Navigation

Home

About IDP Norway

Vision and Mission

Field of Work

Country Experience

Organisational Structure

Publications

• Compendia

Links

Contact

EENET Asia

ILFE Toolkit: Afghanistan

ILFE Toolkit: Indonesia

EENET asia Newsletters : Edisi 6

Suara Siswa tentang Inklusi di Sekolah BRAC

Tahiya Mahbub

Dua tahun lalu seorang anak berusia sepuluh tahun bernama Jyoita, tunanetra dan kesulitan berbicara ringan datang pada saya dan berkata, “Ami chai shobai shikte par” yang berarti “Saya ingin semua orang dapat belajar.”

Mempunyai pengalaman awal saya dengan seorang siswa usia muda yang belajar dalam cara inklusif, saya tidak sepenuhnya mengerti impiannya. Bekerja terus menerus di pendidikan inklusif, saya kini mengerti hubungan dari kata-kata anak tadi dan perasaan dari banyak anak lain dimana bagi mereka pendidikan di dunia saat ini masih tetap sebuah mimpi belaka.

Di Asia Selatan sendiri, lebih dari 17 juta anak tidak bersekolah. Untuk membantu anak, yang tidak dapat bersekolah karena sistem pemerintah yang terlalu ketat, diskriminasi sosial, dan biaya terselubung yang tinggi untuk pendidikan, prakarsa LSM adalah momentum yang menguntungkan. Bangladesh Rural Advancement Committee [BRAC] LSM terbesar di Bangladesh bekerja aktif dalam bidang inklusi dan the Spastics Society of India telah mulai program kerjasama pendidikan yang sanggup mempromosikan inklusi. BRAC saat ini menjalankan 50,000 lebih sekolah dasar dan taman kanak-kanak di seluruh Bangladesh - yang melayani lebih dari 1,5 juta anak. Sekolah ini biasanya adalah rumah bambu sederhana dengan satu ruangan, yang dijalankan selama lebih dari 4 tahun oleh seorang guru. Sekolah ini berjarak 1 kilometer dari rumah para siswa dan biasanya dijalankan pada waktu luang para siswa. Sejak 2003, sekolah BRAC dijalankan dengan dasar sebuah filosofi inklusif yang berbunyi: Inklusi adalah sebuah pendekatan yang merangkul kebutuhan seluruh pelajar dalam situasi kelas yang umum, termasuk pelajar berkebutuhan khusus, anak dari penduduk asli, anak cacat, anak perempuan dan anak miskin.

Artikel ini menggambarkan suara anak dari salah satu sekolah BRAC. Sekolah ini memiliki populasi siswa yang beragam dalam hal usia, gender dan tingkat kecacatan. Menggunakan Indeks Inklusi, saya merancang studi kasus dengan multi-metode yang memasukkan pengamatan, tehnik khusus bagi anak-anak [menggambar dan menulis pesan], kuisioner, dan diskusi kelompok dan mempelajari budaya, kebijakan dan praktek sekolah. Saya akan berbagi beberapa pengamatan saya dan pembelajaran dari pekerjaan ini.

Budaya
Sebuah budaya sekolah tercermin dalam filosofi mereka yang bekerja dan terdaftar di sekolah. Budaya sebuah sekolah memungkinkan kita secara keseluruhan memahami atmosfirnya dengan menghargai, merasa memiliki, dan memberi dukungan yang berarti bagi para guru, staff dan para siswa. Kebanyakan anak di Sekolah Tongi merasa sekolah mereka memiliki sebuah budaya positip, di mana para siswa dan guru berbagi rasa saling memiliki dan menghargai. Beberapa komentar berikut menampilkan beberapa perasaan mereka.

“Ketika saya pertama kali datang ke sekolah ini, semua orang menyambut saya. Mereka [anak-anak lain] bermain bersama saya dan tidak bertengkar dengan saya. Apa [guru] mengajar saya. Mereka ingin saya berada di sini karena jika saya tidak datang ke sekolah walau hanya satu hari, Apa akan khawatir. Semua orang ingin saya di sini dan saya akan datang setiap hari.”
[Shamaila, 10 tahun]

“Jika saya belajar sebuah puisi, lalu saya datang ke sekolah dan mengatakan pada Apa bahwa saya telah belajar sebuah puisi dan saya ingin mengajarkannya pada teman yang lain, lalu Apa juga meminta saya menuliskannya pada buku harian saya. Saya merasa bahagia.”
[Shamaila, 10 tahun]

Namun, kurangnya respek antar siswa juga terlihat, khususnya antara ketua kelompok dan bukan ketua. Mungkin bukan ketua ini tidak suka ketua kelompok mereka selalu dikenal oleh para orang dewasa sebagai yang ‘terpintar’ dan ‘terpandai’.

