagai Cara-cara Pribumi untuk meneruskan pengetahuan ‘baru’.

Sebuah komponen penting konferensi tersebut adalah untuk mengunjungi kegiatan-kegiatan Pendidikan Pribumi di masyarakat setempat Karen dan Lua. Kunjungan-kunjungan lapangan tersebut memberikan kesempatan untuk belajar aspek-aspek lain dari kehidupan orang pribumi lokal serta dari aliansi-aliansi baru.

Suara-suara utama dari peserta adalah:

  • Orang Pribumi tidak cukup tahu tentang kebijakan, hukum, program pemerintah yang ada
  • Minat yang rendah terhadap Pengetahuan Pribumi di antara anak dan remaja
  • Alokasi waktu terbatas dan pentingnya Pengetahuan Pribumi di kurikulum sekolah membuat guru memutuskan untuk meninggalkan bagian kurikulum ini
  • Kurangnya guru-guru yang berbicara bahasa pribumi
  • Banyak organisasi yang mendukung promosi Pengetahuan Pribumi di dalam dan di luar sistem pendidikan, namun praktek-praktek terbaik hampir tidak diketahui oleh Orang-orang Pribumi yang Bersangkutan

Di hari terakhir peserta menyampaikan kebutuhan-kebutuhan dan ide-ide mereka tentang sistem penularan Pengetahuan Pribumi:

  • Mendokumentasikan dan berbagi praktek-praktek terbaik di antara Orang-orang Pribumi di Wilayah tersebut
  • Buku Panduan tentang Revitalisasi Pendidikan Pribumi untuk Orang-orang Pribumi
  • Melaksanakan sosialisasi dan advokasi regional untuk Pendidikan Pribumi
  • Menyediakan kesempatan pendanaan dan dukungan teknis untuk Orang-orang Pribumi yang tertarik dalam meluncurkan inisiatif-inisiatif mereka sendiri
  • Kolaborasi lebih banyak dengan pemerintah untuk memperkuat hukum-hukum dan kebijakan-kebijakan yang ada
  • Menggunakan Teknologi Informasi yang modern untuk promosi Pengetahuan Pribumi kepada anak-anak dan remaja
  • Mengenali hak-hak masyarakat untuk mengelola pendidikan
  • Membuat sebuah data base dan situs web untuk bahan-bahan belajar dan informasi tentang nara sumber dengan link pada situs web
  • Semua komunitas masyarakat memang mempunyai nara sumber pribumi namun mereka membutuhkan dukungan teknis dalam metodologi pedagogis baru
  • Menerjemahkan publikasi dan buku panduan yang ada ke bahasa-bahasa pribumi
  • Menciptakan kesempatan-kesempatan seperti magang untuk belajar dan berbagi

IKAP akan mengelola sebuah Konferensi Regional 5-hari mengenai ‘Penularan antar Generasi Kecakapan dan Pengetahuan Pribumi’. Informasi lain tentang kegiatan ini dan tentang IKAP bisa dicari pada www.ikap-mmsea.org atau dengan menghubungi secretariat@ikap-mmsea.org.

Untuk information lebih lanjut hubungi Bapak Marc Wetz [marcwetz@yahoo.com]. Beliau bekerja di Wilayah ini di bidang Pendidikan Dasar yang Berkualitas dan Masyarakat yang Ramah Anak dan terlibat dalam IKAP.

 

EENET asia Newsletters : Edisi Keempat Juni 2007

 

Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]
optimized for a resolution of 1024x768
idp - international development partners