Untitled Document
IDP Norway

EENET Asia Newsletter - Edisi Simposium -

APRIL 2006

EENET Global
Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]


EENET asia Newsletters : Edisi Simposium April 2006 Daftar Isi

Satu Pengalaman Merencanakan Sigap Darurat pada Pusat-Pusat Pembelajaran Dini

Divya Lata

Tujuan artikel ini adalah membagi pengalaman yang diperoleh dari perencanaan sigap darurat pada dua pusat pembelajaran dini akibat Tsunami yang malanda Asia di Sri Lanka. Pada mulanya, harus diakui bahwa pengalaman tersebut hanyalah permulaan dan sangat kecil lingkupnya. Namun pengalaman itu menawarkan titik tolak praktis untuk prakarsa dalam keadaan serupa dan membantu staf ketika menangani situasi mendesak, seperti yang seringkali terjadi dalam situasi darurat, untuk bisa merespon dan menanganinya secara lebih baik.

Tantangan
Perlunya perencanaan sigap darurat dimuat dalam petunjuk internasional untuk pemulihan dan rehabilitasi, tercermin dalam rencana-rencana yang diajukan, dan dari sumberdaya yang dialokasikan sebagian besar organisasi yang terlibat dalam menangani kedaan darurat. Akan tetapi, adalah pengalaman lazim ditemui juga bahwa badan-badan pelaksana sulit menjalankan rencana-rencana tersebut dengan tingkat urgensi, cakupan, dan skala yang diinginkan. Beberapa tantangan yang dihadapi dalam konteks rehabilitasi pasca Tsunami adalah:

  • Perlunya pedoman teknis bagi para staf lapangan yang dihadapkan pada sempitnya waktu pelatihan di bawah tekanan pencapaian target;
  • Keinginan untuk menjalankan proses multi sektoral, mencakup semua wilayah, bagi kesigapan melalui struktur kepemimpinan dan administrasi lokal, yang berpotensi meningkatkan hubungan yang efektif serta menghindari duplikasi namun sering sulit dilakukan sedangkan badan-badan koordinasi tersebar.
  • Terbatasnya waktu bersama dengan masyarakat, jenuh dengan sejumlah badan yang melaksanakan analisis kebutuhan dan situasi, serta persepsi bahwa tidak seharusnya kita membahas kesiapan dengan masyarakat yang masih labil karena bencana tersebut

Proses
Dengan melihat tantangan-tantangan itu, diputuskan untuk menjalankan latihan perencanaan dalam bentuk Pelatihan bagi Pelatih (Training of Trainers - TOT) untuk beberapa target pencapaian tim-tim yang terjun di lapangan. Juga disetujui untuk mengembangkan proses kesiapan ini dari bawah ke atas dengan fokus pada pusat-pusat pembelajaran dini, dan menetapkan hubungan yang lebih luas dengan berbagai sektor dan badan lain sebagaimana diperlukan oleh proses ini. Aspek kunci yang ke tiga adalah mengembangkan rencana-rencana berdasarkan data dan informasi yang tersedia dalam masyarakat dan mencari detail-detail teknis sebagaimana diperlukan, ketimbang proses sepenuhnya dari atas dengan banyak informasi teknis. Tujuan utama TOT adalah:

  • Mengembangkan kerangka kerja tanggap darurat di dua pusat pembelajaran dini;
  • Menjalankan TOT berantai yang sangat praktis untuk mengembangkan prosedur tanggap darurat pada pusat-pusat pembelajaran dini dan mengembangkan kerangka petunjuk penggunaan sumberdaya.

Kegiatan persiapan termasuk lokakarya dengan tim wilayah yang terlibat, (dengan mempertimbangkan aktivitas yang telah dilakukan), dan identifikasi kelompok inti dari para fungsionaris untuk memulai perencanaan sigap darurat pada pusat pembelajaran dini. Lokasi yang dipilih untuk lokakarya memiliki akses mudah ke dua taman kanak-kanak yang terkena Tsunami dan ada persetujuan dari anggota masyarakat (termasuk anak-anak) untuk terlibat dalam proses perencanaan. Lokakarya meliputi penyiapan peralatan untuk memudahkan pelaksanaan lokakarya, terutama karena melibatkan anak-anak dalam sesi diskusi, penerjemahan yang memadai dari buku pegangan, dan pengaturan logistik.

