Untitled Document
IDP Norway

EENET Asia Newsletter - Edisi Keempat-

Juni 2007

EENET Global
Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]


EENET asia Newsletters : Edisi Keempat Juni 2007

Sekolah Hewan: Sebuah Fabel

George Reavis


Pada suatu waktu hewan-hewan memutuskan untuk melakukan aksi heroik untuk menjawab masalah-masalah di “dunia baru” maka mereka mengelola sekolah. Mereka telah mengadopsi sebuah kurikukulum kegiatan yang terdiri dari berlari, memanjat, berenang dan terbang. Untuk mempermudah pengelolaan kurikulum tersebut, semua hewan mengambil semua mata pelajaran.

Si bebek sangat hebat dalam berenang. Bahkan, lebih baik dari instrukturnya. Tapi dia hanya mendapatkan nilai pas-pasan dalam terbang dan sangat buruk dalam berlari. Karena dia lambat dalam berlari, dia harus tinggal di sekolah usai jam pelajaran dan juga meninggalkan berenang untuk berlatih lari. Ini terus dilakukan sampai kakinya sangat kecapaian dan kemampuan dia dalam berenang hanya rata-rata saja. Kemampuan rata-rata diterima di sekolah sehingga tidak ada yang khawatir mengenai hal tersebut kecuali si bebek itu sendiri.

Si kelinci mulai dengan peringkat tertinggi di kelas dalam berlari tapi dia sakit karena kecapaian karena banyak pekerjaan tambahan dalam berenang.

Si tupai sangat hebat dalam memanjat sampai dia menjadi frustasi di kelas terbang karena gurunya membuat dia memulai dari tanah ke atas bukan dari atas pohon ke bawah. Dia juga mempunyai “kram” di kakinya karena kelelahan akibat bekerja keras dan kemudian mendapat nilai C untuk panjat dan D untuk lari.

Si elang adalah seorang anak yang bermasalah dan didisiplinkan dengan sangat parah. Di kelas memanjat, dia mengalahkan yang lain sampai ke atas pohon tapi bersikeras menggunakan caranya sendiri untuk mencapai ke sana.

Pada akhir tahun, si belut yang dapat berenang dengan sangat baik dan juga berlari, memanjat dan terbang sedikit di atas rata-rata dan menjadi siswa terbaik.

Si anjing liar tidak bersekolah dan menentang pemungutan pajak karena administrasi tidak menambahkan penggalian dan pembuatan liang ke dalam kurikulum. Mereka mengirimkan anak-anak mereka untuk magang kepada seekor cerpelai dan kemudian bergabung dengan marmut dan tikus tanah untuk memulai sekolah swasta yang sukses.

Apakah fabel ini mempunyai moral?

EENET asia Newsletters : Edisi Keempat Juni 2007

 

Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]
optimized for a resolution of 1024x768
idp - international development partners