Untitled Document
IDP Norway

EENET Asia Newsletter - Edisi Ketiga -

Nopember 2006

EENET Global
Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]


EENET asia Newsletters : Edisi Ketiga Nopember 2006 Daftar Isi

Konferensi Dunia ICEVI ke-12 tanggal 16-21 Juli,Kuala Lumpur, Malaysia

Kicki Nordström

Konferensi Dunia ICEVI ke-12 adalah yang terbesar yang pernah diadakan dengan lebih dari 1200 peserta. Konferensinya direncanakan dengan baik dengan bahan materi dalam Braille untuk semua yang memerlukannya. Programnya ekstensif dengan topik yang menarik dan pembicara yang baik. Dewan direksi yang baru dipilih ketika Larry Campbell dipilih kembali menjadi presiden.

Strategi-strategi untuk suatu perubahan
37 juta orang di dunia ini sekarang sedang didefinisikan sebagai buta. 4 juta diantaranya tidak pernah punya kesempatan masuk sekolah. Itulah alasan untuk kampanye global “Strategi-strategi untuk suatu perubahan”. Tujuannya adalah untuk menjamin bahwa semua anak tunanetra akan memiliki akses terhadap pendidikan berkualitas pada 2015.

“Kita perlu penelitian, statisktik, fakta dan infomasi sehingga kita dapat membuka pintu yang terkunci bagi sekolah-sekolah untuk anak-anak tunanetra” kata Larry Campbell. Strategi ICEVI adalah suatu kombinasi advokasi yang ditargetkan, asesmen visual dan program pendidikan – lebih banyak sumber yang diperlukan untuk menerapkan kebijakan dan menciptakan kesadaran publik dan perubahan sikap.

Perundang-undangan
Paul Ennals, UK menyatakan bahwa baik perundang-undangan dan kebijakan itu ekstensif di beberapa negara tapi ada kesenjangan antara teori dan implementasi. Bahkan jika perundang-undangannya tepat, kualitas pendidikan kadang buruk tidak berkualitas sama untuk semua anak.

Anak-anak muda yang tunanetra perlu guru-guru yang berkualifikasi tinggi. Kebijakan-kebijakan dan praktek-praktek harus diadaptasikan kepada ini sehingga kebutuhan pendidikan anak tunanetra akan diakui dan dipenuhi. Kebanyakan anak tunanetra berprestasi cukup baik di sekolah-sekolah umum tapi kebanyakan gagal. Ini khususnya benar untuk anak tunanetra dengan kecacatan tambahan. Sumber daya diperlukan, seperti pendidikan dan training guru yang lebih baik tapi juga layanan rehabilitasi dan training dalam Kegiatan Sehari-hari [ADL].

Keragaman belajar
Sekolah-sekolah harus berubah untuk memenuhi kebutuhan semua anak yang beragam. Charlotte McClain Nhlapo, Afrika Selatan menyatakan bahwa “Pendidikan inklusif membuat sosial, pendidikan dan finansial bisa dipahami. Penting bahwa keragaman dikenali”. Dia meneruskan; “pendidikan inklusif adalah tentang partisipasi dan demokrasi. Semua anak dapat belajar dan harus pergi ke sekolah. Kita harus mencapai sampai 10% anak yang tidak bersekolah karena kecacatan mereka”.

Pendidikan untuk semua anak, dengan fokus khusus pada kesempatan pendidikan untuk anak-anak tunanetra adalah tujuan konferensi ini. PUS regional untuk Asia Timur diwakili oleh Terje Watterdal, Alisher Umarov, Karin van Dijk dan Shahid Ahmed Memon dan IDP Norway, UNESCO dan Jejaring EENET Asia pada hari senin sore. Inisiatif-inisiatif ini adalah bukti bahwa program-program di satu negara dan wilayah dapat mendorong dan menginspirasikan kegiatan-kegiatan di wilayah lain.
Kegiatan fisik, seni, geografi dan matematika sering kali menjadi mata pelajaran tersulit untuk anak tunanetra. Kurangnya dukungan, program-program, peralatan dan layanan yang tepat, menciptakan hambatan untuk anak-anak tunanetra yang bersekolah. Namun, ada banyak contoh proyek yang baik. Untuk mencapai tujuan ICEVI pada tahun 2015 contoh-contoh yang baik harus dipublikasikan dan diperbesar skalanya. Satu proyek seperti itu adalah inisiatif pribadi Braille tanpa mereka yang menumpang yang bertujuan pada penguatan status Braille.

