![]() |
EENET Asia Newsletter - Edisi Ketiga - Nopember 2006 |
|
|
Menilai Status Pendidikan: Aksi Kolektif dengan suatu Perbedaan Anupam Ahuja Ketika melihat gambar yang diselipkan dalam tulisan ini bisa memunculkan pertanyaan. Mengapa anak laki-laki itu memikul beban di kepala? Untuk apakah relawan itu menilai anak? Mengapa relawan itu bekerja dengan anak di sisi jalan? Apa saja pemikiran anak sekolah? Mengapa fotografer mengambil gambarnya? Walaupun beberapa keadaan ditunjukkan seperti beban yang ditanggung anak itu dan tas sekolah yang ada di punggung anak laki-laki lainnya, kita bertanya-tanya apakah kita memiliki jawaban dari semua pertanyaan ini? Gambar tersebut diambil dari keadaan di Rajasthan sebuah propinsi di India bulan November 2005. Gambar diambil oleh dua puluh ribu relawan ketika melaksanakan asesmen di propinsi- propinsi dan hasil dari pendidikan dasar di India. Asesmen ini melihat pada beberapa indikator dasar dan telah mengarah pada banyak pertanyaan yang tak terjawab. Kegiatan keseluruhan memakan waktu 100 hari dan anak muda yang terlibat merasakan rasa persatuaan di desa-desanya. Tim melakukan perjalanan ke daerah terpencil perbukitan utara dan timur laut, pedataran Harayana, Punjab, dan Uttar Pradesh. Dimanapun mereka berada mereka diberikan salam dengan hangat di setiap rumah. Mereka juga pergi ke timur, barat dan selatan dan juga ke daerah berbahaya dimana tidak ada kontak yang dapat dilakukan. Kontak sosial menjadi hidup dan begitu banyak orang yang ramah membantu tim di lapangan: keluarga relawan, supir bis, operator telefon, direktur perguruan tinggi, tetangga dan teman. Tindakan menilai anak membuat orang-orang menyatu, anak-anak menunjukkan keingintahuan mereka dan bersedia dinilai dan para ibu ingin mengetahui “apakah anak saya bisa membaca”? Surveynya terdiri dari tiga bagian - wawancara di keluarga-keluarga, menilai kemampuan anak untuk membaca paragraf dan cerita yang sederhana, memecahkan jumlah hitungan sederhana, dan mengamati seting sekolah. Ini mungkin terlalu mudah untuk banyak orang di bidang akademik dan bagi para pendidik yang terbiasa memperdebatkan titik keselarasan antara belajar dan menilai. Namun diskusi-diskusi dengan orang-orang yang terlibat dalam survey menunjukkan bahwa mereka merasa asesmen seperti itu membantu menarik perhatian orangtua dan pemimpin masyarakat terhadap bagaimana cara anak-anak belajar dan bagaimana hal yang sama dapat diperbaiki. Hasilnya telah dipublikasikan dalam bentuk laporan “Laporan Pendidikan Asesmen Tahunan”. Ini terutama terdiri dari tabel, diagram dan grafik dan sebuah diskusi tentang metodologi. Ada analisa tekstual dan komentar terbatas, karena diyakini bahwa fakta berbicara dengan sendirinya. Maksudnya adalah untuk meluncurkan suatu diskusi ASER secara berkala untuk lebih lanjut menganalisa data. ASER menghasilkan pembentukkan suatu gerakan yang membawa metode ilmiah dari asesmen dan analisa kepada sejumlah besar masyarakat umum dan menunjukkannya. Rencananya adalah untuk membawa kembali hasil ASER ke kabupaten-kabupaten dan desa-desa sehingga orang berpikir tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Diharapkan orang-orang akan mengulurkan tangan membantu di berbagai level aksi pemerintah dan menjadi mitra dalam perubahan situasi. Temuannya cukup menarik bahwa 14 juta anak masih tidak bersekolah! Berita baiknya adalah bahwa kesenjangan jender dalam prosentasi anak tak bersekolah telah menurun. Temuan-temuan yang mengkhawatirkan berkaitan dengan membaca dan menulis. Hampir 35% anak pada kelompok usia 7-14 tidak dapat membaca paragraf sederhana (di kelas 1) dan hampir 60% anak tidak dapat membaca cerita sederhana (level kesulitan kelas 2). Situasinya berkaitan dengan matematika juga cukup mengkhawatirkan. Selain itu bertahun-tahun dari program-program sekolah “back-to-back” dan kursus-kursus penyetaraan di beberapa propinsi prosentasi anak tak bersekolah terus mengkhawatirkan. Situasi misalnya di Andhra Pradesh khususnya mengkhawatirkan dalam hal perburuhan anak perempuan di perkebunan biji kapas dan dalam pemetikan kapas. Propinsi ini melintasi sebuah situasi pertanian pra industri dengan industri teknologi informasi yang sangat modern. Pemikiran dibalik ASER bukanlah untuk mengambil bidikan gambar untuk dipajangkan atau hanya untuk membuat pernyataan. Ini lebih dari itu. Perasaan bahwa India adalah negara kita, mereka inilah anak-anak kita, dan bidikan tersebut adalah untuk menginformasikan diri kita, orang-orang India, sehingga kita memahami situasi pertama kalinya dan bertindak untuk mengubah gambar tersebut. Baris berikut menangkap semangat yang ada:
Orang-orang India Dari berbagai propinsi dan daerah Berbicara berbagai bahasa Duduk bersama anak-anak kami Dan melihat ke Dalam rumah kami Di desa-desa kami Dan mempersiapkan laporan Untuk kita sendiri Untuk membangun India yang lebih baik Satu kontribusi paling penting dari ASER adalah bahwa suatu kelompok independen bergabung bersama dengan berbagai individu dan organisasi yang tertarik untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada anak-anak kita. Menciptakan ruang untuk asesmen independen (baik yang disponsori pemerintah ataupun yang didukung donor) tentang kemajuan India ke arah pendidikan dasar yang universal sangatlah berharga. Upaya ini mungkin dapat mendorong kelompok-kelompok di seluruh negeri dan lebih dari itu untuk mengawali audit yang sama terhadap pendidikan, perkembangan anak, kesehatan dan dimensi perkembangan lainnya. ASER dikaitkan dengan satyagraha yang membangun untuk mendorong hak warga negara untuk ikut serta dalam keberfungsian Pemerintah. Keyakinan bahwa pekerjaan yang baik telah dilakukan oleh pemerintah dan ada banyak di antaranya yang memang layak mendapatkan acungan jempol; namun kita perlu mengakselerasi langkah-langkah yang berorientasikan hasil untuk meningkatkan pembelajaran semua anak di negeri ini. Tulisan ini telah diadaptasikan dari Status Tahunan Propinsi dari Laporan Pendidikan 2006, Pusat Sumber Pratham, Mumbai, India. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
EENET asia Newsletters : Edisi Ketiga Nopember 2006 Daftar Isi
|
|
|
| optimized
for a resolution of 1024x768 idp - international development partners |