Untitled Document
IDP Norway

EENET Asia Newsletter - Edisi Perdana -

JUNI 2005

EENET Global
Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]


EENET asia Newsletters : edisi perdana JUNI 2005 Daftar Isi

Apa arti sebuah Nama…
Sebutan dan Istilah berkenaan dengan Kecacatan dan Kebutuhan Pendidikan Khusus


Els Heijnen

Bahasa negatif dan merendahkan akan menghasilkan citra negatif dan juga merendahkan. Kata-kata sangatlah penting dan para guru khususnya, harus memastikan kata yang digunakan tidak menyinggung atau memancing stereotip negatif.

Bahasa digunakan untuk membentuk ide, persepsi dan sikap. Kata-kata yang digunakan menggambarkan perilaku yang berlaku di masyarakat. Perilaku ini sering menjadi penghalang yang sulit diubah. Bagaimanapun juga, perilaku positif dan penuh hormat dapat dibentuk melalui penggunaan kata secara bijaksana, yang menjelaskan secara obyektif tanpa maksud menghakimi.

Kata-kata seperti kelainan, kecacatan dan hamabtan sering digunakan secara bergantian. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan seksama mendefinisikan ketiga kata ini (lihat di kotak), dengan mempertimbangkan hak asasi manusia, perbedaan dan keragaman. Kecacatan saat ini dipandang sebagai kumpulan kondisi rumit, yang kebanyakan diciptakan oleh lingkungan sosial. Karenanya manajemen masalah ini membutuhkan aksi sosial– dan adalah tanggung jawab bersama untuk memodifikasi lingkungan agar anak dan orang dewasa yang cacat dapat berpartisipasi penuh dalam seluruh aspek kehidupan.

Ketika berbicara tentang orang cacat, masyarakat sering menggunakan sebutan yang secara tidak langsung menyatakan penilaian negatif. Orang-orang melabel dengan sebutan si cacat, si tuli atau si terbelakang mental seakan-akan hanya itulah karakteristik mereka.

Padahal mereka mungkin mempunyai kelainan, kecacatan, hambatan sebagai salah satu dari banyak karakteristik lainnya.
Membicarakan tentang ”si terhambat”, ”si cacat”, ”si tuli” sangatlah menghina dan menyakiti martabat seseorang. Ini melabelkan mereka ke dalam satu kelompok yang dianggap sejenis dan stereotip. Sebutan itu memfokuskan pada kecacatannya bukan pada orangnya.

Keterbelakangan mental adalah sebutan negatif lainnya yang dapat melukai perasaan seseorang dan anggota keluarganya. Akan sangat lebih baik jika menggunakan istilah “Kecacatan Intelektual”.

Istilah baru seperti OPC (Orang Penyandang Cacat), APC (Anak Penyandang Cacat), OTL (Orang Terinfeksi Lepra) adalah pengertian baru yang sama saja dengan sebutan lalu. Orang seharusnya tidak dibuat menjadi singkatan. Kita tidak menggunakan singkatan untuk kelompok apapun dan terhadap orang-orang yang memiliki kecacatan.

Sangatlah penting untuk disadari bahwa keragaman di antara manusia adalah normal dan demikian juga berbagai kategori orang dengan kecacatan berbeda. Seorang guru bisa saja mempunyai dua murid tunanetra yang membutuhkan pendekatan pembelajaran yang sangat berbeda karena keragaman itu normal baik di antara orang-orang yang tanpa dan yang memiliki kecacatan.

Pendidikan dan Pebelajar yang Berkelainan/Cacat:
Mainstreaming, integrasi dan inklusi merupakan penjabaran situasi dimana anak berkelainan/dengan kecacatan diperbolehkan belajar bersama dengan teman sebayanya tanpa kecacatan dengan anggapan mereka dapat menyesuaikan kepada sistem maintream dan peraturannya (mainstreaming/integrasi). Hanya ‘inklusi’ mencerminkan hak asasi manusia dan isu keadilan sosial dari pendidikan eksklusif mungkin akibat kebijakan dan praktek yang kaku dalam sistem pendidikan mainstream.

