Untitled Document
IDP Norway

EENET Asia Newsletter - Edisi Ketiga -

Nopember 2006

EENET Global
Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]


EENET asia Newsletters : Edisi Ketiga Nopember 2006 Daftar Isi

Dari EENET Global Edisi 10: Wawancara EENET

Ingrid Lewis

Bulan Februari 2006, Atlas Alliance (Norway) mengadakan lokakarya empat hari tentang pendidikan inklusif di Zanzibar, Afrika Timur. Kebanyakan dari 45 peserta berasal dari organisasi di Afrika Timur dan Selatan, Nepal dan Palestina. Lokakarya ini membantu peserta berbagi pengalaman dan belajar dari satu sama lain. Berbagai kegiatan partisipatori digunakan, termasuk penampilan foto untuk merefleksikan interpretasi dan pengalaman kita tentang inklusi. Peserta tunanetra Zefania Kalumuna diwawancarai oleh Ingrid Lewis dari EENET tentang penggunaan foto tersebut.

Bagaimana pendapat anda tentang penggunaan foto untuk menstimulasi diskusi di antara peserta yang awas dan tunanetra?
Saya pikir ini pendekatan yang sangat baik. Penting untuk mengingat bahwa peran kesan visual dapat dan harus digunakan dalam proses belajar semua orang, termasuk orang tunanetra.

Metode apa yang digunakan kelompok anda untuk melibatkan anda dalam kegiatan ini?
Saya temukan solusi terbaik adalah setidaknya ada dua orang menjabarkan gambar tersebut kepada saya, sehingga saya dapat mengumpulkan beberapa interpretasi tentang apa yang terjadi dalam gambar tersebut. Ini adalah sama ketika kita melakukan observasi kelas selama kunjungan sekolah. Ini paling baik jika dua orang menjabarkan kelas tersebut kepada saya (satu orang lokal dan satu “dari luar”).

Apakah setiap orang menjabarkan foto tersebut dengan cara yang sama?
Tidak! Satu orang memfokuskan pada satu hal dan orang lain memperhatikan hal yang berbeda dalam fotonya. Tiap orang memiliki pemikiran berbeda tentang apa hambatan inklusi yang ditunjukkan foto tersebut. Saya bisa membangun suatu pemikiran tentang yang mereka jabarkan, berdasarkan berbagai pendapat.

Apa yang terjadi ketika kelompok anda mendiskusikan dan menganalisa foto?
Saya dapat menyarankan interpretasi berdasarkan pada deskripsinya. Kadang interpretasi saya tentang hambatan yang digambarkan (Dan kemungkinan penyebab/dampaknya) sama seperti peserta awas’; kadang saya sarankan hal-hal yang tak terpikirkan oleh mereka.

Apakah pandangan anda tentang manfaat aktifitas ini untuk diri anda sendiri dan peserta yang awas?
Kedua pihak mendapatkan manfaatnya dari aktifitas tersebut. Ini berbeda untuk saya dalam menggunakan aktifitas ini, tapi saya dapat menemukan banyak hal tentang apa yang terjadi di sekolah dari gambar-gambar tersebut. Para peserta yang awas mendapatkan manfaatnya karena mereka harus melihat lebih dekat pada gambar tersebut daripada normalnya, yang membantu mereka menganalisa situasi inklusi/ekslusi yang mungkin ada dalam gambar tersebut.

Apakah kegiatan ini memiliki relevansi lebih luas terhadap pendidikan inklusif?
Tentu saja! Ketika anak-anak tunanetra belajar membaca di sekolah mereka bisa mendapatkan buku Braille berisikan kata-kata, tapi anak-anak awas memiliki buku dengan kata-kata dan gambar-gambar. Khususnya di kelas 1 dan 2, buku-buku berisikan 75% gambar. Ini berarti anak dengan buku Braille banyak ketinggalannya. Mereka mungkin bersama-sama di kelas yang sama, tapi mereka terpisah oleh buku yang berbeda.

Solusi apa saja yang anda rekomendasikan?
Saya telah bekerja dengan suatu proyek yang menuliskan buku-buku anak ke dalam Braille dan ada beberapa solusi yang telah saya pelajari. Tentu saja, anak-anak awas dan tunanetra harus didampingi untuk membaca bersama, sehingga anak-anak awas dapat menjabarkan gambar tersebut kepada anak-anak tunanetra. Mereka akan mendapatkan manfaatnya dengan melakukan ini. Kita dapat membantu dengan memastikan bahwa buku-buku Braille memiliki nomor halaman dalam Braille dan nomor halaman dalam huruf cetak di setiap lembar buku tersebut. Dengan cara ini anak-anak awas dan tunanetra dapat dengan mudah mengetahui ketika mereka membaca dari halaman yang sama.

Hal lain yang kita lakukan adalah membuat kaset audio yang memiliki efek suara berkaitan dengan gambar tersebut. Misalnya, jika buku-buku cetak memiliki gambar singa, kaset memiliki efek suara dari singa yang meraung, dan anak tunanetra dapat mendengarkan ini ketika anak-anak awas melihat pada gambar dan menjabarkan gambar tersebut. Anak-anak awas tentu saja belajar lebih baik ketika mereka mendengarkan kaset tersebut.

Dan bahkan jika kita memang mampu mendapatkan Braille atau kaset, kita harus melatih para guru bagaimana mengajar anak-anak awas dan tunanetra tentang bagaimana belajar bersama secara efektif dari buku-buku bergambar dan buku-buku cetak.

Bapak Kalumuna mengkoordinasikan pendidikan kebutuhan khusus untuk orang-orang tunanetra di dalam Kementrian Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan, Unit Pendidikan Kebutuhan Khusus. Beliau adalah Ketua Pusat Informasi tentang Kecacatan dan Tanzania Braille Audio Trust, dan merupakan Asisten Editor Kepala dari Asosiasi Penulis Tanzania. Kontak: P.O Box 77700; Dar es Salaam; Tanzania. Email: zefakalu@yahoo.co.uk

 

EENET asia Newsletters : Edisi Ketiga Nopember 2006 Daftar Isi

 

Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]
optimized for a resolution of 1024x768
idp - international development partners