![]() |
EENET Asia Newsletter - Edisi Simposium - APRIL 2006 |
|
|
Melawan Stigma dan Diskriminasi atas Orang Terinfeksi atau Tertular HIV dan AIDS Samuel Nugraha Mengapa penyakit HIV atau AIDS berbeda dengan penyakit lain? Utamanya karena ketakutan, kurangnya pengetahuan dan prasangka yang menciptakan stigma serta diskriminasi pada orang yang terinfeksi dan tertular HIV dan AIDS. Untuk merespon epidemik AIDS, kita perlu benar-benar memahami tantangan yang kita hadapi. Pada tahap awal, kita mengira isu ini hanya mempengaruhi kelompok tertentu dalam masyarakat kita, sehingga respon kita pun terbatas. Akibatnya kita kehilangan fokus, HIV masih terus menyebar dan lingkungan inklusif dan suportif hanya tersedia bagi sejumlah kecil orang yang terinfeksi/tertular HIV dan AIDS. Kita segera sadar bahwa HIV dan AIDS masih merupakan tanggungjawab kita bersama. Kami mengubah pendekatan kami menjadi lebih efektif dalam perang melawan penyakit dan diskriminasi serta stigma yang sering menyertai. Kerahasiaan menjadi hal yang mutlak. Bukan hak kita mengetahui status medis seseorang kecuali kita merupakan bagian dari sistem pendukungnya. Meski demikian, sebagai guru atau dokter kita harus selalu memperlakukan informasi ini secara rahasia. Ketika menangani isu HIV dan AIDS, sering secara tidak sengaja kita menemukan status HIV seseorang atau orang terinfeksi atau tertular yang dengan sukarela bercerita kepada kita. Jika seseorang membuka status HIV atau AIDSnya, reaksi kita mungkin adalah kasihan yang merupakan sifat dasar kita sebagai manusia. Kita sebenarnya ingin memberi solusi cepat. Namun penting disadari bahwa kita tidak akan pernah memahami bagaimana rasanya terinfeksi HIV atau AIDS kecuali kita sendiri terinfeksi. Kesadaran ini akan membantu kita memberi dukungan kepada orang dengan HIV atau AIDS. Kita akan tahu keterbatasan kita dan dukungan kita akan lebih tulus, sehingga kepercayaan akan terbangun. Di saat label HIV atau AIDS hilang dari kepala kita, maka kita akan memperlakukan si penderita seperti umat manusia lain. Tidak mudah bagi kita menghadapi HIV atau AIDS tetapi di manapun kita memalingkan muka, kita tetap mendapati HIV atau AIDS ada di antara kita. Oleh karena itu bisa dikatakan kita juga tertular HIV dan AIDS. Akses ke pendidikan berkualitas adalah hak SEMUA anak. Anak yang terinfeksi atau tertular HIV atau AIDS dihadapkan dengan kesedihan mendalam, ketakutan dan kematian dan oleh karena itu mereka membutuhkan dukungan dari lingkungan yang inklusif dan ramah anak di sekolah dan masyarakat. Dukungan ini sangat penting bagi perkembangan mereka. Guru dan penasehat memainkan peran utama dalam menangani perhatian mengenai anak, orangtua dan masyarakat terkait non-eksklusi, non-diskrimasi anak yang terinfeksi atau tertular HIV atau AIDS begitu juga mengenai pendekatan yang praktis dan realistis untuk pencegahan. Dengan segala keterbatasan kita terkait HIV dan AIDS kita tidak boleh berpikir bahwa kita memiliki semua jawaban atas permasalahan atau bahwa kita selalu tahu pemecahan yang terbaik. Kita perlu mengembangkan jaringan kerja kita terkait program HIV karena untuk memenangkan perang ini perlu dukungan dan keterlibatan semua orang. Kita sering menghadapi kesulitan yang kita tidak tahu jawabnya tetapi tetap sulit untuk mengatakan: “Kami tidak tahu, kalau kami tidak tahu!” Tapi hanya dengan cara itulah kita bisa mendapat pengetahuan lebih, menambah pengalaman untuk meningkatkan respon kita dan berkontribusi lebih baik pada upaya nasional serta global dalam melawan AIDS. Pemikiran ini berasal dari pengalaman pribadi selama 3 tahun menjadi mantan pecandu narkoba dan sekarang tinggal dengan seseorang yang terinfeksi HIV dan kebetulan orang itu adalah istri saya! Samuel Nugraha, UNAIDS, Menara Thamrin, Jl. M.H. Thamrin Kav. 3, lantai 10, Jakarta 10250; email: snugraha.unaids@un.or.id EENET asia Newsletters : Edisi Simposium April 2006 Daftar Isi
|
|
|
| optimised
for a resolution of 1024x768 idp - international development partners |