![]() |
EENET Asia Newsletter - Edisi Ketiga - Nopember 2006 |
|
|
Pendidikan yang Memampukan untuk Anak Terlantar secara Internal: Sri Lanka Mereka tidak berhasrat pada mainan atau bahkan tiga kali makan tetap. Mereka hanya menginginkan buku, guru dan pelajaran. “Kita mungkin kehilangan tahun berikutnya lagi” Brintha berusia 17 tahun berkata, sekarang berupaya keras mengikuti sekolah di Kalmunai setelah menjadi terlantar dari Mutur karena ada konflik kekerasan baru-baru ini. Dia tetap tidak menyerah untuk tetap mengikuti ujian O/L walaupun buku, pena, seragam dan guru sulit untuk didapatkan. Brintha baru-baru ini berada di Kolombo untuk mendorong penyebab pendidikan untuk semua anak khususnya mereka yang terkena dampak konflik bersenjata yang sedang terjadi. Banyak anak dan remaja seperti Brintha hidup dalam situasi cobaan di bagian utara dan timur negeri. Sekelompok dari mereka ada di Kolombo untuk meluncurkan “Tulis ulang masa datang”,sebuah inisiatif global oleh Save the Children untuk menjamin kualitas pendidikan untuk anak-anak yang terkena dampak oleh perang di seluruh dunia, ketika secara erat bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan dinas propinsi dan kabupaten. Save the Children memberikan advokasi untuk kesetaraan dalam alokasi sumber daya, akses dan keamanan ini sekolah-sekolah untuk menulis ulang masa depan anak yang terkena dampak lebih dari 2 dekade perang. Beberapa fakta:
Cerita Kalayarasi, 13 sekarang tinggal di kamp kesejahteraan di Trincomalee, berbicara dengan sendirinya. Dia telah terlantarkan sebanyak 4 kali, berpindah dari Kilivetti ke Mutur bolak balik 3 kali karena penembakkan dan pembakaran sejak 1996. “Saya mendengar bahwa guru Bahasa Inggris saya mati seketika. Sebuah bangunan di sekolah saya juga rusak selama masa perang,” kata Kalayarasi, menambahkan bahwa ambisi dia dalam hidup adalah menjadi guru tari. Ada harapan anak dan remaja yang terjebak dalam suatu konflik yang bukan dibuat oleh mereka. Tapi kenyataannya berbeda: anak-anak putus sekolah, kurang akses terhadap sekolah, lingkungan sekolah yang tidak aman dan kurang guru dan sumber bahan adalah isu-isu yang dihadapi anak. Menekankan bahwa donor tidak melakukan banyak hal untuk mengatasi pendidikan anak-anak ini dan hanya 2% dari dana kemanusiaan global, yang terdiri dari sebagian besar dananya diberikan kepada negara-negara dalam konflik kronis, disalurkan untuk pendidikan, Save the Children mendesak:
Diadaptasikan dari: Sunday Times (Sri Lanka), 24 September 2006.
EENET asia Newsletters : Edisi Ketiga Nopember 2006 Daftar Isi
|
|
|
| optimized
for a resolution of 1024x768 idp - international development partners |