Untitled Document
IDP Norway

EENET Asia Newsletter - Edisi Keempat-

Juni 2007

EENET Global
Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]


EENET asia Newsletters : Edisi Keempat Juni 2007

Layanan Kesehatan Mata sebagai Prasyarat untuk Keberhasilan Inklusi

Karin van Dijk dan Agus T. Riyanto

Semua anak berbeda, tapi mereka semua mempunyai kebutuhan untuk cinta kasih, asuhan, nutrisi, pendidikan dan hubungan pertemanan. Menerima bahwa anak tidak belajar hal yang sama dengan cara dan hasil yang sama mengakui kebutuhan individu. Kebanyakan anak yang dianggap berbeda tidak membutuhkan pendidikan khusus tapi pendidikan yang lebih fleksibel dan individual. Terkait dengan itu, pendidikan inklusif adalah mengenai kebijakan dan praktek diskriminatif yang menantang, apakah itu berkaitan dengan jender, etnis, bahasa, agama, HIV dan AIDS, status sosial atau kecacatan. Lingkungan belajar haruslah terbuka untuk semua anak, sambil mengusung rasa hormat, menghargai, toleransi dan penerimaan segala bentuk keragaman. Oleh karenanya penting bahwa tiap anak ketika mulai masuk sekolah pertama kalinya dinilai tahap perkembangannya dan untuk mengidentifikasi kemungkinan hambatan belajar - misalnya penyakit kronis, kurang gizi, masalah dengan pendengaran atau penglihatan - sedini mungkin. Ini akan membantu guru dan sekolah untuk merespon kebutuhan (belajar) individu anak.

Mengapa akses terhadap layanan kesehatan mata itu suatu keharusan untuk pendekatan pendidikan inklusif yang sukses dan lebih inklusif: Contoh dari India dan Nepal

Banyak orangtua dan guru mendukung inklusi anak berkebutuhan khusus di sekolah setempat, dan banyak waktu dan upaya dengan tepat diberikan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif. Artikel ini menyoroti mengapa sangat penting bagi banyak anak berkebutuhan khusus untuk mengikuti layanan kesehatan mata agar lebih siap untuk pendidikan yang berhasil.

Setiap anak berhak mendapatkan layanan periksa mata
Saya menganalisa data dari 4 rumah sakit mata selama tahun 2002 dan 2003. Data tersebut meliputi 729 anak, dengan usia 4-15 tahun. Saya menampilkannya di sini untuk menyoroti pentingnya anak-anak yang mengalami masalah penglihatan mengakses layanan mata sebelum masuk sekolah.

Hampir semua anak mengikuti pendidikan formal. 29% didukung oleh program inklusif dan/atau layanan kunjung dan 50% mengikuti sekolah setempat tanpa menerima dukungan tambahan apapun, 21% mengikuti SLB. Sekitar setengah dari mereka menggunakan huruf awas dan 22% Braille. Banyak berjuang untuk belajar: 26% adalah buta huruf. Mereka sangat tergantung mendengarkan guru dan teman sekelasnya!

Tabel 1 membagi anak-anak menjadi 3 kelompok dalam hal penglihatan jarak terbaiknya. Anak-anak yang low vision sedang cenderung mampu menggunakan huruf awas, membaca papan tulis dari barisan pertama dan membutuhkan sedikit bantuan ekstra di sekolah setempat. Mereka yang memiliki low vision yang berat menggunakan alat bantu pembesar untuk membaca huruf awas dan sebagian mungkin perlu menggunakan Braille, sedangkan kebanyakan akan membutuhkan bantuan ekstra secara rutin dari guru dan teman sekelas.

Table 1: Penglihatan jauh sebelum dan setelah pemeriksaan mata

Jarak Penglihatan
Sebelum cek mata
Sesudah cek mata
Di bawah 6/60 [severe]
55%
37%
6/60 sehingga 6/18 [mild]
37%
50%
6/18 sehingga 6/12 [good]
7%
13%

Pemeriksaan mata menunjukkan bahwa jarak penglihatan banyak anak dapat diperbaiki dengan kacamata untuk melihat jauh. Sebagian anak memerlukan bedah mata. Sebelum pemeriksaan mata 76% anak tidak mempunyai kacamata yang dapat digunakan; akibatnya 53% menerima resep untuk kacamata.

