EENET
asia Newsletters : edisi perdana
JUNI 2005 Daftar Isi
Sekolah Ramah terhadap Anak-Anak
dari Minoritas Etnis
Marc Wetz
Selama beberapa tahun Marc Wetz bertanggung
jawab di bidang pendidikan di kantor perwakilan UNICEF untuk wilayah Thailand
Utara. Sejak ia memegang jabatan barunya sebagai Perwakilan Negara bagi
Enfants et Developpement pada bulan Oktober 2003, ia menerapkan konsep
Ramah terhadap Anak di dua proyek untuk minoritas etnis di wilayah pegunungan
terpencil di Vietnam Utara. Dalam artikel ini ia memaparkan beberapa faktor
penting pendorong kesuksesan konsep Sekolah yang Ramah terhadap Anak [SRA]
dalam konteks minoritas etnis.
Semua Sekolah perlu
menjadi Sekolah Ramah terhadap Anak-tidak hanya Sekolah Dasar
Saya terkejut ternyata banyak organisasi yang masih berencana menerapkan
SRA hanya di sekolah dasar. Manfaat dari penerapan konsep SRA di TK, SD
dan SLTP/SLTA sangatlah jelas. Apakah kita ingin mengekspos anak-anak
kepada kritikan pedas, siksaan fisik di Sekolah Menengah jika mereka tidak
berpartisipasi dalam kelas karena keingintahuan dan bersikap proaktif
seperti ketika mereka belajar di SD yang Ramah Terhadap Anak? Dalam keadaan
seperti itu lebih baik kita membiarkan saja daripada membingungkan anak-anak,
para guru dan anggota masyarakat.
Melengkapi Inisiatif
SRA melalui inisiatif Desa yang Ramah terhadap Anak/Keluarga
Ada banyak alasan ditemukan di masyarakat mengapa anak-anak memiliki kesulitan
untuk bersekolah dan kesulitan untuk tetap meneruskan sekolah. SRA mendorong
sekolah untuk terlibat secara proaktif dalam membangkitkan inisiatif masyarakat.
Kita harus menghubungkan SRA dengan inisiatif masyarakat/keluarga yang
ramah terhadap anak yang dapat meningkatkan standar hidup di desa serta
membantu mencari solusi rendahnya tingkat kehadiran di sekolah.
Implementasi Seluruh
Komponen/Dimensi SRA secara bersamaan.
Di daerah minoritas etnis yang tantangannya besar dalam hal akses dan
ritensi, cenderung hanya memfokuskan pada persiapan kelas yang aksesibel
dalam lingkungan fisiknya saja. Bagaimanapun juga lingkungan sosial-psikologis
(cth; pembelajaran aktif, metodologi pengajaran yang terpusat pada anak
dan keterampilan hidup) itu penting dan harus diterapkan secara tepat
sejak awal. Seluruh dimensi SRA saling berhubungan dan saling mendukung
satu sama lain. Aktifitas-aktifitas dalam cakupan lingkungan sosial psikologis
merupakan faktor penarik yang sangat penting dan jika tidak disertakan
dalam strategi penerapan SRA kita, bisa menjadi faktor penolak.
Adaptasi SRA
ke dalam konteks lokal melalui identifikasi prioritas unik setiap daerah
(indikator eksternal dan internal)
Sekolah-sekolah di wilayah minoritas etnis lebih disoroti dari konteks
ekonomi dan sosialnya daripada di wilayah etnis mayoritas. Ini berarti
sekolah harus menyiapkan prioritasnya sendiri daripada hanya mempergunakan
prioritas dari mayoritas etnis . Jika ini dilaksanakan dengan partisipasi
dari anak-anak dan anggota masyarakat, akan memberikan kontribusi signifikan
terhadap tumbuhnya rasa memiliki kepada inisiatif SRA. Sangatlah penting
jika prioritas utama adalah anak (cth; guru harus berbicara dengan nada
bicara yang menyenangkan dan lembut) dan anggota masyarakat dihargai ketika
kriteria final ditetapkan.
