Untitled Document
IDP Norway

EENET Asia Newsletter - Edisi Ketiga -

Nopember 2006

EENET Global
Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]


EENET asia Newsletters : Edisi Ketiga Nopember 2006 Daftar Isi

Memahami Cara Mengajar

Ketika dia berdiri di depan kelas 5 nya pada hari pertama sekolah, dia berkata sesuatu yang tidak benar kepada anak-anak. Seperti kebanyakan guru, dia melihat siswanya dan mengatakan dia menyukai mereka semua. Namun, ini tidak memungkinkan, karena di barisan depan, duduk merosot di kursinya, ada anak laki-laki bernama Karma.

Ibu Choeden telah melihat Karma tahun sebelumnya dan memperhatikan bahwa dia tidak bermain dengan baik dengan anak lain dan bahwa gho dia berantakan. Selain itu, Karma mungkin tidak menyenangkan. Ini sampai pada suatu titik dimana Ibu Choeden akan dengan senang hati memberikan tanda X tebal dan “F” besar dengan pulpen merah tebal di atas kertasnya.

Di sekolah dimana Ibu Choeden mengajar, diharuskan mereview catatan masa lalu tiap anak. Dia menempatkan Karma di paling akhir. Namun, ketika dia menelaah file Karma, dia terkejut.

Guru kelas 1 Karma menuliskan: “Karma adalah anak pintar dengan tawa yang siap lepas tiap saat. Dia bekerja dengan rapi dan memiliki sikap yang baik... dia menyenangkan”. Guru kelas duanya menulis: “Karma adalah siswa yang unggul, sangat disukai oleh teman sekelasnya, tapi dia kesulitan karena ibunya memiliki penyakit terminal dan hidup di rumahnya pastilah sulit.” Guru kelas 3 menulis: “Kematian ibunya pasti sulit bagi dia. Dia mencoba untuk melakukan yang terbaik, tapi ayahnya tidak menunjukkan banyak minat dan kehidupan di rumahnya lambat laun akan mempengaruhi dia jika tidak ada langkah yang diambil.” Guru kelas empat menulis: “Karma menarik diri dan tidak menunjukkan ketertarikan di sekolah. Dia tidak memiliki banyak teman dan kadang dia tidur di kelas.”

Sekarang ini, Ibu Choeden menyadari masalahnya dan merasa tidak enak dan malu pada dirinya sendiri. Dia bahkan merasa lebih tidak enak ketika siswanya membawakan hadiah Losar untuk dia, dibungkus dengan pita cantik dan kertas kado yang cerah, kecuali Karma. Kado Karma dibungkus tidak rapi. Ibu Choeden merasa malas membuka kado itu diantara kado lainnya. Beberapa anak mulai tertawa ketika di dalamnya Ibu Choeden mendapatkan sebuah gelang dengan beberapa batu mulianya yang hilang, dan sebuah botol berisikan parfum setengah isi. Tapi dia menghentikan tawa anak-anak ketika dia berseru betapa cantiknya gelang tersebut sambil memakainya, dan menyemprotkan parfum ke pergelangan tangannya. Karma tidak langsung pulan di hari yang panjang tersebut untuk mengatakan: “Ibu Choeden, hari ini ibu wangi seperti ibu saya dulu.”

Setelah anak-anak pulang, Ibu Choeden menangis. Di hari itu juga dia memutuskan berhenti hanya mengajar membaca, menulis dan aritmetika. Ibu Choeden memutuskan untuk mencoba memahami anak-anak sebagai individu dan ketika dia melakukan itu dia menjadi orang yang berbeda. Dia berbicara dan bercanda dengan mereka dan khususnya merayakan prestasi Karma. Dia meluangkan waktu untuk berbicara dengan anak laki-laki itu- Karma dan segera dia merespon rasa kasih bu gurunya. Pada akhir tahun, Karma menjadi seorang pelajar yang percaya diri.

Setahun kemudian dia menemukan catatan di bawah tempat tidur dari Karma mengatakan bahwa dia guru terbaik yang pernah dia temukan.

Enam tahun berlalu dia kembali mendapatkan surat dari Karma. Surat itu menyatakan dia telah lulus SLTA, ranking ketiga di kelasnya, bu Choeden masih guru terbaiknya.

Empat tahun setelah itu, dia mendapatkan surat lainnya, mengatakan bahwa ketika keadaan sedang sulit, dia tetap berjuang dan akan segera lulus dari perguruan tinggi di Indona dengan prestasi terbaik. Ibu Choeden masih guru terbaiknya! Kemudian empat tahun telah berlalu dan surat berikutnya datang. Kali ini menjelaskan bahwa setelah dia mendapatkan gelar sarjana, dia memutuskan untuk melanjutkannya. Surat tersebut menjelaskan bahwa Ibu Coeden tetap guru terbaik dan guru favorite yang pernah dia dapatkan. Tapi sekarang nama dia agak panjang. Surat tersebut ditandatangani dengan nama Karma Wangchuk M.D.

Cerita ini tidak berakhir di sini saja. Lihat saja, ada surat berikutnya datang di musim semi ini. Karma mengatakan dia bertemu seorang gadis dan akan menikah. Dia menjelaskan bahwa ayahnya telah meninggal dua tahun yang lalu dan dia meminta Ibu Choeden mendampinginya di pernikahan sebagai pengganti ibu pihak pengantin laki-laki. Tentu saja Ibu Choeden menyanggupinya. Dan tahukah apa yang terjadi? Ibu Choeden memakai gelang, yang beberapa batu mulianya hilang. Terlebih lagi, dia juga memastikan untuk memakai parfum pemberian Karma yang digunakan ibunya pada waktu Losar.

Mereka saling berpelukan, dan Dr. Wangchuk berbisik kepada Ibu Choeden, “Terima Kasih Ibu Choeden karena telah mempercayai saya. Terima kasih karena telah membuat saya merasa penting dan menunjukkan bahwa saya bisa membuat perbedaan.”

Ibu Choeden dengan air mata di matanya berbisik, “Karma, kamu salah mengerti. Kamulah yang mengajarkan kepada saya bahwa saya bisa membuat perbedaan. Saya tidak tahu bagaimana cara mengajar sampai saya bertemu denganmu.

 

EENET asia Newsletters : Edisi Ketiga Nopember 2006 Daftar Isi

 

Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]
optimized for a resolution of 1024x768
idp - international development partners