Navigation

Home

About IDP Norway

Vision and Mission

Field of Work

Country Experience

Organisational Structure

Publications

• Compendia

Links

Contact

EENET Asia

ILFE Toolkit: Afghanistan

ILFE Toolkit: Indonesia

EENET asia Newsletters : Edisi 8

Pendidikan bagi Anak Tunanetra di Kamboja: Berada Dalam Pengawasan Kementerian Pendidikan

Hem Sangva

Sistem pendidikan di Kamboja secara perlahan-lahan kembali stabil setelah rezim Khmer Merah dan bertahun-tahun tanpa ada struktur persekolahan. Pada tahun 2000 pemerintah Kamboja menandatangani Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) dan berkomitmen pada tujuan Pendidikan Untuk Semua bagi penyediaan pendidikan dasar universal di tahun 2015. Pada kenyataannya, selama bertahun-tahun anak-anak usia sekolah yang mendaftar sekolah telah meningkat secara signifikan. Namun angka rata-rata anak-anak dengan disabilitas yang terdaftar di sekolah masih tetap rendah. Sekitar 166,600 orang tunanetra di Kamboja (sensus tahun 2007 oleh Fred Hollows Foundation) termasuk lebih dari 33,000 anak-anak (22% dari populasi tunanetra). Kebanyakan dari mereka tidak bersekolah.

Sekolah Krousar Thmey pertama bagi anak tunanetra dibuka pada tahun 1994 di Phnom Penh. Saat ini ada 5 sekolah yang menyediakan program pendidikan khusus sesuai dengan Kurikulum Pendidikan Nasional dari tingkat 1 sampai 12 (SD sampai SMA). Selain mengembangkan program pendidikan bagi anak-anak tunanetra, Krousar Thmey telah bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga untuk membuka kelas inklusif di sekolah umum. Salah satu tujuan utama dari Krousar Thmey adalah menawarkan akses pada pendidikan yang sesuai bagi anak-anak tunanetra dengan tujuan untuk membimbing mereka pada kehidupan yang mandiri dan juga mendapat pengakuan dari masyarakat Kamboja. Oleh karenanya, pengembangan pendidikan bagi kaum tunanetra harus menghadapi dua macam tantangan: bagaimana membangun pendidikan khusus dengan sitem pemerintahan, dan bagaimana melibatkan pemerintah dan meningkatkan kesadaran masy

Memperkenalkan pendidikan khusus bagi anak-anak tunanetra di Kamboja
Krousar Thmey dimulai dengan menciptakan semua alat pedagogi yang diperlukan dalam mengembangkan sebuah pendidikan khusus. Oleh karenanya, pada tahun 1993 Krousar Thmey membuat sebuah sistem Braille lengkap di Khmer, diinspirasi dari sistem Bahasa Thailand. Tim pendidik menemukan sebuah persamaan untuk 33 konsonan, 21 vokal dan tanda baca dari alfabet Khmer. Saat ini, para guru dan koordinator program bertemu setiap tahunnya untuk memperbaiki sistem Braille sebagai contoh adanya penambahan transkripsi dari simbol baru matematika dan fisika. Langkah berikutnya akan menetapkan sebuah sistem singkatan untuk memungkinkan anak-anak untuk dapat menulis lebih cepat.

Untuk berusaha mencapai sebuah pengakuan resmi bagi pendidikan untuk tunanetra, Program Krousar Thmey sebaiknya mengikuti kurikulum Kementerian Pendidikan. Oleh karena itu, menghadapi kurangnya peralatan sekolah, Krousar Thmey menciptakan sebuah "seminar pembuatan buku" untuk menterjemahkan semua buku teks dari kurikulum sekolah umum. Krousar Thmey menggunakan perangkat lunak penerjemah yang disebut KBT (Khmer Braille Translator) dan DBT (Duxbury Braille Translator). Pada tahun 2009, Krousar Thmey membeli mesin Braillo 200, yang dapat mencetak 200 sel per detik dan kurang lebih 600 halaman per jam. Dengan demikian, pada awal tahun ajaran, semua kelas dilengkapi dengan jumlah buku sebanyak jumlah muridnya.

Anak-anak tunanetra mendapatkan 2 tambahan mata pelajaran khusus. Krousar Thmey menguraikan 2 kursus khusus bagi siswa kelas 1 untuk memungkinkan mereka dengan cepat mencapai kemandirian dalam lingkungan sekolah dan selama pelajaran: kursus orientasi dan mobilitas dan pelajaran Braille Khmer. Ketika seorang anak tunanetra memasuki kelas 1, seringkali itu adalah pertama kali ia keluar dari rumah dan pengasingannya; oleh karenanya, dia tidak terbiasa berada di luar rumah. Tujuan dari kursus ini adalah untuk membimbing anak-anak menuju kemandirian yang lebih dalam gerak-gerik mereka. Jadi ketika seorang anak tunanetra pergi ke sekolah untuk pertama kali, dia mulai dari kelas 1, dan tidak memandang berapa usianya.

