Untitled Document
IDP Norway

EENET Asia Newsletter - Edisi Keempat-

Juni 2007

EENET Global
Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]


EENET asia Newsletters : Edisi Keempat Juni 2007

Aksesibilitas Fisik dan Pendidikan

Kang Sophal dan Sue Fox

Aksesibilitas berarti bahwa setiap orang memiliki akses yang sama pada lingkungan yang dibangun, pada pilihan dan jenis alat transportasi, dan pada alat komunikasi. Semua aspek asksesibilitas ini seharusnya tidak diskriminatif. Bagi sebagain sekolah di negara-negara berkembang, memiliki aksesibilitas fisik dapat berarti memiliki akses pada beragam fasilitas toilet dasar, akses pada bangunan sekolah dan akses pada suplai air dan akses pada papan tulis dalam ruangan kelas.

Handicap International (HI) di Kamboja telah mengimplemantasikan proyek pendidikan inklusif di 2 kabupaten di propinsi Battambang. Proyek ini bertujuan memampukan anak dan remaja mendapat akses pada pendidikan dasar berkualitas, terutama, untuk anak-anak penyandang cacat dan anak-anak rentan lainnya sehingga mereka menikmati hak yang sama dengan teman mereka, termasuk hak untuk berperan serta. Proyek pendidikan inklusif selama 3 tahun ini, sekarang berlangsung di 11 sekolah dasar dan di 19 desa yang berada di sekitar sekolah-sekolah ini dan selama tahun 2006, sebanyak 181 anak penyandang cacat (69 anak perempuan) dan 648 anak yang rentan (292 anak perempuan), di sekolah ataupun di luar sekolah, diindentifikasi di situs-situs proyek ini.

HI bekerja sama dengan banyak mitra seperti Departemen Pendidikan, Departemen Pemuda dan Olah Raga, Departemen Sosial, Rehabilitasi Veteran dan Pemuda, melatih dan meningkatkan kemampuan para guru dalam mengajar siswa dengan kebutuhan khusus. HI memfasilitasi perujukan resmi (referral) anak-anak kepada layanan medis dan pengobatan serta menyediakan beragam kegiatan aksesibilitas fisik seperti pembangunan lerengan atau ramps menuju ruangan kelas dan di dalam kelas dan juga lerengan yang menuju toilet sekolah. Lerengan ini menguntungkan semua anak terutama anak-anak penyandang cacat atau yang memiliki masalah mobilitas, serta kelompok lainnya yang mengakses sekolah dan yang mempunyai keterbatasan fisik (misalnya orangtua, ibu hamil, mereka yang sakit, dan para orangtua yang membawa anak-anak) sehingga mereka mampu bergerak dengan leluasa. Ini juga membantu menghilangkan diskriminasi prilaku dan lingkungan terhadap anak penyandang cacat.

Thnoeng Sokha seorang siswa kelas 4 di sekolah dasar Sre Anduong II, kabupaten Samlot berusia 16 tahun dan telah mengalami paraplegic sejak usia 5 tahun. Ia tinggal dengan ibunya dan 2 saudara kandungnya. Keluarga ini memperoleh penghidupan mereka dengan bertani dan juga menjadi buruh tani jika diperlukan. Sokha tidak pernah berfikir bahwa dia akan mampu bersekolah karena dia tidak bisa berjalan sendiri, rumahnya jauh dari sekolah (3 km) serta kondisi jalan menuju sekolah sangat buruk.

Melalui campur tangan dan dukungan HI dia memperoleh dua kursi roda dari Komite Internasional untuk Palang Merah (ICRC). Satu kursi roda dia simpan di rumah dan yang lainnya dia simpan di sekolah. Kursi roda yang telah memberikan Sokha kebebasan dan sarana sehingga dia mampu pergi ke sekolah dan adiknya atau teman-temannya membantu mendorong kursi rodanya ke sekolah dan kembali dari sekolah. Sebelumnya, dia harus melintasi sungai yang tidak memiliki jembatan, yang akan terasa semakin sulit karena licin dan becek selama musim hujan. Sekarang perjalanannya ke sekolah telah dipermudah karena masyarakat di sana telah membangun jembatan sederhana dari kayu untuk melintasi sungai tersebut dan jalan menuju sekolahnya juga telah diperbaiki. Dia juga menerima sepeda melalui proyek HI dan ini juga telah meningkatkan alat transportasinya ke dan dari sekolah. Guru-guru Sokha selalu memujinya karena dia adalah seorang siswa yang pintar dan rajin. Dia pandai dan berprestasi di sekolah dan biasanya selalu menjadi siswa nomor satu. Dia ingin menjadi guru suatu saat nanti ketika dia besar. Teman-teman mencintai Sokha, bermain bersamanya dan mereka tidak pernah membedakannya. Mereka selalu rela mendorong kursi rodanya selama waktu istirahat, dalam perjalanannya ke dan dari sekolah dan kapanpun dia harus pergi ke toilet.

Fasilitas sekolahnya telah membaik sekarang ini karena sebuah lerengan yang dapat diakses telah ditambahkan ke ruangan kelas. Sebuah blok toilet baru dengan lerengannya telah dibangun. Sokha sekarang lebih percaya diri dan berharap melanjutkan pendidikan dasarnya setelah dia menyelesaikan kelas 6 karena sekarang sebuah sekolah menengah sedang dibangun di tempat yang lebih dekat dengan rumahnya dan yang seharusnya dapat diakses penuh sesuai standar Menteri Pendidikan.

Keinginan-keinginannya akan dapat tercapai jika masyarakat, pemerintah setempat, LSM, dan pemberi sumbangan lainnya terus memfasilitasi dan mendukungnya dengan menyediakan materi dan dorongan untuk belajarnya dan kesejahteraannya di masa depan.

Bapak Kang Sophal adalah guru dan pengawas sekolah. Ia bekerja dengan HI sebagai asisten proyek [hianscampbtg@online.com.kh]
Ibu Sue Fox adalah Manajer Proyek Inclusive Education Program HI di Kamboja [suescamfox@yahoo.co.uk].
Alamat surat: Handicap International, PO Box 586, Boeung Keng Kang III, Phnom penh, Kamboja.
Telepon: 855 53 925 550; Fax: 855 53 952 563


EENET asia Newsletters : Edisi Keempat Juni 2007

 

Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]
optimized for a resolution of 1024x768
idp - international development partners