Peningkatan serupa dilihat dari penglihatan dekat - digunakan untuk tugas seperti membaca dan menulis. Intervensi klinis memberikan akses visual untuk huruf awas kepada 91% anak. Kebanyakan peningkatan dalam penglihatan dekat terjadi karena penggunaan kacamata jarak jauh. Selain itu, 25% diresepkan alat bantu pembesar; kebanyakan alat bantu ini (92%) tersedia secara lokal, memerlukan biaya sebesar US$ 5.

Banyak anak dapat meningkatkan penglihatan dekat dan jauh, melalui asesmen mata klinis, yang dapat dilakukan di bagian pemeriksaan mata di rumah sakit. Selain itu, suatu klinik low vision yang khusus dapat mengakses kebutuhan akan alat pembesar.

Dengan melakukan pemeriksaan mata kurang dari setengah ceritanya
Pertama, semua anak harus memeriksakan mata. Orangtua dan sekolah menyebutkan biaya sebagai alasan untuk tidak memfasilitasi ini. Namun, ongkos transportasi, biaya rumah sakit dan pembelian sepasang kacamata dibandingkan akan lebih baik biaya jangka panjang untuk pembesaran huruf cetak menggunakan mesin fotokopi, untuk penggunaan Braille yang tidak diperlukan, untuk pendidikan di sekolah luar biasa atau bantuan yang tak diperlukan untuk guru kunjung.

Kedua, penting bagi anak memperoleh intervensi yang direkomendasikan. Saran untuk melakukan pembedahan dan resep untuk kacamata dengan sendirinya tidak memperbaiki penglihatan!

Hambatan untuk penyediaan layanan mata atau low vision adalah kurangnya kerja sama antara program layanan kesehatan mata dan pendidikan/ rehabilitasi. Tiap pihak meyakini bahwa pihak lain akan mengorganisir anak-anak untuk pemeriksaan mata dan memastikan anak-anak memperoleh operasi dan/atau kacamata yang diperlukan. Kedua pihak menunggu satu sama lain untuk bertindak. Pengalaman mengajarkan bahwa paling baik jika penyedia layanan kesehatan mata bertanggung jawab untuk mengelola akses terhadap pengecekan kesehatan dan intervensinya. Dalam situasi dimana program layanan kesehatan mata tidak dapat mengelola ini, program pendidikan dapat mengembang tanggung jawab untuk ini dengan sukses.

Yang ketiga, mendapatkan operasi, kacamata atau alat bantu bukanlah cerita seluruhnya. Selain itu, guru dan orangtua harus dorong dan melatih anak-anak untuk menggunakan penglihatannya sebanyak mungkin.

Inklusi yang sukses cenderung ketika anak mempunyai penglihatan terbaiknya
Hanya setelah intervensi kesehatan mata anak-anak dapat menikmati penglihatan terbaiknya dan karenanya juga pengalaman pendidikan yang lebih baik. Banyak anak, yang buta huruf dan/ atau menggunakan Braille sebelum memperoleh intervensi kesehatan mata, setelah itu dapat belajar membaca dan menulis. Anak-anak yang setelah itu mempunyai penglihatan low vision yang ringan dapat dididik dengan teman sebaya mereka di sekolah setempat, dan hanya memerlukan cek penglihatan tahunan dan minimum bantuan ekstra. Anak-anak yang setelahnya mempunyai penglihatan normal tidak perlu masuk sekolah luar biasa atau menghamburkan sumber daya yang terbatas yang ada untuk mendukung program sekolah inklusif.

Ibu Karin van Dijk adalah seorang spesialis dan konsultan low vision untuk CBM dan Dark and Light Blind Care. Dia dapat dihubungi lewat email: kvdijknl@yahoo.com atau alamat: Karin van Dijk, Metsustraat 4, 7412 GK Deventer, The Netherlands

 

 