Sesi-sesi lokakarya meliputi persiapan kerja dengan para tim inti untuk memungkinkan mereka melaksanakan diskusi dengan para anggota masyarakat berkaitan dengan sigap darurat sekaligus sesi-sesi praktis dalam masyarakat untuk mengawali proses perencanaan partisipatif dengan fokus pada pusat-pusat pra sekolah. Sesi-sesi utama mencakup:

  • Persiapan dialog masyarakat
  • Analisa situasi dengan masyarakat
  • Memahami hal-hal teknis dalam sigap darurat.
  • Perencanaan sesi lokakarya masyarakat
  • Lokakarya masyarakat agar sigap darurat pada pusat pembelajaran dini
  • Rencana lanjutan

Beberapa pemahaman:

Perencanaan sigap darurat meningkatkan kepercayaan diri masyarakat yang tekena bencana
Selama sesi bahas ulang, para peserta mencatat bahwa prakarsa tersebut menimbulkan minat yang tinggi pada masyarakat. Benih gagasan ditanam dan masyarakat sangat antusias untuk mengembangkan beberapa rencana di tingkat desa. Ini memberikan perasaan mampu mengendalikan hidup mereka yang tampaknya dapat menjadi terapi mereka. Anggota masyarakat termasuk anak-anak, memberi gagasan-gagasan baru dan dapat dilaksanakan untuk dimasukkan dalam perencanaan. Kebutuhan anak-anak dijabarkan dan dibagi dengan orang dewasa; anak-anak mengungkapkan kegembiraan dengan hasil ini dan menginginkan kesempatan serupa di masa mendatang.

Pembangunan kapasitas perlu berkontribusi pada pencapaian target
Dalam keadaan darurat ada kebutuhan mendesak akan bimbingan teknis bagi staf lapangan, yang kebanyakan adalah orang-orang baru dalam organisasi dan juga dalam bidang kerja mereka. Sementara kebutuhan tercermin dalam pencarian ‘ahli’, modul dan buku petunjuk pelaksanaan, materi yang tersedia hanya sedikit membantu karena para staf sulit membaca dengan cepat dan memahaminya. Ini ditambah lagi dengan ketersediaan waktu yang amat terbatas untuk pelatihan. Orientasi tugas lokakarya memungkinkan proses tersebut mendapat dukungan dari para pengelola wilayah yang bertanggung jawab memastikan pencapaian target. Tanpa ini, mustahil melaksanakan proses, mengingat kurangnya waktu para staf. Potensi eksplorasi TOT lebih jauh ialah membuat mereka mampu melihat nilai lokakarya dalam memenuhi kebutuhan yang lebih besar.

Proses praktik langsung memberikan pembelajaran aktif
Para peserta pelatihan menyatakan bahwa ada gunanya belajar dalam sebuah lokakarya dengan langsung praktik, bekerja langsung dengan sekolah TK, untuk memahami konsep sigap darurat melalui aksi langsung. Mereka merasa prosesnya inklusif, para wanita dan anak-anak ikut berperan serta. Hal ini memungkinkan mereka belajar berbagai macam kemampuan antara lain menyediakan fasilitasi, perencanaan sesi, sarana untuk diskusi partisipatif, dan berkomunikasi dengan anak-anak. Lokakarya tersebut mengakomodasi proses perencanaan melalui pemahaman langsung terhadap situasi dan membatasi penggunaan istilah teknis. Hal ini memungkinkan para staf lapangan mengembangkan pemikiran mereka sendiri terhadap semua permasalahan sebelum masuk ke dalam nuansa jargon dan tersesat dalam ‘kelumpuhan analisis’ istilah. Namun perlunya informasi pada permasalahan praktis seperti praktek-praktek darurat baku sangatlah penting.

Tercatat pula bahwa masyarakat terus meminta ‘ahli’ untuk membantu mereka membuat rencana padahal mereka telah banyak memiliki pengetahuan yang dibutuhkan untuk perencanaan awal. Sangat penting bagi kita untuk bekerja melalui pola pikir seperti ini untuk membangun perasaan ‘menjadi orang yang bertanggung jawab’ yang dialami masyarakat melalui lokakarya.

Divya Lata, Yayasan Aga Khan, India dan penasehat bagi Save the Children UK, email: Divya_lata@yahoo.co.in.

 

EENET asia Newsletters : Edisi Simposium April 2006 Daftar Isi

 

Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]
optimised for a resolution of 1024x768
idp - international development partners