EENET asia Newsletters : Edisi 7
Melampaui Bahasa - Mengikutsertakan Budaya Lokal ke dalam Kurikulum Sekolah
Marc Wetz
Pencapaian yang luarbiasa telah dibuat selama beberapa tahun belakangan ini di daerah kami dalam mempromosikan penggunaan Bahasa Ibu sebagai bahasa pengantar. Alasan utama dari penggunaan bahasa ini adalah demi pencapaian tingkat akademis yang lebih tinggi. Ini penting karena membuat perbedaan besar bagi anak-anak pada tingkat awal untuk memahami apa yang telah diajarkan di sekolah.
Inilah saatnya untuk menggunakan momentum pencapaian ini untuk membuat penghubung dengan hak dasar bagi semua orang untuk merayakan dan menikmati kebudayaan asli mereka sebagaimana dilakukan dalam beberapa kerangka hak internasional, seperti contohnya Pasal 29 dari Konvensi Hak Anak:
Pendidikan seorang anak sebaiknya diarahkan pada perkembangan penghargaan terhadap orangtua si anak, identitas dan nilai kebudayaan dan bahasa aslinya …1
Apa yang dapat kita lihat dengan jelas dalam beragam hak dasar ini adalah bahwa bahasa tidak pernah terpisahkan dari kebudayaan. Kita seharusnya memulai hal ini juga, bukan karena ini adalah hak dasar bagi anak-anak dan masyarakat tapi karena hal ini sangat menguntungkan bagi mereka dan bagi Tujuan Kualitas Pendidikan Dasar kita.
Sistem Pendidikan dapat memainkan peran yang penting dalam hal ini dan melalui penyediaan pendidikan dasar dalam Bahasa Ibu dan memasukkan unsur kebudayaan lokal ke dalam kurikulum sebagai variasi model proyek yang telah berhasil didemonstrasikan dalam wilayah kita selama 10 tahun belakangan ini.
Mengapa inklusi dalam kurikulum sekolah sangatlah efektif?
1. Hal ini memberikan nilai langsung pada kebudayaan dan pengetahuan lokal
Khususnya pada masyarakat pedalaman, kebanyakan dari orang dewasanya buta huruf, pertimbangan sekolah menjadi tempat pertemuan dimana pengetahuan paling berharga diajarkan, pengetahuan dari dunia luar, pengetahuan yang akan memberikan anak-anak mereka sebuah tiket untuk pekerjaan yang baik dan masa depan yang lebih baik. Anak-anak sendiri secara umum telah kehilangan ketertarikannya pada pengetahuan dan kebudayaan lokal karena mereka melihat hal ini tidak penting bagi masa depan mereka dan cara tradisional dalam penyampaian ilmu pengetahuan tidak menyesuaikan mereka pada perubahan dunia, dan dianggap membosankan dan tidak menarik bagi anak-anak.
Memasukkan Ilmu Pengetahuan daerah ke dalam kurikulum sekolah memberikan nilai pada ilmu pengetahuan karena menunjukkan pada masyarakat dan anak-anak bahwa pengetahuan dan kepercayaan mereka sesungguhnya adalah sesuatu yang berharga. Anak-anak sendiri secara otomatis dikenalkan pada warisan kebudayaan dari masyarakat mereka dan belajar menghargai dan menilainya.
2. Hal ini meningkatkan rasa harga diri pada anak-anak dan masyarakat
Nilai yang lebih tinggi dari budaya dan pengetahuan mereka sungguh meningkatkan rasa harga diri mereka pada identitas kebudayaan mereka, menurunkan perasaan lemah diri, penyangkalan dan kehilangan identitas diri, dan pada dasarnya membawa kepada rasa harga diri yang lebih tinggi.
Bagi anak-anak hal ini sangat jelas membantu bagi perkembangan mereka secara keseluruhan tapi juga penting dalam pengenalan mereka kepada anggota masyarakat dan kebudayaan nasional secara menyeluruh di media dan kurikulum sekolah. Ini akan membantu mereka ketika mereka beranjak dewasa menjadi tidak mudah tergoda untuk merusak diri sendiri dan tingkah laku beresiko yang diperlihatkan kepada mereka khususnya ketika mereka untuk sementara waktu atau selamanya berpindah ke pusat perkotaan dengan kelompok etnis yang lebih dominan. Keuntungan kelompok dari tingkat harga diri yang lebih tinggi ini sebagai kontribusi kepada struktur sosial yang lebih tinggi.
