![]() |
EENET Asia Newsletter - Edisi Keempat- Juni 2007 |
|
|
Memberdayakan Guru untuk Advokasi Inklusi Vandana Saxena Sarika, seorang lulusan Paska Sarjana bidang Fisika, adalah peserta yang riang, ceria dan aktif di kelas pendidikan fisika. Dia memiliki keingintahuan yang tinggi, sering bertanya dan dengan bebas berbagi pendapat tentang beragam isu yang muncul selama diskusi kelas. Segera tibalah waktunya bagi kelompoknya untuk pergi ke sekolah dalam program praktek mengajar. Di sana mereka harus mengajar mata pelajaran bersama dengan tugas-tugas observasi dan analistis lainnya. Seperti orang lain, Sarika grogi tapi juga senang. Dia pergi ke sekolah dan mendapatkan kelas IX dan X untuk mengajar fisika. Biasanya hari-hari awal dianggap periode penyesuaian dan kelas pendidikannya penuh dengan diskusi yang hidup. Siswa-guru mengadopsi beragam strategi penyesuaian, tapi Sarika ternyata diam, sampai setelah beberapa hari dia meminta guru pendidikannya meluangkan waktu pribadi. Selama pertemuan inilah dia mendiskusikan dua pembelajar dengan kesulitan penglihatan di kelasnya. Dia khawatir. Dia tidak mempunyai pengalaman pribadi dengan orang-orang cacat. Tidak ada pula teman sekelas atau tetangga yang cacat. Guru reguler mengatakan padanya agar tidak merasa terganggu dengan mereka, lagipula siswa yang cacat mengikuti sekolah khusus di petang hari. Ini dianggap aneh oleh Sarika. Dia berkomitmen menciptakan lingkungan belajar yang sesuai untuk semua siswa di kelasnya. Dia bekerja keras untuk semua siswa di kelasnya, tanpa mengurangi kualitas. Pada akhir praktek mengajarnya dia tidak hanya menjadi praktisi yang lebih efektif tapi juga manusia yang lebih baik. Siapapun akan tergoda untuk bertanya tentang pengalaman ini. Mengapa dan bagaimana Sarika memulai mengajar anak-anak berkebutuhan khusus? Apakah dia merasa terlalu terbebani? Dalam waktu yang pendek dari praktek mengajarnya, 35 hari yang tersebar dalam tiga bulan, dapatkah dia benar-benar belajar dan merencanakan sesuatu yang berguna dan efektif? Apakah dia mendapatkan manfaat untuk kehidupan profesionalnya di masa depan? Pertanyaan ini hanyalah sebagian saja dari pertanyaan-pertanyaan utama. Proses Inisiasi: Bangunan yang baru-baru ini direnovasi di lembaga training guru Sarika masih menggunakan tangga untuk membantu orang tersebut mencapai lantai pertama bangunan. Bangunan ini tidak ada lerengan dan tidak ada satu toiletpun yang bisa diakses pengguna kursi roda. Koridor-koridor yang baru dibangun tidak memiliki indikator untuk siswa yang kesulitan melihat. Ketetapan-ketetapan sederhana ini akan memberikan kesempatan kepada kelompoknya untuk menguasakan inklusi di bagian lain kehidupan mereka dalam posisi pengambilan keputusan. Menurut sensus 2001, sekitar 3 % orang dari populasi total di India memiliki kecacatan dengan derajat berbeda-beda. Ini mengisyaratkan bahwa di suatu kelas berjumlah 60 siswa akan ada maksimum dua anak cacat. Inklusi jelaslah tidak akan membuat kelas penuh dengan anak-anak cacat. Mengeksplorasi kemungkinan pemberdayaan guru Program pelatihan guru yang ada adalah untuk satu tahun akademik. Mahasiswanya dilibatkan dalam serangkaian kegiatan dan praktek lapangan yang memampukan mereka untuk merencanakan beragam pengalaman kurikuler dan ko-kurikuler untuk siswa mereka di sekolah. Fokusnya sampai sekarang seting sekolah reguler non-inklusif dengan beberapa ketetapan yang terpisah-pisah untuk juga mendiskusikan anak-anak berkebutuhan khusus melalui bagian kecil mata kuliah inti dan mata kuliah lainnya yang dipilih oleh sebagian 5-7% dari total kelompok mahasiswa tiap tahun. Selain itu, tingkat pengetahuan dan kecakapan pendidik guru dalam metodologi inklusif sangatlah penting. Jika inklusi diadopsi sebagai suatu filosofi lembaga kemudian bahkan di dalam kerangka waktu yang diberikan, guru dapat disiapkan untuk kelas-kelas inklusif. Mata kuliah dasar akan memampukan guru masa depan ini dalam merujuk isu-isu terkait dengan keragaman di kelas; kursus pendidikan akan mempersiapkan mereka dalam merencanakan proses-proses kelas yang inklusif dan praktek lapangan akan menempatkan mereka dalam dunia yang nyata. Dan kemudian inklusi akan menjadi cara hidup yang menanamkan nilai-nilai damai dalam diri kita, yang membantu pengembangan diri, membawa kita kepada hari esok yang lebih harmonis dan responsif terhadap keragaman. Maka kita akan siap untuk melakukan advokasi Inklusi. Sarika membuat intervensi sederhana tapi efektif. Dia belajar menggunakan printer Braille, menyiapkan tugas-tugas berdasarkan kebutuhan, menggunakan peer tutor dan membuat beberapa modifikasi dalam kertas pertanyaan untuk penilaian akhir semester. Semua intervensi ini terbukti efektif untuk semua siswanya termasuk yang mengalami kesulitan penglihatan. Ya, dia memang banyak mengeluh tapi bahkan keluhannya pun lebih inklusif daripada teman-teman sekelasnya, dia tidak bekerja lebih banyak tapi dia mengelola sumber daya manusia dan materi dengan lebih baik untuk mengoptimalkan pembelajaran menurut kemampuan, menurut kebutuhan siswanya. Ibu Vandana Saxena adalah sebuah anggota fakultas di Institut Pendidikan Pusat, Universitas Delhi, India. Dia secara aktif terlibat dalam pengajaran dan penelitian di bidang pendidik khusus dan pendidik sains selama lima belas tahun. Dia dapat dihubungi pada vsaxena78@hotmail.com atau
EENET asia Newsletters : Edisi Keempat Juni 2007
|
|
|
| optimized
for a resolution of 1024x768 idp - international development partners |