Unit Low Vision PERTUNI - Hak Anak atas Layanan Low Vision yang Berkualitas

Unit Low Vision PERTUNI [Persatuan Tunanetra Indonesia] di Jakarta dan Yogyakarta menawarkan layanan komprehensif yang melibatkan praktisi medis (dokter mata), ahli optik, spesialis pendidikan dan rehabilitasi, aktifis kecacatan dan kelompok masyarakat lainnya. Tujuannya adalah untuk mengoptimalisasi fungsi visual sehingga anak-anak akan mampu menggunakan penglihatan mereka dalam belajar dan aktifitas sehari-hari. Pusat Low Vision menyediakan bantuan low vision dalam membentuk sistem rujukan berbasis sekolah dan masyarakat. Kami bekerja dengan Puskesmas dan Pusat Layanan Kesehatan Mata di rumah sakit swasta dan negeri. Isu-isu yang telah kami alami ketika membentuk pusat layanan low vision di tingkat lokal dan nasional adalah isu kesehatan, pendidikan dan sosial. Alasan mengapa banyak program low vision tidak selalu berjalan baik adalah karena kita tidak mempunyai data yang memadai tentang anak-anak low vision. Ketika tidak ada data, tidak akan ada aksi dan tidak ada program.

Ada lembaga-lembaga di masyarakat setempat bersedia mengambil inisiatif dengan penyediaan layanan dan membangun kerja sama dengan organisasi berbasis masyarakat. Namun layanan di masa lalu sering kali kurang optimal untuk anak-anak dalam hal kualitas medis, rehabilitasi dan pendidikan. Contohnya adalah kurangnya paska pembedahan atau operasi katarak, anak-anak tidak diberikan alat koreksi atau intervensi yang tepat karenanya penggunaan dan peningkatan penglihatan yang penuh tidak dicapai dan proses belajar siswa di sekolah luar biasa atau sekolah umum terkena dampak yang berlawanan.

Untuk menciptakan layanan berkualitas kami menyediakan deteksi dan intervensi dini untuk masalah penglihatan, bantuan medis (asesmen mata dan operasi jika perlu), rujukan kepada dokter mata di rumah sakit dan layanan low vision seperti: asesmen klinis (menggunakan alat optik/non optik), asesmen fungsional, training penggunaan alat low vision, penglihatan efektif dan orientasi dan mobilitas serta saran bagi orangtua, guru kelas atau guru sumber dan ahli terapi. Asesmen fungsional yang dilakukan oleh instruktor low vision bertujuan untuk menentukan apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan oleh anak dengan penglihatan optimalnya. Hasil asesmen akan menentukan apakah anak memerlukan training untuk penggunaan alat bantu, baca tulis Braille atau kombinasi keduannya dan jika sebuah modifikasi lingkungan diperlukan. Untuk mencapai hasil yang terbaik, kunjungan reguler ke sekolah oleh seorang instruktur dan/atau ahli optik diperlukan untuk mengetahui situasi nyata di kelas. Oleh karena itu, ini memerlukan kerja tim dengan guru kelas, guru sumber dan teman sebaya siswa. Layanan low vision adalah proses berlanjut, layanan tindak lanjut karenanya diperlukan, monitoring dan evaluasi kondisi visual dengan cek up rutin oleh dokter mata, evaluasi rutin untuk penglihatan fungsional (jika diperlukan memerlukan penjadwalan yang baik dan tindakan yang terstruktur.

Tujuan layanan kami adalah untuk memampukan anak dengan low vision untuk menggunakan sisa penglihatannya secara optimal dan mandiri baik dikelas maupun dalam kehidupannya dengan teman sekelasnya.

Di era desentralisasi sekarang ini, partisipasi pemerintah lokal diperlukan. Jika kita melihat pada SLB untuk anak tunanetra, hampir 50% anak memiliki low vision. Kita bisa juga temukan banyak anak dengan low vision di SLB untuk anak tunagrahita. Jadi pemerintah kita tidak lagi dapat menjustifikasi penungguan sebelum mereka mulai memberikan dan mendukung layanan low vision untuk inklusi pendidikan dan sosial.

Bapak Agus Teguh Riyanto, koordinator Unit Low Vision PERTUNI di Jakarta dan Yogyakarta. Dia dapat dihubungi via email: lowvision_pertuni@yahoo.com atau via pos:
PERTUNI Low Vision Unit,
Jl. Poltangan No. 9 A Tanjung Barat
Jagakarsa - 12530 Jakarta Selatan, Indonesia

 

EENET asia Newsletters : Edisi Keempat Juni 2007

 

Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]
optimized for a resolution of 1024x768
idp - international development partners