“Ketua kelompok bicara lebih di sekolah dan mereka mencoba untuk mengendalikan kami jika kami nakal. Tapi tidak ada yang mendengarkan ketua kelompok dalam kelompok kecil; siswa yang lain menampar atau memukul mereka dengan penggaris. Jika ketua kelompok memberi sebuah pekerjaan, siswa yang lain akan memukul dia.”
[Rongon, 12 tahun]

Kadangkala, para siswa melaporkan perasaan ‘tidak hormat’ karena keinginan mereka ingin mendapat gaya pengajaran yang lebih mereka sukai.

“Dalam grup kecil ketika saya tidak berkata apapun, semua orang akan berkata ‘Mengapa kamu tidak mengatakan sesuatu?’ atau ‘Mengapa kamu tidak mengetahuinya? atau ‘Kamu tidak bisa melakukan itu, tapi kami bisa’. Semua orang mengatakan pada saya untuk belajar dan saya tidak menyukainya”.
[Shelu, 8 tahun]

Guru berusaha mengupayakan ‘harapan yang wajar’, dan memberi anak waktu ekstra dan membantu mereka kapan pun diperlukan. Kebanyakan anak memiliki aspirasi belajar yang tinggi. Dalam kegiatan “Pesan dalam sebuah Botol”, para siswa menuliskan 35 masukan tentang bagaimana mereka menyukai kegiatan membaca, menulis dan belajar di sekolah. Namun demikian, hal ini tidak menjadi hal penting seorang siswa penyandang cacat, yang mengatakan dia ‘tidak banyak’ belajar selama lebih dari tiga tahun terakhir. Dia mengatakan dia tidak memiliki beberapa buku, dan sering ‘disingkirkan’ dan tidak diberi cukup waktu untuk menjawab pertanyaan dalam kelas.

Kebijakan
Kebijakan menentukan rencana mana yang diterapkan dalam menetapkan keputusan dan aksi di sekolah. Untuk memahami kebijakan lebih dulu penting untuk mengenali apakah para siswa merasa bahwa aturan dan regulasi mendukung perkembangan mereka dan menyediakan lingkungan belajar yang aman. Tema penyelesaian, tampilan fisik sekolah dan ejekan juga penting untuk dipertimbangkan.

Bagi anak-anak, penyelesaian di sekolah paling banyak berhubungan dengan teman-teman baru mereka. Mereka secara antusias menyebutkan bagaimana teman membantu mereka, ketika mereka pertama kali datang. Bagi salah seorang siswa penyandang cacat, ini melibatkan teman yang duduk di sebelahnya. Bagi yang lain, hal ini kebanyakan tentang teman sebaya yang mengulurkan bantuan dalam kegiatan menggambar dan menulis.

Salah seorang siswa menyebutkan, “ketika saya pertama kali datang ke sekolah ini, Apa mengajarkan saya bagaimana cara menjahit sebuah buku”. Jadi, penyelesaian bagi kebanyakan dari mereka kelihatan sebagai sebuah proses yang mulus, sebuah kegiatan sebulan penuh dimana para siswa dan guru keduanya bekerja membangun sebuah pengertian di masyarakat. Aksesibilitas, penampilan fisik dan jam sekolah adalah 3 topik yang paling diminati dalam perdebatan untuk anak. Anak sangat menginginkan memiliki sebuah tempat untuk belajar.

“Saya suka gedung sekolah saya. Jika kita tidak memiliki gedung, kita akan basah karena kehujanan di luar, Kita dapat belajar bersama dalam sebuah gedung sekolah.”
[KumKum, 10 tahun]

Namun, beberapa anak mengeluh tentang kasarnya kain goni yang mereka duduki, terbatasnya pencahayaan, dan suara-suara yang mengganggu dalam lingkungan sekolah. Yang lain merasa tidak puas dengan penempatan dan jam sekolah. Contohnya, bagi anak dengan cacat fisik berat, jarak tempuh lima menit dari rumah ke sekolahnya kelihatan jauh sementara bagi yang lain berjalan kaki selama 20 menit adalah jarak yang pendek. Jadi untuk jam, Sekolah Tongi biasanya beroperasi dari pukul 1 siang - 5 sore; karena guru memberi ujian kelas yang diadakan dari pukul 9 pagi - 1 siang, dan dikerjakan oleh guru pengganti. Beberapa siswa menyukai perubahan ini sementara yang lainnya tidak. Salah seorang siswa menyebutkan bahwa kelas siang lebih baik karena “Apa dapat datang dari kampus dan kemudian mengajar kami”