Membangun Partisipasi
Tinggi bagi Anak-Anak dan Anggota Masyarakat
Ini sangat penting karena melihat kenyataan bahwa minoritas etnis sering
memiliki kepercayaan diri rendah, tidak memahami bahasa nasional yang
digunakan oleh guru. Biasanya mereka merasa tidak memiliki kapasitas untuk
terlibat urusan sekolah. Walaupun ini berat tantangannya, manfaat melibatkan
mereka dalam setiap langkah inisiatif SRA sangatlah besar. Bukti proses
partisipasi adalah dengan melibatkan mereka sejak awal dalam sensitisasi
Konvensi Hak Anak [KHA], visualisasi `sekolah impian' mereka, menyusun
kriteria SRA mereka sendiri, penilaian sekolah sendiri, menyusun rencana
pengembangan sekolah tahunan dan monitoring proses implementasi seyogyanya
dengan menggunakan perangkat monitoring yang tepat dan diadaptasikan bagi
anak-anak dan anggota masyarakat.
Implementasi kurikulum
lokal untuk membuat pendidikan lebih sesuai dengan konteks dan sebagai
langkah pertama untuk sekolah menjadi ramah terhadap masyarakat
Cara baik untuk membuat kurikulum sekolah lebih sesuai dengan konteks
lokal adalah dengan mengembangkan kurikulum lokal. Semua komunitas etnis
memiliki nara sumber yang kaya akan pengetahuan daerahnya (cth; keterampilan
mata pencaharian seperti bertenun, bahasa, kepercayaan, sejarah, lagu,
dsb). Memang para nara sumber ini membutuhkan pelatihan in-service dan
dukungan guru-guru karena mereka belum memiliki kapasitas mengajar di
sekolah. Dengan melibatkan kurikulum lokal dalam inisiatif SRA tidak hanya
bermanfaat untuk penyelenggaraan pendidikan yang lebih sesuai dengan konteks
daerah tapi menjadikan sekolah sebagai bagian dari komunitas daerah karena
keterlibatan anggota masyarakatnya. Proses ini akan mengembalikan kepercayaan
diri minoritas etnis. Ini mengurangi jurang pemisah antara masyarakat
dan sekolah juga merupakan sebuah landasan yang tepat bagi pembelajaran
untuk orang dewasa serta membuat sekolah-sekolah tidak hanya ramah terhadap
anak dan guru tetapi juga ramah terhadap masyarakat.
Fasilitas asrama tidak
boleh dilupakan karena asrama memberikan kesempatan yang baik untuk pengenalan
Aktifitas Keterampilan Hidup
Kebanyakan wilayah minoritas etnis tidaklah padat maka jarak sekolah dan
rumah jadi kendala. Oleh karena itu fasilitas asrama yang memadai adalah
suatu keharusan bagi tiap SRA. Fasilitas itu harus sehat, aman dan protektif
(ini sangat penting bagi anak perempuan) serta menyediakan kesempatan
yang baik untuk membuat aktifitas-aktifitas dalam ekstra kurikulum seperti
klub-klub berdasarkan minat dengan pelatihan untuk mata pencaharian dan
keterampilan hidup yang dapat menjadi titik awal yang baik untuk memperkenalkan
aktifitas tersebut di sekolah.
Advokasi untuk
kebijakan yang ramah terhadap minoritas etnis.
Inisiatif SRA harus melibatkan usaha-usaha yang membuat kebijakan pemerintah
menjadi lebih ramah terhadap anak dari kelompok minoritas etnis. Sebagai
contoh; tahun ajaran sekolah yang fleksibel harus dapat mengakomodasi
masa panen dan musim dingin untuk menaikan tingkat kehadiran siswa di
sekolah. Disini dibutuhkan kurikulum yang fleksibel dan teradaptasi, begitu
juga bagi sekolah-sekolah yang bersikap proaktif dalam melibatkan anak-anak
yang sudah menikah usia dini.
Marc Wetz adalah Perwakilan Negara
untuk Enfants et Developpement (Dulu "Save the Children France"),
Ia dapat dihubungi di:
103 Van Phuc Building, No 2 Nui Truc, Kim Ma, Hanoi, Vietnam, mwetz@eedvn.org
EENET asia
Newsletters : edisi perdana
JUNI 2005 Daftar Isi
|