Stigma dan Prasangka
Banyak anak-anak tunanetra memiliki ketrampilan sosial yang baik yang mana itu faktor penting untuk menjadi bagian masyarakat. Namun, di beberapa kasus lingkungan sekolah menciptakan hambatan untuk inklusi dan partisipasi, sikap guru mempengaruhi status anak tunanetra. Sebuah laporan dari Sekolah Tomteboda School di Swedia mengungkapkan bahwa 70% anak tunanetra memiliki status sangat rendah di antara siswa lainnya di sekolah. Satu alasan untuk ini adalah perkiraan guru yang rendah akan anak tunanetra yang pada akhirnya mempengaruhi status anak di antara teman sebaya mereka. Beberapa guru mungkin mengakui ketrampilan anak tapi tidak berupaya untuk meningkatkan status anak di kelas. Banyak anak tunanetra merasa sedih dan menunjukkan tanda-tanda depresi karena rendahnya rasa penghargaan diri mereka.

Perlakuan salah dan Kekerasan
Rendahnya rasa penghargaan diri membuat anak lebih rentan kepada kekerasan dan perlakuan salah. 20% anak pada umumnya di Eropa, menurut penelitian baru, telah mengalami kekerasan atau perlakuan salah atau pelecehan sebelum usia 18 tahun. Penelitian juga menunjukan bahwa hampir semua kekerasan dan pelecehan dilakukan oleh laki-laki. Angka ini mungkin hanya puncaknya saja dari gunung es karena permasalahan ini diperlakukan dengan rahasia dan anak sering tidak tahu apa yang normal atau tidak.

Guru, pekerja sosial dan orang lain yang menangani anak harus dilatih untuk mengetahui bagaimana mendeteksi jika anak menjadi korban kekerasan atau pelecehan lainnya. Anak-anak cacat lebih rentan dan beresiko terhadap pelecehan. Banyak anak menemukan bahwa mereka telah mengalami pelecehan ketika mereka mulai berbicara kepada anak-anak lain. Ini sering mengakibatkan trauma untuk anak dan karenanya penting bahwa guru menjadi sadar akan tanda-tanda dalam perilaku anak yang kemungkinan mengalami pelecehan.

Konsekuensi kekerasan dan pelecehan seksual akan mempengaruhi anak selama hidupnya. Anak-anak perlu belajar tentang tubuh mereka dan fungsinya. Mereka memerlukan kepercayaan diri dan rasa penghargaan diri dan yang paling penting anak-anak harus diajarkan tidak menerima keintiman yang tidak diinginkan. Anak perlu belajar mengatakan TIDAK.

Lucia Piccione, Argentina menginformasikan konferensi tersebut bahwa Christian Blind Mission [CBM] telah membentuk dewan penasehat untuk kekerasan terhadap anak berkebutuhan khusus di Argentina.

Rangkaian pelatihan
Steve McCall, UK dari Savers International [SSI] dan Wakil Presiden ICEVI mengatakan bahwa tantangan berikutnya untuk ICEVI adalah untuk mempersiapkan serangkaian profesional, tidak “hanya” guru! Kampanye, strategi untuk Perubahan harus memulai langkah awal jika tujuannya untuk membuka pintu sekolah untuk anak-anak tunanetra sebelum tahun 2015 untuk direalisasikan.

Pendidikan dan training penyandang tunanetra harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Pendidikan dan training harus termasuk mata pelajaran seperti ADL, ketrampilan sosial, kesehatan seksual dan reproduktif, dll.

Ada laporan ekstensif tentang kampanye Strategi untuk Perubahan. Semua bahan termasuk ringkasan dari kampanye ini akan ditampilkan pada situs web ICEVI.

Kicki Nordström adalah Mantan Presiden terdahulu World Blind Union [WBU].
Beliau dapat dihubungi vie email: kino@iris.se.
Alamat pos: SRF Iris AB; S-122 88 Enskede; Sweden

EENET asia Newsletters : Edisi Ketiga Nopember 2006 Daftar Isi

 

Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]
optimized for a resolution of 1024x768
idp - international development partners