Para siswa mengatakan dengan berat hati, tentang pengalaman mereka diejek di sekolah. Ejekan adalah sebuah aspek penting dari kebijakan sekolah karena hal ini adalah sebuah faktor yang dapat dikendalikan. Namun demikian, bahkan dalam sebuah sekolah dengan ukuran seperti ini, ejekan adalah salah satu tradisi dalam kehidupan anak-anak. Seorang anak berkata: “Semua orang menertawakan saya ketika saya tidak mengerti Bahasa Inggris. Bahasa Inggris sangat sulit bagi saya …dan teman-teman sekolah menertawakan saya.”
[Shamaila, 10 tahun]

Pengamatan mengungkapkan bahwa seorang anak dengan gangguan bicara ditertawakan ketika ia mencoba untuk berbicara di kelas. Dalam kerja kelompok, para siswa dilaporkan menggunakan kata-kata seperti “keledai”, “aneh”, “pamer” dan “bodoh”. Beberapa anak bahkan memukul dan menampar dalam kerja kelompok ini. Namun, penting untuk dicatat di sini bahwa semua siswa merasa nyaman mengadu ke guru mereka jika mereka menjadi korban ejekan.

“Jika teman mengejek saya, saya dapat mengadu ke Apa. Apa lalu akan berkata pada teman tersebut ‘hanya karena kamu tahu tentang pelajaran ini, kamu mengejek yang lain? Apakah ini adalah perilaku yang baik?’ Lalu anak itu akan berhenti mengatakan sesuatu yang jahat pada saya.”
[Rongon, 12 tahun]

Latihan
Latihan adalah tentang metode belajar-mengajar yang penting diikuti di dalam kelas. Dalam mengamati respon pelajaran, sangatlah menarik untuk menemukan bahwa para siswa tidak memerlukan pelajaran yang terlalu menanggapi kebutuhan mereka. Mereka senang dengan panduan dari guru dalam membuat mereka menghafal teks.

“Jika saya tidak mengerti sesuatu, maka Apa berkata pada saya untuk mempelajarinya lagi dan lagi. Beliau sungguh memberi saya waktu ekstra. Tapi saya harus mengingat halaman sebelumnya sebelum saya pindah ke halaman berikut.”
[Shamaila, 10 tahun]

“Apa memberi saya 2 jam waktu ekstra untuk menghafal bahan pelajaran dan kemudian mempresentasikan di hadapannya.”
[Shelu, 8 tahun]

Di sekolah, para siswa diminta untuk belajar menghafal dan tidak terlalu diminta untuk memahami informasi. Bantuan teman sebaya, di lain pihak, dilihat sebagai sebuah latihan dan semua siswa merasa senang dapat saling membantu.

“Teman kelas membantu saya. KumKum membantu saya dalam pelajaran matematika. Ia menggambar untuk saya di papan tulis, dan berkata ‘ini adalah sebuah segitiga, dan mempunyai tiga sisi’.”
[Jyoita, 10 tahun]

“Saya adalah ketua kelompok yang mana membuat saya bertanggungjawab tentang sesuatu. Ketika Apa mengajarkan pada kami banyak hal, dan teman saya tidak mengerti, saya dapat mengajarkan ulang kepada mereka.” [KumKum, 10 tahun]

Anak-anak menggunakan sumber-sumber yang ada di sekolah mereka. Dalam kelompok diskusi, banyak siswa senang tidak harus membeli banyak bahan pelajaran. Mereka juga menghargai mendapatkan semua materi pelajaran yang dibagikan sama rata pada awal tahun ajaran sekolah. Siswa cacat dilaporkan tidak memiliki buku atau buku catatan Kelas 3. Buku-bukunya diberikan pada siswa lain dan sebagai akibatnya ia tidak dapat menyelesaikan pekerjaan di kelas dan PR-nya secara efektif. Sekolah adalah sebuah pengalaman pribadi bagi anak dan penting bagi kita untuk mengeluarkan suara mereka ke permukaan [yang biasanya tidak didengar] dan mencoba untuk lebih sensitif pada kebutuhan mereka. Apa yang Jyoita inginkan tetap menjadi sebuah mimpi belaka bagi Bangladesh, tapi BRAC dan NGO lain telah mulai mengambil langkah kecil untuk mencapai tujuan ini. Kami masih harus berjalan bermil-mil tapi jika kami dapat memahami dan mengutamakan kepentingan pengalaman anak pada awal perjalanan ini, kita yakin bahwa gerakan inklusi ini akan berlanjut pada arah yang tepat.

Ms. Tahiya Mahbub saat ini menyelesaikan Master dalam pendidikan inklusi di University of Cambridge dan bekerja di North South University. Email: , post:
Hs. 37,Road 9, Sector 4
Uttara Model Town
Dhaka-1230
Bangladesh