Untitled Document
IDP Norway

EENET Asia Newsletter - Edisi Perdana -

JUNI 2005

EENET Global
Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]


EENET asia Newsletters : edisi perdana JUNI 2005 Daftar Isi

Mengamati lebih dekat Monster Kurikulum: Menggunakan Diferensiasi Kurikulum untuk Merespon Keberagaman Siswa

Anupam Ahuja

Tak ada dua orang anak yang sama. Kita sering menggunakan dan mendengar pernyataan ini, namun mengapa semua siswa diharuskan mempelajari hal yang sama pada saat yang bersamaan dan dengan menggunakan alat dan metode yang sama? Apakah kita memenuhi hak-hak semua anak atas pendidikan ketika mengikuti “kurikulum yang telah ditentukan” dan menyelesaikan dalam alokasi waktu yang telah ditentukan tanpa mempertimbangkan adanya perbedaan kebutuhan belajar dan gaya belajar siswa?

Apakah kurikulum itu? Apakah hanya buku pedoman yang harus diajarkan dari awal hingga akhir tahun ajaran? Apakah tepat untuk pengawas sekolah dengan hanya menilai segi kemampuan guru untuk menyelesaikannya dalam kerangka waktu yang diberikan? Jelas, jawabannya “tidak”. Kurikulum terdiri dari apa yang diajarkan (isi), juga apa yang dipelajari dan bagaimana cara menyampaikannya.

Di banyak negara di wilayah kita, kurikulum dirancang secara terpusat, kaku, hanya sedikit ruang bagi guru untuk membuat adaptasi lokal dengan mencoba pendekatan baru. Isinya berbeda jauh dengan kenyataan dimana siswa tinggal, dan oleh karenanya kurang mengena dan tidak dapat memberikan motivasi. Kemungkinan juga karena bias jender, meremehkan atau mengasingkan kelompok sosial budaya tertentu, dan ini membatasi kemajuan dan pengakuan bagi semua siswa.

Pendekatan responsif mengkritik pengajaran berdasarkan kriteria rata-rata. Pendekatan ini menempatkan siswa pada pusat pembelajaran berdasarkan apresiasi perbedaannya dalam pemahaman, perasaan, ketrampilan sosial dan persepsi, serta mendorong guru untuk kreatif, berbagi dan mencari solusi yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing siswa. Kurikulum ini menjamin akses bagi “semua”.

Beberapa strategi yang digunakan adalah:

• Menyediakan waktu fleksibel bagi siswa untuk mempelajari berbagai mata pelajaran.
• Memberikan kebebasan kepada guru dalam memilih metode kerja mereka.
• Memberi kesempatan pada guru untuk memberikan dukungan yang dibutuhkan dalam mata pelajaran praktis (cth; orientasi mobilitas) di dalam dan di luar jam pelajaran.
• Menekankan pada aspek pelatihan pra-kejuruan.

Beberapa langkah praktis berikut bisa dilakukan untuk membuat kurikulum lebih responsif. Beberapa permasalahan yang perlu dipertimbangkan adalah:

• Apakah nilai-nilai kemanusiaan yang mempromosikan pendidikan inklusif dikembangkan melalui kurikulum?
• Apakah hak asasi manusia dan hak anak menjadi bagian dari kurikulum? Apakah kurikulum memusatkan pada keseimbangan antara hak dan kewajiban, dan bagaimana kurikulum dapat diajarkan dan menjadi panutan?
• Apakah isi kurikulum itu relevan dengan kehidupan anak dan masa depannya?
• Apakah kurikulum mempertimbangkan jender, identitas budaya dan latar belakang bahasa?
• Apakah kurikulum menggunakan pendidikan lingkungan hidup?
• Apakah metode pengajarannya terpusat pada anak dan interaktif?
• Respon yang bagaimanakah yang dapat dimasukkan ke dalam revisi kurikulum?
• Bagaimana hubungan kurikulum dengan sistem penilaian nasional?
• Sejauh mana otoritas sekolah bertanggung jawab dalam mengawasi sekolah dalam hubungannya dengan revisi kurikulum?

Sejalan dengan kurikulum yang fleksibel, metodologi belajar mengajar yang fleksibel juga perlu diperkenalkan. Maka perubahan kebijakan diperlukan yaitu mengubah pelatihan pre-service guru yang teoritis menjadi pembangunan kapasitas in-service yang berkesinambungan, dengan menggunakan pendekatan menyeluruh. Sekolah-sekolah sangat perlu dibantu untuk memodifikasi mata pelajaran dan metode kerjanya, hal ini harus terkait dengan pelatihan keterampilan yang sesuai serta mengedepankan pentingnya mengenal siswa secara individual. .

UNESCO membantu mengembangkan banyak program inklusif dan responsif di seluruh dunia dan menghasilkan banyak materi. “Mengubah kebiasaan Mengajar dengan Diferensiasi Kurikulum untuk Merespon Keberagaman Siswa” adalah untuk mendukung penciptaan kelas-kelas inklusif dengan menekankan pada strategi guru dalam memberikan pengalaman belajar bermakna bagi semua siswa di kelas.

Kebutuhan materi ini berasal dari kinerja guru dalam di kelas di seluruh dunia. Kebanyakan para guru menyadari bahwa mereka harus mengadaptasi, memodifikasi, dan membedakan pengajaran mereka sebagai jaminan bahwa semua siswa belajar berdasarkan potensi yang mereka miliki. Bagaimanapun juga, guru juga merasa bahwa kurangnya keterampilan dan pengetahuan siswa adalah karena materi ini. Sumber daya manusia yang sedikit, namun jumlah siswa terlalu besar.

Perkembangan materi ini berdasarkan pengalaman para ahli pendidikan dari berbagai wilayah dan respon yang diberikan guru terhadap keberagaman siswa seperti latar belakang, pengalaman, kegemaran, metode belajar, kemampuan dan kebutuhan untuk memodifikasi dan mengadaptasi kurikulum. Inilah praktek pendidikan inklusif yang sebenarnya dengan partisipasi yang bermakna bagi semua anak di sekolah, dalam satu kelas dan satu pelajaran. Hal ini terus perlu dikembangkan.

Banyak diskusi dalam materi ini adalah tentang “bagaimana pengajaran bagi semua anak” dengan menghilangkan kerumitan melalui akal.

Sebagian teks ini diadaptasi dari UNESCO (2003) Mengatasi Eksklusi Melalui Pendekatan Inklusif dalam Pendidikan: Tantangan dan Visi. Konsep Makalah, Paris.

Anupam Ahuja adalah konsultan lepas dengan 20 tahun pengalaman dalam bidang pendidikan dan memfokuskan pada pengembangan implementasi inklusi. Ia telah bekerja di tingkat nasional dan internasional di Afrika, Asia dan Eropa Timur; Ia dapat dihubungi di: ahujaa@vsnl.net
A-59Malviya Nagar
New Delhi 1100017
Tel: +911126681303
Mobile: +9810652249
Fax: +911124360850


EENET asia Newsletters : edisi perdana JUNI 2005 Daftar Isi

 

Untitled Document [about idp] [contact] [Seminars and Meetings] [UNESCO Toolkit] [EENET asia Newsletter] [links] [search] [home]
optimized for a resolution of 1024x768
idp - international development partners