Navigation

Home

About IDP Norway

Vision and Mission

Field of Work

Country Experience

Organisational Structure

Publications

• Compendia

Links

Contact

EENET Asia

ILFE Toolkit: Afghanistan

ILFE Toolkit: Indonesia

EENET asia Newsletters : Edisi 7

Pemetaan Sekolah pada Bidang Nutrisi dan Kesehatan di Baluchistan

Wajid Iqbal and Terje Magnussønn Watterdal

Sekolah anak laki-laki di desa Malozai terpilih sebagai salah satu dari sekolah dasar negeri untuk berpartisipasi dalam sebuah program terpadu tentang pendidikan inklusif. Program ini adalah sebuah hasil kolaborasi antara Departemen Pendidikan Pemerintah Baluchistan dan IDP Norway, dan didanai oleh pemerintah Norwegia. Sekolah ini berlokasi sedikit di luar Quetta, Ibukota propinsi Baluchistan di Pakistan. Penduduk desanya semuanya orang Pashtun. Pendapatan keluarga di desa ini sangat kecil dan kebutuhan makan satu keluarga besar karena besarnya jumlah anggota keluarga di daerah bagian negara Pakistan ini. Sulit untuk mengetahui secara pasti berapa banyak anak dalam setiap keluarga, karena anak laki-laki dilarang membicarakan informasi apapun tentang anggota keluarga perempuan mereka dengan orang asing, karena ini dianggap tidak sopan dalam budaya Pashtu.

Kami mengadakan sebuah studi untuk memetakan status kesehatan dan nutrisi anak-anak di sekolah. Kami menghindari sampling untuk memastikan bahwa hasilnya seakurat mungkin. Oleh karenanya seluruh jumlah 197 anak yang bersekolah dalam dua hari kunjungan kami di desa tersebut, diukur, ditimbang dan diwawancara satu per satu. Jawaban dan data dicatat pada kuisioner perorangan. Wawancara dilakukan dalam Bahasa Pashtu, bahasa ibu semua anak di sekolah, dan bukan dengan Urdu (bahasa nasional) untuk menghindari salah pengertian. Beberapa anak laki yang lebih tua membantu untuk menghitung tinggi dan berat teman mereka. Bersama dengan data usia dari anak-anak ini membantu kami untuk menghitung Index Massa Tubuh (BMI) setiap anak di sekolah. Usia berhubungan dengan grafik BMI yang digunakan akan anda temukan pada bagian tengah newsletter ini.

Penghitungan BMI di sekolah mengungkap beberapa hasil:

Prevelansi anak-anak yang berbobot kurang bervariasi dari 20% di kelas TK hingga hampir 30% di antara anak laki-laki kelas 2.

Kurangnya nutrisi juga mempengaruhi pertumbuhan (tinggi badan) dari anak-anak di sekolah ini. Kami menemukan bahwa 17% dari anak laki-laki usia 7 tahun memiliki tinggi yang berada pada hasil persentasi kelima untuk tinggi badan menurut usia pada kurva referensi yang merefleksikan pertumbuhan normal dalam populasi penduduk Pashtun. Anak-anak ini oleh karenanya didefinisikan sebagai tidak bertumbuh dengan baik. Di antara anak laki-laki usia 12 tahun keadaan ini (kurang dari “normal” pertumbuhan tinggi badan) meningkat mencapai 56% dari anak-anak ini.

Sedikit anak laki-laki kelihatan dapat berkembang di kelas 5 dan menyelesaikan pendidikan dasar mereka. Banyak yang berhenti setelah Kelas TK, atau kelas satu dan dua, atau mereka harus melanjutkan untuk mengulang kelas empat sampai mereka merasa putus asa dan keluar dari sekolah.

Kelas Jumlah Anak Anaklaki termudah Anak laki tertua Rata-rata umur
TK 61 5 tahun 11 tahun 7 tahun
Kelas 1 43 6 tahun 11 tahun 7.9 tahun
Kelas 2 35 7 tahun 12 tahun 8.3 tahun
Kelas 3 20 7 tahun 15 tahun 10.9 tahun
Kelas 4 29 8 tahun 15 tahun 11.6 tahun
Kelas 5 9 12 tahun 14 tahun 12.6 tahun

Jarak usia antara anak-anak di tingkat yang berbeda oleh karenanya sangatlah besar.
Perbedaan usia disebabkan oleh anak-anak yang mulai sekolah agak terlabat juga karena pengecualian tinggal kelas. Berapa banyak kurangnya nutrisi dan gizi buruk mempengaruhi putus sekolah dan tinggal kelas tidak jelas dari data yang dapat kami kumpulkan. Namun, kenyataan bahwa 25% anak laki-laki di sekolah ini berberat badan kurang sebagai akibat kekurangan nutrisi, infeksi kulit dan pencernaan, pasti memiliki pengaruh terhadap kemampuan mereka untuk berhasil di sekolah.