3. Hal ini membantu menyegarkan sistem peralihan pengetahuan tradisional
Nilai yang lebih tinggi yang dimiliki oleh inklusi dalam kurikulum sekolah menciptakan sebuah ketertarikan untuk lebih mengenal sejumlah kecil anak yang dapat dipuaskan melalui sistem transfer pengetahuan yang lebih tradisional. Di sisi lain, pengembangan partisipatori dan konsultasi yang ideal dari kurikulum sekolah yang diadaptasi memuat sebuah proses pertimbangan kembali dalam komunitas tentang bagaimana pengetahuan mereka dapat disebarkan paling efefktif dan melalui hal ini memperbaharui sistem penyebaran pengetahuan tradisional.
4. Hal ini membantu mencapai tujuan utama pendidikan dasar berkualitas.
Kualitas Pendidikan Dasar terbaik digambarkan oleh Konsep Sekolah Ramah Anak secara gamblang dengan 6 dimensinya [disebut ‘Pendidikan Inklusif’ oleh UNESCO]. Dimensi ke-3 melihat pada metodolgi pengajaran/belajar dan relevansi dari mata pelajaran yang diajarkan dengan kehidupan para siswa. Dimensi ke-5 memberikan kepentingan pada partisipasi siswa, keluarga dan masyarakat dalam urusan sekolah. Kedua dimensi ini didukung secara penuh dan dipertinggi melalui sebuah proses konsultatip dan partisipatori dengan mengikutsertakan kebudayaan lokal ke dalam kurikulum sekolah.
Idealnya anak-anak adalah partner yang sejajar dalam proses konsultatip dan pembuatan keputusan dan secara aktif dilibatkan dalam mendokumentasi dan mengidentifikasi kebudayaan lokal memakai metodologi pengajaran aktif, yang secara luas diperkenalkan dalam Kualitas Pendidikan Dasar. Kebanyakan anak dari etnis minoritas akan menjalani kehidupan dewasa mereka dengan menjadi petani di lingkungan masyarakat mereka; memasukkan kebudayaan lokal dengan demikian memberi mereka pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan untuk kehidupan mereka kelak.
Kebanyakan masyarakat etnis memiliki rasa hormat yang berlebihan terhadap sekolah dan guru dan tidak berani untuk terlibat dengan urusan sekolah. Sekolah pada dasarnya adalah tempat asing dan partisipasi terbatas pada sumbangan tenaga dan dukungan sejenis. Anggota masyarakat tidak hanya dilibatkan dalam proses pembuatan keputusan dalam pengembangan kurikulum lokal tapi juga secara aktif terlibat dalam proses belajar-mengajar, baik sebagai narasumber dan/atau sebagai guru tentang kebudayaan setempat. Pengalaman menunjukkan dengan melakukan hal ini sangat efektif dan ampuh untuk menjembatani jarak yang sangat besar antara sekolah dan masyarakat etnis dan membimbing pada keuntungan di masa depan yang lebih bervariasi bagi pembangunan sekolah dan masyarakat.
Beberapa tips dari untuk mempertimbangkan pengembangan kurikulum lokal:
- Menyertakan dinas pendidikan dalam proses konsultasi sejak awal dan memastikan dukungannya selama proses berlangsung.
- Membuat bersama dengan anak-anak dan anggota masyarakat sebuah peta tentang bagaimana pengetahuan lokal disajikan dalam masyarakat.
- Konsultasikan dengan anggota masyarakat dan anak-anak tentang pengetahuan lokal mana saja yang ingin mereka sertakan.
- Biarkan para siswa mengidentifikasi pengetahuan lokal dan mendokumentasikannya, namun berikan dukungan teknis pada mereka, khususnya pada tingkat awal.
- Mengatur pertemuan masyarakat untuk mengetahui keabsahan pengetahuan lokal yang didokumentasikan oleh para siswa
- Libatkan anggota masyarakat dan anak-anak dalam pembuatan bahan-bahan bacaan.
- Menyusun kurikulum dengan mengikuti siklus yang telah ada di masyarakat, mungkin siklus tahunan atau siklus kehidupan mereka.
- Memberikan dukungan kepada anggota masyarakat membantu menyampaikan pengetahuan lokal ke sekolah-sekolah, mereka perlu mengetahui beberapa teknik pengajaran.
- Memimpin penilaian/evaluasi umum dengan masyarakat dan anak-anak pada hasil yang telah dicapai.
Mr. Marc Wetz adalah spesialis pendidikan dan etnis minoritas, aktif selama beberapa tahun di Asia: .
1 Hak-hak utama kerangka kerja lain yang berhubungan: Pasal 30 dari CRC, Konvensi ILO No. 169 yang memperhatikan Penduduk asli dan Adat-istiadat (Pasal 5,27+28) dan tentu saja yang terbaru Deklarasi PBB tentang Hak-Hak Penduduk Asli (khususnya Pasal 11-15).