Mainstream adalah sistem pendidikan yang menempatkan anak-anak cacat di sekolah-sekolah umum, hanya jika mereka dapat mengikuti kurikulum akademis yang berlaku, dan guru juga tidak harus melakukan adaptasi kurikulum. Mainstream kebanyakan diselenggarakan untuk anak-anak yang sakit yang tidak berdampak pada kemampuan kognitif, seperti epilepsi, asma dan anak-anak dengan kecacatan sensori (dengan fasilitas peralatan, seperti alat bantu dengar dan buku-buku Braille) dan juga mereka yang memiliki tunadaksa.

Integrasi berarti menempatkan siswa yang berkelainan dalam kelas dengan teman-teman sebaya mereka yang tidak memiliki kecacatan. Sering terjadi di sekolah integrasi dimana anak-anak hanya mengikuti pelajaran-pelajaran yang dapat mereka ikuti dari gurunya, dan untuk kebanyakan mata pelajaran akademis, anak-anak ini menerima pelajaran pengganti di kelas berbeda, terpisah dari teman mereka. Penempatan terintegrasi tidak sama dengan integrasi pengajaran dan integrasi sosial, karena ini sangat tergantung pada dukungan yang diberikan sekolah (dan dalam komunitas yang lebih luas).
Inklusi adalah sebuah filosofi pendidikan dan sosial. Mereka yang percaya inklusi meyakini bahwa semua orang adalah bagian yang berharga dalam kebersamaan masyarakat, apapun perbedaan mereka. Dalam pendidikan ini berarti bahwa semua anak, terlepas dari kemampuan maupun ketidak mampuan mereka, latar belakang sosial-ekonomi, suku, latar belakang budaya atau bahasa, agama atau jender, menyatu dalam komunitas sekolah yang sama.

Filosofi Inklusi adalah mengenai; kepemilikan, keikutsertaan dalam komunitas sekolah dan keinginan untuk dihargai. Lawan katanya adalah eksklusi yang berarti penolakan, keterbatasan dan ketidakberdayaan dan sering mengarah kepada frustasi dan kebencian. Inklusi dan Pendidikan Inklusif tidak mempermasalahkan apakah anak dapat mengikuti program pendidikan, namun melihat pada guru dan sekolah agar dapat mengadaptasi program pendidikan bagi kebutuhan individu.

Kelainan: mengacu pada ketidaknormalan fungsi sistem organ. Kelainan biasanya mengacu pada keadaan medis atau organik, contohnya keterbatasan jarak pandang (myopic), gangguan jantung, cerebral palsy atau gangguan pendengaran.

Kecacatan: konsekuensi fungsional dari kelainan. Seorang anak yang memiliki spina bifida, yang karenanya tidak dapat berjalan tanpa bantuan tongkat penopang, berarti ia memiliki kecacatan. Namun, seseorang yang myopic yang diberikan kacamata sehingga bisa melihat dengan baik maka disebut memiliki kelainan tapi bukan kecacatan!


Hambatan: konsekuensi sosial atau lingkungan akibat kecacatan. Banyak orang dengan kecacatan tidak merasa hambatan. Masyarakat sering membuat mereka menjadi hambatan karena adanya penolakan, diskriminasi, prasangka dan akses fisik yang membatasi mereka dalam membuat keputusan dan pilihan yang mempengaruhi hidupnya. Contohnya: Jika anak yang berkursi roda tidak dapat memasuki komunitas sekolah, dia memiliki hambatan dalam memanfaatkan sarana sekolah. Ketika sekolah dapat diakses oleh pengguna kursi roda, maka hambatan ini hilang. Hambatan sering mengurangi fleksibilitas, sumber daya dan sikap masyarakat.


Els Heijnen adalah Penasehat Proyek STEP [Support for Teacher Education Project]. Ia dapat dihubungi di:
National Institut of Education [NIE] Paro, Bhutan
Email: els.heijnen@helvetas.org


EENET asia Newsletters : edisi perdana JUNI 2005 Daftar Isi

 

Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]
optimized for a resolution of 1024x768
idp - international development partners