Besarnya jarak usia anak di kelas yang berbeda tidaklah ideal bagi perkembangan sosial, emosional, Intelektual atau fisik si anak. Kami meneliti bahwa kebanyakan anak-anak yang lebih tua bertingkah laku lebih dominan dan agresif terhadap anak-anak yang lebih muda, sementara mereka yang berada pada kelas yang lebih tinggi mengejek anak lain yang lebih tua yang “tertahan” di tingkat yang lebih rendah. Tingkat umum kekerasan dan buliying di antara sesama anak di sekolah, tinggi. Sekolah hanya memiliki tiga guru, yang harus berusaha keras untuk mengajar sekitar 60 dan 70 anak di dua kelas terpisah pada saat bersamaan Anak-anak karenanya sering dibiarkan untuk mengurus diri mereka sendiri. Mereka datang jauh lebih dulu daripada guru mereka dan mengambil alih tanggungjawab guru mereka ketika sang guru sakit atau tidak dapat (atau tidak berniat) datang untuk bekerja. Meskipun kondisi di sekolah buruk, kebanyakan anak-anak mengatakan bahwa mereka senang bersekolah. Tapi mereka nampaknya juga iri pada teman mereka yang berhenti sekolah dan membantu ayah atau kakak laki-lakinya bekerja di pasar setempat, tapi tidak satu pun dari mereka yang iri pada anak laki-laki yang menjadi pengumpul sampah atau rongsokan besi untuk mencari nafkah.

Siswa diminta untuk menggambarkan apa yang mereka makan 2 atau 3 hari. Kebanyakan dari anak ini berkata mereka sarapan sebelum datang ke sekolah. Apa yang dimakan oleh anak-anak di salah satu wilayah di Pakistan ini adalah roti dan mentega murni. Kami akhirnya menyerah untuk melanjutkan bagian studi ini karena anak-anak kelihatan mencoba melindungi kemampuan orangtua mereka dalam memenuhi kebutuhan makanan keluarganya, dan untuk itu mengarang cerita bahwa mereka minum susu, makan telur dan daging untuk sarapan, meskipun tanda-tanda pada diri mereka menunjukkan bahwa mereka kekurangan nutrisi.

Cerita yang sama juga dikatakan untuk makan siang dan makan malam memiliki komposisi yang sama. Namun, apa yang kami ketahui adalah bahwa di kebanyakan rumah tangga, daging (jika semua itu tersedia) dimasak hanya pada hari Jumat. Anak-anak juga dilaporkan membeli biskuit, permen, apel, timun, dan es loli dari pedagang lokal. Kami tidak mengamati beberapa pedagang sayur dan buah tapi kami tahu bahwa anak-anak ini diberi beberapa Rupee oleh orangtua mereka dan mereka kebanyakan membeli permen, biskuit dan es loli, semuanya tidak/sedikit memiliki nilai nutrisi.

Anak-anak berkata bahwa desa mereka memiliki pasokan air tanah dan hampir semua rumah memiliki akses untuk mendapat air. Sekolah memiliki saluran air tapi tidak tersedia air di toilet dan tangki air minum tidak tersedia di sekolah. Kami mengamati bahwa anak-anak tidak menggunakan kakus dan membuang air kecil di tempat terbuka di sekitar area sekolah, dan sedikit jika memang ada, dari anak-anak ini yang mencuci tangan setelah pergi ke toilet.

Kebanyakan dari para siswa menderita penyakit kulit. Yang paling umum adalah Eksim, Impetigo, Kudis, Coetaneous Leishmaniasis (Infeksi parasit), Pityriasis Alba, Dermatophytosis (Infeksi Jamur), selain itu juga menderita sejumlah kondisi penyakit kulit yang lain. Kebanyakan hal ini secara umum dapat dengan mudah dicegah atau diobati, tapi mungkin dapat menjadi kasus tetap atau dalam beberapa kasus mungkin bisa jadi fatal bila dibiarkan tidak diobati.

Jadi apa yang dapat kita, sebagai perancang pendidikan, guru, dan orangtua perbuat?

  1. Kita perlu untuk mulai mengukur Indeks Massa Tubuh (BMI) anak-anak di sekolah. Hal ini dapat dilakukan tanpa perlu penanaman biaya yang besar. Satu-satunya alat yang diperlukan hanyalah sebuah timbangan sederhana. Pengukur tinggi badan dapat dibuat pada dinding dan menjadi bagian dari dekorasi ruang kelas. Pengukuran BMI secara teratur dapat dengan mudah digabungkan dalam pelajaran matematika dan ilmu pengetahuan alam di kelas-kelas sehingga menjadi sebuah alat yang berguna yang membuat mata pelajaran tersebut menjadi lebih praktis dan menyenangkan. Hal ini dapat juga menjadi sebuah kegiatan rutin yang akan membantu guru membuat kelas mereka menjadi lebih partisipatif. Pada saat yang bersamaan anak-anak akan belajar melihat keuntungan praktis dari pelajaran matematika dan Ilmu pengetahuan alam yang kadang terlihat abstrak.

