![]() |
EENET Asia Newsletter - Edisi Simposium - APRIL 2006 |
|
|
Praktekkan dan Jangan Takut Farida Torobekova Bagaimana kelas-kelas diselenggarakan di daerah pedesaan saat ini? Sekolah-sekolah sering kekurangan staf dan materi pengajaran yang memadai. Semua ini mempengaruhi kualitas pengajaran dan pekerjaan guru yang seringkali harus menyelesaikan permasalahan sendiri tanpa banyak bantuan. Mari kita analisis secara singkat sebuah kelas rata-rata yang dipimpin seorang guru biasa, dengan anak-anak duduk dalam 3 baris sehingga tidak mampu melihat teman sekelasnya. Guru hanya berinteraksi dengan anak-anak yang duduk di bangku depan. Permainan dan metode interaktif lain jarang digunakan. Anda bertanya: Mengapa Jawabannya sederhana: Karena banyak guru tidak ikut program re-orientasi dan pelatihan, terutama guru-guru di pedesaan. Sejak tahun 2003, kami telah melaksanakan proyek Participation, Education and Knowledge Strengthening dengan dana dari USAID dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas guru. Sebagai bagian dari proyek ini, beragam kegiatan ditawarkan kepada guru. Disediakan pelatihan pada pendekatan yang melibatkan semua anak dalam proses pendidikan dasar dan menyediakan pendidikan berkualitas bagi semua anak, apapun kemampuan dan perbedaan mereka. Kegiatan pelatihan membuat guru mampu menganalisa kapasitas anak-anak, menguji tingkat perkembangan mereka, dan jenis-jenis hambatan yang mungkin mereka hadapi. Selama sesi pelatihan guru-guru juga didorong untuk menganalisa kapasitasnya sendiri dan bagaimana mencari dukungan orangtua, guru lain, anak-anak dan masyarakat. Sekembalinya dari masa pelatihan, para guru sedikit takut dan mengira-gira bagaimana semua metode baru tersebut dapat dipraktekkan di pengajaran dalam kelas? Apakah metode-metode tersebut akan memberi dampak buruk pada kualitas pengajaran? Apakah metode tersebut efektif? Zymyrat Rahmanovna Sadirova adalah seorang guru sekolah dasar di sekolah Tajibai di kecamatan Osh oblast. Dia telah mengajar di sekolah itu selama 21 tahun. Sejak tahun 2003, Zymyrat mengikuti program pelatihan pendidikan inklusif dengan pendekatan langkah demi langkah. Ketika diwawancarai dia mengatakan: "Saya menyukai metode-metode yang diadopsi ketika pelatihan. Kami mempelajari permainan-permainan menarik, metode dan pendekatan mengajar baru dari guru-guru lain”. Zymyrat mulai melaksanakan apa yang telah dia pelajari begitu dia kembali dari pelatihan. "Pada awalnya saya takut menggunakan metode baru tersebut dalam mengajar anak-anak karena kami terbiasa dengan bentuk pengajaran kelas yang standar, maksud saya metode dan rencana pengajaran tradisional. Kini, saya dapat melihat efek metode baru itu. Metode tersebut membantu anak-anak lebih bisa mengandalkan diri sendiri, terbuka, dan aktif. Murid saya tidak lagi takut berbicara. Kami banyak bermain dan tiap permainan memiliki tujuan pendidikan tertentu". Zymyrat mengatakan, bahwa pada mulanya semua guru takut menggunakan metode baru karena pejabat pendidikan setempat mungkin menganggap kelas-kelas dengan metode baru tidak bermanfaat karena struktur kelas telah berubah secara mendasar. Kini, kami bekerja dengan pasangan dan kelompok kecil. Kami menggunakan banyak waktu untuk mengembangkan kegiatan dan permainan interaktif. “Sekarang, saya tidak sekhawatir dulu lagi tentang pelajaran saya. Dalam kelompok saya, bahkan terdapat anak-anak dengan kebutuhan khusus. Saya mengatakan bahwa semua anak dapat belajar, setiap anak berbakat dan memiliki prestasi beragam pada mata pelajaran yang berbeda-beda pula". Menurut Zymyrat pelatihan juga mendorong para guru untuk bekerjasama dengan orangtua. Zymyrat mengatakan: "Tahun ini, saya bermaksud melibatkan lebih banyak orangtua dalam pengajaran saya. Saya berencana mengundang mereka ke kelas saya untuk menunjukkan bagaimana anak-anak mereka belajar, mencoba, menyusun, dan menciptakan sesuatu yang baru. Saya percaya bahwa orangtua harus menjadi tangan kanan guru, mereka harus membantu anak-anak mereka. Saya percaya, ini adalah tugas saya untuk meningkatkan minat mereka, menunjukkan apa yang dapat dicapai orangtua dan anak-anak jika mereka bekerjasama.” Farida Torobekova, Save the Children UK, Kyrgyzstan; email: project@oshmail.kg; alamat Save the Children UK; 302, Lenina Str., 16 Osh; Kyrgyzstan
EENET asia Newsletters : Edisi Simposium April 2006 Daftar Isi
|
|
|
| optimized
for a resolution of 1024x768 idp - international development partners |