![]() |
EENET Asia Newsletter - Edisi Perdana - JUNI 2005 |
|
|
Inklusi Pendidikan bukanlah
tentang Kecacatan atau Kebutuhan Khusus Bagaimana kita dapat menciptakan sekolah-sekolah yang akan membantu siswa terjun ke masyarakat yang beragam? Bayangkan skenario ini: Tom, seorang anak pendiam yang duduk di kelas 6, berusia sekitar 11 tahun, mendapatkan makan siang di sekolahnya. Dia mulai menaruh makanan di atas piringnya, di sebuah meja yang sebelumnya telah ditempati oleh anak-anak lain. Salah satu dari anak laki-laki itu berkata, “Pergi sana!” Tom meninggalkan meja tersebut dan mendekati meja lain yang sudah ditempati. Di sana ia dibentak “Enyahlah dari sini!” Tom pergi lalu menaruh piringnya pada meja ketiga, sadar bahwa ia lupa sendoknya, kemudian ia kembali ke konter untuk mengambilnya. Ketika ia kembali ke meja piringnya telah hilang. Bagaimana anda menilai situasi ini? Adakah masalah di sana? Jika demikian, masalah siapakah ini? Apakah yang seharusnya dilakukan oleh para guru/kepala sekolah terhadap situasi ini? Haruskah Tom dipindahkan ke sekolah lain karena anak-anak lainnya tidak mau duduk dengannya? Mungkin penilaian anda mengenai iklim sosial di sekolah tersebut bermasalah dan ada sesuatu yang seharusnya dilakukan untuk membangun masyarakat dan mengembangkan kemampuan sopan santun bersosial di antara siswa. Mungkin anda akan mengembangkan analisa ini menjadi isu tentang ras, kasta, bahasa, orientasi seksual, jender, atau etnis, dan mempertanyakan masalah apa yang terjadi di sekolah serta bagaimana mengatasinya. Mungkin anda akan mendapati sikap siswa-siswa lainnya yang tidak sopan, tidak dapat diterima menjadi warga masyarakat nantinya dari komunitas global. Bagaimana jika saya beritahukan bahwa sesungguhnya Tom adalah seorang anak dengan selera humor yang mengagumkan, seorang pecinta buku-buku fiksi ilmu pengetahuan, memiliki antusias tinggi terhadap sepak bola, dan juga seorang Down Syndrome. Akankah analisa anda berubah? Akankah anda kini melihat situasinya secara berbeda? Akankah anda mengatakan, “Oh, dia seorang murid sekolah luar biasa!” Akankah anda menyimpulkan, seperti yang dilakukan kepala sekolah Tom tentang inklusi, “Baiklah, tingkah laku ini menunjukkan bahwa inklusi tidak berhasil dan bahwa Tom harus berada di sekolah luar biasa dengan anak-anak lainnya seperti dia, sehingga ia tidak akan diperlakukan seperti di sekolah reguler itu. Ini adalah kisah nyata. Situasi ini memunculkan banyak pertanyaan lainnya. Jika anak-anak memperlakukan Tom demikian, bagaimana tanggapan mereka terhadap seorang anak perempuan yang kelebihan berat badan, anak laki-laki yang berjerawat, seorang siswa dengan dua orang ibu yang lesbian, atau anak perempuan yang baru saja tiba dari Kamboja dengan keterbatasan kemampuan Bahasa Indonesia? Yakinkah kita bahwa murid-murid di sekolah ini menyambut dan menerima seluruh bentuk keragaman – kecuali kecacatan – dan bahwa masalah ini hanyalah tentang pendidikan luar biasa? Atau apakah kisah ini membantu kita berpikir tentang cara-cara yang dapat dilakukan sekolah-sekolah yang mencerminkan masyarakat yang luas. Bagaimana kita menggunakan kisah perlakuan salah terhadap Tom untuk memikirkan perlunya kebijakan-kebijakan, praktek-praktek, dan norma-norma di sekolah kita yang dapat menumbuhkan atau menghalangi tanggapan positif terhadap perbedaan dan keberagaman? Kehadiran dan pengalaman Tom di sekolah ini merupakan indikator ketidaksempurnaan kurikulum sekolah kita, pengajaran/ pedagogi, iklim sosial dan persiapan guru – suatu asesmen kebutuhan dan laporan kemajuan untuk menciptakan sekolah dan dunia yang inklusif. Ejekan dan perlakuan kasar merupakan isu yang lebih luas dibandingkan dengan kecacatan. Salah satu prinsip penting berhubungan dengan tingkah laku seperti ini yang terjadi di masyarakat ialah agar para guru menanggapinya melalui layanan pendidikan dan tanggapan publik (yang mengacu pada menghargai kesetaraan). Iklim sosial di dalam kelas berperan penting dalam penyetaraan martabat dan belajar, tetapi para guru sering kali terlalu sibuk dengan urusan kurikulum atau menyiapkan ulangan serta ujian. Dengan hanya menciptakan siswa yang dapat lulus ujian, tetapi memperlakukan satu sama lainnya dengan kejam atau kasar bukan suatu formula untuk keberhasilan sekolah atau masyarakat demokratis. Setiap orang memerlukan strategi-strategi untuk menanggapi secara berani bahasa dan tingkah laku yang menindas. Para siswa, orang tua, guru dan tata usaha seharusnya ikut serta dalam mengembangkan strategi-strategi itu. Kita dapat memulai dengan menelaah lelucon. Hampir setiap orang pernah menerima lelucon yang menyinggung atau “tidak lucu”. Apakah orang tersebut memberi tanggapan? Mengapa atau mengapa tidak? Apakah konsekuensi nyata dengan mengatakan, “Saya rasa itu tidak lucu” atau “Saya tidak suka lelucon yang menertawakan orang-orang dari negara lain?" Apa yang akan anda katakan jika yang melontarkan lelucon itu adalah orangtua anda atau guru anda, seorang siswa yang terkenal di kelas, atau bahkan pimpinan anda? Para siswa di kelas inklusif belajar untuk
bertanya, “Apa yang harus kita pikirkan agar semua orang berpartisipasi
aktif dan belajar dan “Apa yang seyogyanya anak-anak bawa ke dalam
lingkungan belajar agar setiap orang dapat mengambil manfaatnya”. Kita perlu mengkaji istilah-istilah yang digunakan selama ini: Benarkah apa yang kita sebut pendidikan luar biasa sebenarnya memisahkan pendidikan bagi banyak siswa? Mengapa hanya sebagian siswa saja yang masuk dalam kelas inklusif? Bagaimana dengan komitmen bahwa SEMUA siswa harus dilibatkan, lalu mengganti nama kelas inklusif menjadi kelas saja atau praktek baku? Inklusi hanyalah masalah keadilan sosial untuk semua. Diadpatasi dari “Teaching All Students” hal.25-28, “Inclusion: A matter of Social Justice” oleh Mara Sapon Shelvin [Educational Leadership 2005]
EENET asia Newsletters : edisi perdana JUNI 2005 Daftar Isi
|
|
|
| optimized
for a resolution of 1024x768 idp - international development partners |