Pendidikan bagi anak-anak tunanetra di sekolah Krousar Thmey juga menggunakan teknologi dan informasi seperti JAWS (Job Access with Speech): ini adalah sebuah program yang membimbing para siswa dalam utilisasi komputer berkat adanya pancaran suara. Setiap siswa mengetahui bagaimana menggunakan komputer dan internet. Setelah langkah adaptasi pertama ini, bersekolah dengan Krousar Thmey adalah sama persis seperti di sekolah umum

Selama 16 tahun, Krousar Thmey mengembangkan ketrampilan dan peralatan yang dibutuhkan untuk menyediakan pendidikan bagi anak-anak tunanetra. Setiap tahun para guru dan staff dari bagian produksi buku Braille menghadiri beberapa pelatihan untuk meningkatkan kemampuan mereka. Bersama dengan menyediakan pendidikan khusus bagi anak-anak tunanetra. Krousar Thmey berusaha untuk mengintegrasikan penyandang cacat ke dalam lingkungan masyarakat Kamboja dan melibatkan Kementerian Pendidikan. Kerjasama penting dengan pejabat pemerintah juga memperkuat penerapan kelas-kelas Inklusif. Menyekolahkan mereka dengan anak-anak non-disabelitas juga membuat generasi muda sadar dan membantu mereka untuk menerima disabilitas dan perbedaan.

Membimbing anak-anak untuk mendapatkan tempat yang layak di masyarakat Kamboja: tantangan kelas inklusif
Kesadaran publik dan kebijakan umum harus diajarkan tentang isu disabilitas. Ini adalah proses global yang juga melibatkan komitmen pemerintah dalam program pendidikan bagi anak-anak tunanetra. Anak-anak tunanetra harus dapat memecahkan kebuntuan: Kelas inklusif muncul sebagai cara terbaik untuk memperkenalkan mereka ke dalam masyarakat dan melibatkan pejabat otoritas. Pembauran di antara anak non-disabilitas memudahkan sebuah penggabungan yang lebih baik bagi anak-anak tunanetra. Hal ini menawarkan kepada mereka kesempatan untuk menunjukkan ketrampilan mereka kepada teman sekelasnya. Jadi, dari kelas 3, siswa tunanetra kami menghadiri kelas di sekolah umum lokal. Berkat buku sekolah mereka yang diterjemahkan ke dalam huruf Braille, mereka dapat mengikuti kelas seperti mereka yang dapat melihat. Karena di Kamboja anak-anak hanya bersekolah setengah hari di sekolah dasar, siswa kembali ke sekolah Krousar Thmey selama sisa hari dan dapat memperbaiki atau memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang pelajaran mereka bersama dengan guru pelatihan khusus. Kami berharap bahwa integrasi awal ini akan membantu mempercepat perubahan mentalitas pada orang tunanetra dan mereka dengan disabilitas di Kamboja. Tapi, program ini harus berurusan dengan 2 hambatan: di satu sisi, kurangnya pelatihan bagi para guru di sekolah umum. Banyak dari mereka mengeluh karena mereka belum terbiasa dengan kemampuan untuk mengajar anak-anak tunanetra. Di lain pihak, siswa tunanetra sering terganggu dengan lingkungan sekolah umum: mereka sulit untuk berkonsentrasi di ruang kelas karena mereka bising dan jumlah siswa sangat banyak. Bahkan sistem ini membutuhkan penyesuaian, 14 siswa tunanetra menjadi lulusan sekolah menengah atas setelah mereka menyelesaikan kelas 12 sejak 2006, dan 9 diantaranya saat ini sedang berkuliah di universitas.

Pemerintah menunjukkan sikap dengan itikad baik. Rencana tindakan nasional bagi orang-orang dengan disabilitas sedang dalam pengembangan selama tahun 2009 - 2011. Kementerian bersidang dengan para narasumber untuk mengumpulkan data. Krousar Thmey ambil bagian dalam pekerjaan kolektif ini. Bahkan, pada 2010 langkah yang sangat besar telah diambil: semua staff pendidik dari sekolah Krousar Thmey akan diintegrasikan dalam daftar Kementerian Pendidikan. Pendidikan bagi Anak-anak tunanetra di Kamboja tetap sedang dibangun, tapi langkah demi langkah telah berlangsung.

Ms. Hem Sangva, asisten direktur dari sekolah Krousar Thmey, Phnom Penh, Kamboja. Beliau dapat dihubungi melalui email: