Untitled Document
IDP Norway

EENET Asia Newsletter - Edisi Simposium -

APRIL 2006

EENET Global
Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]

 

EENET asia Newsletters : Edisi Simposium April 2006 Daftar Isi

Apalah Arti Sebuah Nama? Sebutan dan Istilah Tentang Kecacatan dan Kebutuhan Pendidikan Khusus: Pemikiran Lebih Lanjut

Tim

Tidak ada dua individu yang sama, dan perbedaan antar orang dewasa dan antar anak adalah hal yang wajar. Ini adalah sebuah fakta nyata. Namun yang menjadi pokok permasalahan adalah bagaimana cara kita melihat perbedaan dan cara kita mengungkapkan hal tersebut. Dalam edisi perdana EENET Asia, kami telah menurunkan artikel tentang ‘Apakah Arti Sebuah Nama… Sebutan dan Istilah Kecacatan dan Kebutuhan Pendidikan Khusus’ yang berfokus pada pentingnya penggunaan istilah yang tepat dan penuh penghargaan.

Di berbagai belahan dunia, diskusi tentang pencarian dan penggunaan istilah yang tepat telah banyak dilakukan. Salah satunya dalam pertemuan pra kongres EENET di ISEC (Inclusive and Supportive Special Education) di Glasgow bulan Agustus 2005. Tujuan dari pertemuan tersebut adalah untuk melihat kembali kegiatan EENET saat ini dan merancang rencana kegiatan di masa mendatang. Edisi perdana EENET Asia diluncurkan pada pertemuan ini.

Berbicara mengenai peristilahan, para pembicara di pertemuan itu menggarisbawahi:

  • Pentingnya menemukan dan menggunakan istilah yang tepat
  • Menyadari adanya konteks nasional menentukan kata atau frasa mana yang paling tepat digunakan pada tiap konteks.

Untuk mengundang diskusi dan meningkatkan perhatian terhadap isu-isu dalam konteks Asia, kami memutuskan untuk lebih jauh menggali dan meminta pendapat orang-orang yang berkecimpung langsung di lapangan. Berbagai pertanyaan diajukan dan respon menarik diterima dari Asia Selatan (Pakistan), Asia Tenggara (Indonesia, Kamboja) dan Asia Tengah (Tajikistan dan Kyrgyzstan). Kami berikan perhatian terhadap isu-isu pokok dalam respon-respon tersebut.

Pertanyaan: Apa istilah yang digunakan di negara anda untuk menyebut kelompok-kelompok anak yang turut menambah keberagaman pada pembelajaran?

Pertimbangan Sektoral yang Mempengaruhi Peristilahan
Di Kamboja, ada beragam istilah yang digunakan untuk menyebut kelompok-kelompok anak yang memberi kontribusi pada perbedaan, tergantung pada pihak atau sektor mana yang ditanya. Misalnya, Departemen Pendidikan, Pemuda dan Olahraga menyebut kelompok anak tersebut sebagai “anak-anak yang lemah” dan “anak-anak berkebutuhan khusus”. Sementara Departemen Sosial, Veteran dan Rehabilitasi Pemuda yang khusus menangani orang-orang cacat menggunakan istilah yang lazim digunakan para penyumbang, seperti “anak-anak berisiko” dan ”anak-anak dalam kondisi sulit”. Beragamnya istilah yang digunakan di berbagai daerah juga dialami Kamboja, sebagian ditemui di dokumen tertulis di pertemuan dan diskusi.

Di Indonesia, Departemen Pendidikan Nasional menggunakan istilah ‘anak luar biasa’, ‘anak penyandang cacat’ dan ‘anak berkebutuhan khusus’. Sementara itu di Departemen Sosial digunakan istilah ‘anak yang lemah’ dan ‘anak dengan problem sosial’. Oleh Departemen Pendidikan Nasional Indonesia, anak-anak cacat dikelompokkan dengan menggunakan huruf A sampai Q. (A untuk anak tuna netra, B untuk tuna runggu, dll). Di Kyrgyzstan Kementerian Pendidikan menggunakan istilah ‘anak dengan gangguan fisik dan intelektual’ sementara Departemen Tenaga Kerja dan Perlindungan Sosial menggunakan istilah ‘anak-anak penyandang cacat’ dan baru-baru ini mulai digunakan istilah ‘anak yang berisiko’ terkait dengan anak-anak yang mengalami masalah sosial yang beragam. (Di bawah dua departemen ini, kami memiliki sekolah dan lembaga khusus, berdasarkan jenis kecacatan. ‘Anak-anak yang berisiko’ adalah mereka yang tidak bersekolah karena berbagai permasalahan sosial).

