![]() |
EENET Asia Newsletter - Edisi Ketiga - Nopember 2006 |
|
|
Sekolah Dasar Swasta yang Terdaftar 9 mil Shahriar Islam Thandar Kishore Tripura adalah kepala sekolah di SD ini di Dighinala Upazila di Chittagong Hills Tracts Bangladesh. Kebanyakan orang di daerah ini adalah dari kelompok-kelompok etnis minoritas asli yang memiliki bahasa dan budaya berbeda dari penduduk Bengali yang dominan. Sekolah Dasar ini adalah sekolah kecil dengan sekitar 100 anak di kelas 1 sampai 5. Semua anak berasal dari kelompok penduduk asli Tripura. Tripura adalah bahasa ibu mereka dan bahasa komunikasi mereka di masyarakat. Pengecualiannya adalah di sekolah dimana Bangla adalah bahasa pengajaran. Thandar menjelaskan bahwa semua anak ketika mereka masuk kelas 1 tidak berbicara atau memahami Bangla dan mengakui bahwa ini adalah sebuah masalah untuk mereka. Tidak memahami apa yang diajarkan juga salah satu yang menyebabkan angka putus sekolah yang tinggi dan kehadiran yang rendah di kebanyakan sekolah di Chittagong Hill Tracts. Guru-guru di sekolah dasar ini mencoba membuat pendidikan lebih ramah anak, khususnya di kelas-kelas rendah di sekolah dasar. Walaupun guru-guru merasa wajib menggunakan Bangla di kelas karena inilah bahasa resmi, mereka menggunakan bahasa ibu anak untuk menjelaskan ide atau mengajar. Bahasa ibu anak tidak diakui secara resmi untuk digunakan di sekolah-sekolah negeri. Karena komitmen kepala sekolah, guru-guru lain juga mengerjakan pekerjaannya secara serius. Mereka merasa bahwa penting untuk orangtua terlibat di sekolah. Guru-guru secara rutin meluangkan waktu untuk berbicara dengan orangtua dan menjelaskan pentingnya dan nilai pendidikan. Ketika seorang anak tidak masuk sekolah tanpa alasan, seorang guru atau Thandar akan mengunjungi rumah anak dan membahas alasan anaknya tidak bersekolah. Kurikulum nasional tidak mencerminkan bahasa, budaya atau gaya hidup mereka. Selama masa panen Jhum [panen potong dan bakar] kebanyakan orangtua membawa anak-anak mereka ke ladang Jhum daripada meninggalkannya sendiri di desa untuk bersekolah. Tapi kalender sekolah tidak mengakui kegiatan tahunan ini. Misalnya tahun ini ketika orangtua dan anak kembali dari masa panen sekolah tutup untuk Ramadan. Untuk merujuk ini, guru bekerja bersama membentuk suatu kebijakan atau sistem untuk kalender akademik yang lebih fleksibel untuk daerah-daerah tempat tinggal penduduk asli. Zabarang Kalyan Samity sebuah LSM penduduk asli lokal telah mulai bekerja dengan sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam kemitraan dengan masyarakat lokal dan sekolah, Zabarang akan mendukung pendidikan bahasa ibu dengan masa peralihan bahasa Bangla di dalam lingkungan belajar yang ramah anak. Mereka juga akan mendukung advokasi untuk kalendar akademik yang fleksibel dan kurikulum yang disesuaikan dengan budaya lokal. Dari wawancara dengan Thandar Kishore Tripura, kepala sekolah Sekolah Dasar Swasta 9 Mil oleh Shahriar Islam, Save the Children UK
EENET asia Newsletters : Edisi Ketiga Nopember 2006 Daftar Isi
|
|
|
| optimized
for a resolution of 1024x768 idp - international development partners |