Untitled Document
IDP Norway

EENET Asia Newsletter - Edisi Keempat-

Juni 2007

EENET Global
Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]


EENET asia Newsletters : Edisi Keempat Juni 2007

Satu per Satu

Jenelle Thornton

Kantor tempat saya bekerja berada di tengah-tengah ladang kecil dengan lantai tanah, tak ada listrik dan sumber daya minimum. Ketika saya duduk di meja saya, disapa oleh kerbau yang menyerudukkan kepalanya melalui jendela yang terbuka bukanlah hal yang aneh. Saya seorang guru sekolah dasar dari Australia, direkrut untuk 2 tahun untuk bekerja sebagai penasehat pendidikan di 2 kabupaten di daerah terpencil Barat Daya Kamboja, sebagai seorang relawan dengan VSO [Voluntary Service Overseas], mengerjakan sebuah proyek yang disebut ‘Pendidikan Inklusif Mainstreaming’, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan aksesibilitas pendidikan dasar di 6 propinsi pedesaan Kamboja, dengan memberikan perhatian khususnya kepada anak perempuan, anak penyandang cacat dan minoritas etnis.

Kunjungan awal saya ke sekolah membuat kepala saya berputar-putar dengan banyak kesan dan pertanyaan. Mengapa anak berusia 18 tahun berada di kelas 3? Berapa kali mereka mendengarkan pelajaran yang sama? Mengapa mereka tidak dinaikkan ke kelas berikutnya? Mengapa sebagian anak memiliki sebuah pensil dan buku-buku untuk menulis sedangkan yang lain tak punya apa-apa? Mengapa guru terus menerus meminta pada anak laki-laki di kelas untuk menjawab pertanyaan di buku teks? Anak-anak perempuan sering tak diperhatikan begitupun dengan anak-anak dari minoritas etnis. Berapa banyak anak penyandang cacat dikurung di rumah karena kurangnya kursi roda atau penopang, atau disembunyikan karena malu? Mengapa pekerjaan menyalin papan tulis menjadi kegiatan belajar utama? Siapakah anak-anak usia sekolah yang mengintip di jendela? Mengapa mereka tidak bersekolah? Luapan rasa tumpah ruah untuk berkata-kata. ‘Satu per satu’ adalah peribahasa Khmer - intinya berarti bekerja dalam langkah-langkah kecil yang bisa dikelola. Penting untuk mengingat bahwa pembangunan yang berkelanjutan memerlukan waktu, implementasi secara seksama dan kesabaran.

Berefleksi ke tahun lalu, mengesankan memang melihat langkah-langkah yang telah diambil oleh otoritas Khmer dalam upaya mencapai tujuan proyek. Sebuah komponen utama adalah pelatihan guru dalam metodologi ‘Ramah Anak’, termasuk teknik Manajemen Kelas untuk guru-guru dalam membantu mereka mengelola kelas yang padat secara konstruktif; membantu sekolah-sekolah menggunakan lingkungan setempat untuk mencari sumber sebagai alat bantu belajar. Misalnya, menunjukkan kepada guru-guru berbagai cara menggunakan batu atau stik dalam pelajaran matematika, atau menggunakan kayu daur ulang dan kecakapan penduduk desa setempat untuk membangun perpustakaan outdoor yang aksesibel untuk semua siswa.

Training Kepemimpinan dan Manajemen sangat bermanfaat bagi pemimpin pendidikan lokal dan kepala sekolah. Kita mendiskusikan cara-cara menggunakan dana kementrian untuk mendukung pengembangan sekolah-sekolah mereka, dan bagaimana membangun hubungan dengan orangtua dan komunitas lokal untuk memajukan nilai pendidikan dan pentingnya kehadiran di sekolah. ‘Pemetaan Sekolah’ digunakan untuk melibatkan masukan dari masyarakat untuk memetakan lokasi semua rumah tangga di area setempat dimana anak usia sekolah tinggal. Sekolah-sekolah bersama dengan masyarakat dapat mencari cara dimana mereka dapat mendukung keluarga untuk memasukkan anak-anak ini ke sekolah. Sekali di sekolah, strategi bisa dijalankan untuk membantu mencegah putus sekolah lagi. Kita telah belajar bersama bagaimana dukungan LSM target untuk memberikan kursi roda, alat bantu dengar, sarapan, tes mata atau buku-buku cerita - dan kecakapan yang diperlukan untuk mengakses sumber ini tanpa dukungan kita berarti bahwa sekolah-sekolah dapat melanjutkan upaya mereka ke arah inklusi juga setelah proyek kita berakhir.
Kamboja adalah sebuah negara yang sejarahnya tragis, dari pembunuhan masal guru-guru dan profesional lainnya oleh Khmer Rouge, melalui perang saudara sampai pada kemiskinan yang dialami oleh banyak penduduk pedesaan. Pembangunan kembali pendidikan di Kamboja dilakukan bertahap - banyak guru menerima sedikit training atau tidak sama sekali selama tahun-tahun sulit tersebut. VSO Kamboja bekerja dengan rekan di semua level, dari Kementrian Pendidikan Tinggi untuk Pedagogi dan Pendidikan Guru sampai ke sekolah-sekolah, mengambil langkah-langkah untuk menjembatani jurang ini dengan berbagi kecakapan dan perubahan hidup - ‘satu per satu’......

Proyek ini didanai oleh Dana Pengembangan Sosial Jepang [melalui Bank Dunia], Uni Eropa dan VSO. Isi dari artikel ini adalah tanggung jawab tunggal dari VSO dan dalam keadaan apapun tidak dapat dianggap sebagai cerminan posisi Bank Dunia atau Uni Eropa.

Ibu Jenelle Thornton adalah Relawan VSO di Kamboja. Beliau dapat dihubungi via email: jenelle70@hotmail.com atau: VSO Programme Office, PO Box 912, Phnom Penh, Cambodia

 

EENET asia Newsletters : Edisi Keempat Juni 2007

 

Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]
optimized for a resolution of 1024x768
idp - international development partners