Istilah yang menyesatkan dan tidak tepat
“Di Pakistan, menurut pendapat saya, istilah yang digunakan untuk menyebut sekelompok anak tidaklah tepat dan menyesatkan. Misalnya anak-anak yang tinggal di pedesaan dan daerah terpencil disebut sebagai ‘anak-anak yang serba kekurangan’. Berbagai usaha yang dilakukan oleh LSM dan pemerintah dalam bentuk sekolah pemukiman khusus dan insentif lain yang cenderung secara tanpa disadari memisahkan mereka dari masyarakat. Jadi, apakah anak-anak tersebut yang serba kekurangan ataukah kondisi dimana mereka tinggal yang sebenarnya kurang menguntungkan?”

Fakta umum di Pakistan menunjukkan bahwa banyak anak menjadi buruh. Di beberapa jenis industri para pengusaha beranggapan bahwa anak-anak bisa menjadi pekerja yang handal. Jenis-jenis pekerjaan ini antara lain industri karpet, bengkel dan rumah makan, semir sepatu, mengemis dan sebagainya. Sepertiga populasi Pakistan hidup di bawah garis kemiskinan dan banyak orangtua yang berpenghasilan rendah terpaksa menyuruh anak mereka bekerja. Para pengusaha sepenuhnya memanfaatkan situasi ini. Istilah yang digunakan di Pakistan untuk menyebut anak-anak yang menjadi buruh adalah ‘pekerja anak-anak’. Ketika diterjemahkan, istilah tersebut dimaksudkan untuk menyampaikan pemahaman yang positif, mengandung makna bahwa anak-anak tersebut bekerja karena tidak punya pilihan dan mereka memberi kontribusi pada pembangunan nasional.

Lagi-lagi, ada beberapa anak yang terabaikan. Misalnya, anak-anak perempuan di pedesaan Pakistan yang jarang sekali dibahas dan seringkali dikekang hak asasi mereka. Mereka memiliki akses yang sangat terbatas ke pendidikan, kesehatan, air bersih, fasilitas bermain, dll. Istilah yang digunakan mengandung makna bahwa mereka adalah beban dan merupakan anggota masyarakat yang tidak memberi kontribusi apapun.

Pengaruh Sejarah terhadap Peristilahan
Di banyak negara di Asia Tengah yang dulunya berada di bawah rejim Soviet, kecacatan dianggap sebagai kondisi medis yang mengharuskan anak-anak cacat dipisahkan dari yang lainnya dan mendapat perlakuan khusus. Anggapan bahwa kecacatan perlu disembuhkan dan bahwa anak-anak cacat tidak dapat belajar bersama teman-teman sebayanya yang tidak cacat, masih tergambar pada legislasi pendidikan saat ini. Sebagian besar anak cacat ditempatkan pada lembaga yang jauh dari keluarga dan masyarakat. “Sebenarnya dari konteks kami tidaklah menguntungkan masih menggunakan istilah Defectology karena ini merupakan bagian dari warisan sistem pendidikan.”

Pertanyaan: Apakah istilah tersebut memiliki konotasi negatif?
Sebagian besar istilah yang digunakan tidak dipandang memiliki konotasi negatif apapun di Kamboja dan Indonesia. Meski demikian, dalam berbagai konteks budaya yang berbeda di Indonesia, sejumlah istilah memang cenderung membawa konotasi negatif. Lagi-lagi dalam budaya Khmer istilah-istilah ini, tanpa penjelasan yang memadai, yang bisa menimbulkan bayangan akan anak-anak yang ‘khusus’ ‘beda’ atau ‘tidak normal’. Menarik dicatat bahwa ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Khmer, istilah ‘khusus’ dan ‘kebutuhan khusus’ dalam kata-kata Khmer yang digunakan, diucapkan dalam kualitas suara yang berbeda dengan pembicaraan yang biasa. Diperlukan kehati-hatian ketika pertama kali memperkenalkan kata-kata tersebut, guna memastikan diperoleh pemahaman tepat.

Di Tajikistan dan berbagai negara Asia Tengah, ada konotasi negatif terkait istilah defectology. Komisi Klasifikasi memutuskan penggunaannya untuk penempatan pendidikan dan institusionalisasi anak-anak. Fokusnya adalah pada penilaian medis terhadap anak yang seringkali hanya menyoroti hal-hal yang tidak bisa mereka lakukan. Di Pakistan istilah yang digunakan menimbulkan pemahaman adanya semacam ‘anak khusus’. Di sini jelas terdapat kurangnya pemahaman fakta, bahwa SEMUA anak perlu diberi hak yang sama, dukungan dan rasa hormat, bukan hanya simpati.

Pertanyaan: Apa terjemahan dalam Bahasa Inggris yang paling tepat untuk istilah yang digunakan?

Terjemahan bahasa Inggris yang tepat untuk istilah bahasa Khmer ternyata sudah hampir sesuai dengan istilah aslinya. Dalam Bahasa Khmer dan Indonesia, seringkali lebih banyak kata diperlukan untuk dapat menjelaskan konsep dengan baik.

Pertanyaan: Sulitkah menerjemahkan istilah seperti inklusi, memberdayakan pendidikan dan terpinggirkan ke dalam bahasa nasional?

“Tidak ada kesulitan khusus dalam menerjemahkan istilah-istilah ke dalam Bahasa Indonesia. Meski demikian, terjemahannya bisa jadi cukup panjang.” “Di Asia Tengah, kami kesulitan menerjemahkan istilah-istilah tersebut. Kurangnya pemahaman juga tercermin dari tulisan-tulisan, karena kami melihat adanya terjemahan yang tidak tepat tentang anak-anak yang mengalami ‘gangguan fisik dan intelektual’.” “Terjemahan inklusi dalam bahasa Urdu adalah ‘Shamooliyat’. Meski demikian, tidak ada terjemahan yang tepat untuk ‘Pemberdayaan’ dan ‘Terpinggirkan’, sehingga penggabungan beberapa kata seringkali digunakan.” “Dari istilah-istilah yang disebutkan tadi, istilah ‘terpinggirkan’ berpotensi menimbulkan masalah di budaya Khmer karena secara kultural dikaitkan dengan orang yang mudah gagal dalam hidup”. “Di Kamboja, pertimbangan penggunaan istilah dan interpretasinya menekankan pentingnya memperhatikan asal-usul seseorang ketika memberi penjelasan mengenai istilah-istilah tersebut. Ini sangat penting untuk memastikan pemahaman yang tepat sekaligus memberi perhatian memadai pada asumsi budaya yang secara luas diyakini. Dengan demikian, kita berupaya membuat orang mampu membangun pemahaman yang tepat terhadap istilah-istilah ini dan juga valid dalam konteks mereka.” Respon di atas menunjukkan bahwa konteks budaya menentukan penggunaan istilah. Kita tidak bisa mengangkat dan menerjemahkan istilah begitu saja, tetapi kita perlu mempelajari dengan jalan membandingkan pengalaman dan menentukan kata/frasa yang paling tepat di tiap konteks. Kami akan meneruskan diskusi ini dan mengajak anda untuk memberikan pandangannya.

Tulisan di atas disiapkan oleh Anupam Ahuja dengan masukan dari:

Bapak Parvez Pirzado, Pakistan, parvez.pizado@aku.edu, Aga Khan Insitute for Educational Development, Karachi

Tim Pendidikan di Disability Action Council, Kamboja, vichetra@dac.org.kh

Bapak Budi Hermawan, Indonesia, budih1968@yahoo.com, ICRAIS

Ibu Janiee Goedkoop, Tajikistan, office@scuk.tj, Save the Children UK

Ibu Chinara Djumagulova, Kyrgyzstan, chinara@scuk.kg, Save the Children UK

 

EENET asia Newsletters : Edisi Simposium April 2006 Daftar Isi

 

Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]
optimized for a resolution of 1024x768
idp - international development partners