  2. Jika seorang anak memiliki BMI yang rendah guru dan sekolah perlu untuk menghubungi orangtua siswa. Guru harus mendiskusikan masalah ini dengan orangtua dan mencari jalan keluar, karena rendahnya BMI dapat juga sebagai hasil dari kebocoran pertumbuhan yang tiba-tiba! Pertemuan orangtua dan guru dapat digunakan sebagai alat penting dalam menciptakan kesadaran tentang pentingnya nutrisi, pemenuhan kebutuhan pangan dan keluarga berencana, serta bahaya akan kekurangan gizi pada perkembangan fisik, sosial, emosional dan kognitif (intelektual) seorang anak. Jika BMI terus dipantau oleh guru dan orangtua, hal ini dapat menjaga tumbuh kembang anak-anak serta dampak serius lainnya dari malnutrisi.

  3. Sekolah sebaiknya memperkenalkan program pendidikan dasar kesehatan. Anak-anak seharusnya diajarkan tentang pentingnya mencuci tangan setelah mereka pergi ke kamar kecil dan sebelum makan. Untuk menyediakan sebatang sabun bagi setiap kelas atau mungkin bagi tiap-tiap anak memerlukan biaya kecil yang dapat disediakan oleh hampir semua sekolah (dan orangtua). Biaya untuk mengobati infeksi penyakit perut dan kulit yang disebabkan dari buruknya kondisi kebersihan lingkungan tentu saja jauh lebih mahal. Pendidikan kesehatan praktis dapat dengan mudah digabungkan ke dalam pelajaran sains, bahasa atau agama dan dengan demikian juga menjadi alat penting yang lain dalam membuat sekolah menjadi lebih inklusif dan ramah anak.

  4. Pendidikan nutrisi dapat diperkenalkan untuk membantu anak-anak dan (orangtua) mengerti akan pentingnya keseimbangan asupan makanan. Hal ini sebaiknya menjadi bagian dari pendidikan dasar sains atau bahkan pendidikan bahasa dan agama. Sumbangan adalah sesuatu yang sekolah, anak-anak dan bahkan orangtua dapat sedikit dilakukan pada waktu singkat. Tapi bagaimana mengoptimalkan penggunaan bantuan keuangan dan bahan pangan dapat diajarkan di sekolah. Anak-anak perlu untuk belajar lebih bertanggungjawab demi tumbuh kembang mereka. Jika mereka diberi sejumlah kecil uang oleh orangtua untuk digunakan membeli jajanan mereka dapat belajar bagaimana sebaiknya mereka menggunakan uang dengan lebih bijak dengan membeli buah-buahan dan jajanan daerah yang lebih lezat dan sehat.

  5. Para guru seharusnya memperhatikan kondisi kesehatan anak-anak di kelas mereka. Jika mereka melihat bahwa anak-anak mengalami infeksi dan iritasi pada kulit atau kelihatan lesu dan kurang berkonsentrasi, mereka sebaiknya bicara dan mencari tahu apa yang terjadi pada siswa tersebut. Sangatlah penting untuk menyadari bahwa solusi praktis terhadap masalah ini tidaklah selalu harus sulit dan mahal, dan bahwa dengan menanggapinya pada tahap-tahap awal akan mengurangi biaya jangka panjang dan konsekuensinya.

Ini adalah beberapa kegiatan yang dapat diperkenalkan di sekolah untuk mengurangi hambatan yang diciptakan oleh buruknya kondisi kesehatan dan nutrisi bagi jutaan anak-anak di Pakistan dan seluruh Asia. Kami membutuhkan lebih banyak ide-ide praktis tentang bagaimana memulai program pendidikan praktis bidang kesehatan dan nutrisi di sekolah-sekolah, jadi silahkan kirimkan pada kami pemikiran dan ide anda melalui email. Ingatlah bahwa sekolah tidak inklusif dan ramah anak kecuali mereka menanggapi secara efektif isyu-isyu tentang nutrisi dan kesehatan yang terjadi di antara siswa mereka dan anak lain di lingkungan mereka.

Mr. Wajid Iqbal telah menyelesaikan tahun terakhir (MBBS) di Khyber Medical University di Peshawar Propinsi Perbatasan Barat Laut Pakistan dan dapat dihubungi melalui email:

Mr. Terje Magnussønn Watterdal adalah salah seorang Senior Partner di IDP Norway, dan konsultan internasional pada pendidikan inklusif dan ramah anak serta salah satu anggota Tim Editorial EENET Asia yang dapat dihubungi melalui email: