![]() |
EENET Asia Newsletter - Edisi Simposium - APRIL 2006 |
|
|
Memasukkan Konsep Sekolah Ramah Anak ke dalam Pendidikan Formal Guru di Bhutan Rinchen Dorji Kerajaan Bhutan memiliki sejarah perkembangan sistem pendidikan formal yang unik. Di awal tahun 1960an, Bhutan membuka pintu mereka kepada dunia dan kekuatan perubahan serta modernisasi. Sejak dimulainya Rencana Lima Tahunan pertama pada 1961, kemajuan luar biasa telah dicapai di bidang pendidikan. Akses ke pendidikan dasar kini menjadi hak semua warga Bhutan, dan ini menjadi kunci bagi sebagian besar tujuan pembangunan nasional. Pemerintah bercita-cita mengembangkan sistem pendidikan yang menyediakan akses pendidikan gratis (SD) dan bermanfaat bagi semua anak. Pendidikan formal di Bhutan terdiri dari pendidikan dasar 6 tahun (termasuk 1 tahun taman kanak-kanak), 2 tahun pendidikan lanjutan pertama, 2 tahun pendidikan lanjutan menengah, 2 tahun pendidikan lanjutan atas serta 3 tahun pendidikan kolese. Usia resmi bagi anak-anak untuk dapat mengikuti pendidikan dasar adalah 6 tahun. Akan tetapi, pendidikan di tingkat dasar ini belum sepenuhnya bersifat gratis atau wajib. Konsep sekolah ramah anak dengan 5 dimensi yang didasarkan pada konvensi hak anak telah diratifikasi Bhutan sebagai salah satu negara pelopor di dunia. Ini menciptakan antusiasme baru bagi perbaikan sistem pendidikan. Bhutan telah mengenal dan menangani gagasan-gagasan seperti sekolah peduli, pendidikan holistis, pendidikan bermanfaat, yang semuanya memasukkan aspek-aspek dari konsep sekolah ramah anak. Memasukkan konsep sekolah ramah anak ke dalam pendidikan guru Kurikulum pendidikan guru pra tugas yang ada saat ini sedang ditinjau ulang dan direvisi. Dapat dimengerti oleh semua yang terlibat bahwa memasukkan konsep SRA dan LIRP ke dalam kurikulum pelatihan guru akan membantu menciptakan keseimbangan yang lebih baik antara teori dan praktek dalam modul yang beragam. Mengintegrasikan konsep SRA ke dalam pendidikan guru tidak hanya akan membuat guru menyadari konsep ini, tetapi juga akan mendukung filosofi pengembangan Kebahagiaan Bruto Nasional (Gross National Happiness) negara. Bagaimana mengintegrasikan konsep SRA ke dalam kurikulum pendidikan guru yang sudah ada? Perkembangan Anak - Meskipun mahasiswa ilmu kependidikan dihadapkan pada aspek pertumbuhan dan perkembangan anak yang beragam, Konvensi Hak Anak (KHA) belum dibahas pada modul terdahulu. KHA akan menjadi salah satu topik dalam modul ini. Dengan demikian, di masa mendatang tujuan pembangunan SRA berbasis hak anak akan dibahas dalam pelajaran ini. Konsep pencarian secara proaktive semua anak tanpa memandang status, latar belakang dan kemampuan (dimensi 1 SRA) akan membantu semua mahasiswa ilmu kependidikan dan guru yang sudah bertugas untuk menyadari bahwa semua anak memiliki hak untuk pendidikan berkualitas. Isu mengenai kepekaan gender (dimensi 4 SRA) juga akan dibahas pada pelajaran ini dalam topik Perbedaan Individual, sebuah topik yang dibahas cukup panjang dalam modul ini. Proses Belajar - Dalam modul ini, peran potensial yang dimainkan keluarga dan masyarakat dalam keseluruhan pembelajaran siswa akan lebih ditekankan (dimensi 5 SRA). Ini akan membantu mahasiswa ilmu kependidikan menjembatani pembelajaran sekolah dengan bentuk pembelajaran lain yang berlangsung di keluarga dan masyarakat. Ini juga akan mendorong guru untuk mengundang partisipasi masyarakat dalam kegiatan sekolah, yang akan membuat pendidikan anak menjadi lebih kontekstual dan relevan (dimensi 2 SRA). Pentingnya penyediaan lingkungan belajar yang sehat dan protektif di sekolah (dimensi 3 SRA) juga dibahas dalam modul ini. Modul ini juga akan mendaftar isu-isu penting seperti bagaimana membuat pembelajaran anak menjadi lebih partisipatif dan bersifat memberdayakan. Pendidikan untuk Pengembangan dan Sistem Pendidikan Bhutan - Pelajaran ini mencakup pembahasan mengenai latar belakang umum organisasi sekolah. Pelibatan orangtua, keluarga dan masyarakat dalam pendidikan (dimensi 5 SRA) juga dicakup modul ini. Pada umumnya, pertemuan orangtua-guru jarang sekali dihadiri baik karena orangtua sibuk, atau karena orangtua sering merasa terintimidasi oleh sikap tak acuh pihak berwenang di sekolah dan karena sikap tidak ramah para guru. Membangun kerjasama dimana orangtua merasa diterima dan terlibat sebagai bagian komunitas sekolah - sekolah dapat mencari kemungkinan memperoleh sumberdaya masyarakat bukan hanya dalam hal uang atau semacamnya tapi lebih pada penggunaan pengetahuan dan keahlian masyarakat yang tersedia dalam membantu pembelajaran siswa di kelas. Ketrampilan Mengajar I dan II serta Strategi Mengajar - Kedua modul ini menyediakan mahasiswa ilmu kependidikan pengetahuan dan merancang pelajaran. Kepekaan gender (dimensi 4 SRA) serta pengajaran berkualitas dan efektif (dimensi 2 SRA) akan diintegrasikan lebih baik dalam modul-modul ini. Sekolah yang sehat dan protektif (dimensi 3 SRA) secara tidak langsung mengajarkan pula mengenai keterampilan mengelola kelas yang efektif dan ketrampilan bertanya dimana guru diharapkan untuk dapat bertanya melalui cara yang tidak mengancam agar siswa merasa aman, secara tak langsung disinggung pula dalam modul Pengantar Bimbingan Konseling Sekolah - ada dua modul pengantar mengenai bimbingan remaja dan konseling sekolah, yang menggabungkan proses dan kemampuan konseling dasar dengan teori-teori utama konseling. Menciptakan sekolah yang sehat dan protektif (dimensi 3 SRA) serta responsif pada gender dan keberagaman (dimensi 1 dan 4) telah diintegrasikan dalam modul ini tapi masih dapat diperbaiki lagi. Melaksanakan Apa yang Kita Ajarkan
Merujuk pada isu-isu ini dan isu lainnya di tingkat institut serta di pengembangan dan penguatan lebih jauh praktek-praktek yang ada, pada akhirnya akan berkontribusi pada lebih baiknya institut pendidikan guru, yang dapat berperan sebagai contoh pengembangan SRA. Kesimpulan Rinchen Dorji, Dosen Institut Nasional Pendidikan Guru di Paro, Bhutan. Email: dorjirinchen04@yahoo.com, alamat: National Institute of Education, P.O. Box Paro, Bhutan. EENET asia Newsletters : Edisi Simposium April 2006 Daftar Isi
|
|
|
| optimised
for a resolution of 1024x768 idp - international development partners |