Navigation

Home

About IDP Norway

Vision and Mission

Field of Work

Country Experience

Organisational Structure

Publications

• Compendia

Links

Contact

EENET Asia

ILFE Toolkit: Afghanistan

ILFE Toolkit: Indonesia

EENET asia Newsletters : Edisi perdana Juni 2005

Anak-Anak Terabaikan di Bangladesh

Anupam Ahuja

Bangladesh merupakan salah satu negara pertama yang menguatkan dukungannya terhadap Hak-hak Asasi Anak. Namun masih banyak anak yang terabaikan haknya bersekolah karena diskriminasi jender, bahasa, agama, kecacatan, kemiskinan atau termarjinalisasi . Satu studi dilakukan oleh UNESCO Bangladesh menekankan pada asesmen obyektif tentang situasi terakhir pendidikan inklusif di negara tersebut.

Pengkajian menunjukkan bahwa selama beberapa tahun ini Bangladesh telah menunjukkan peningkatan besar dalam pendidikan dasar. Kampanye-kampanye perluasan dan peningkatan fasilitas pendidikan serta insentif dari pemerintah dan LSM ikut memberikan kontribusi bagi pencapaian ini. Kelompok utama yang beruntung adalah anak-anak perempuan dan anak-anak yang hidup dalam kemiskinan. Namun ketertinggalan sosial dan budaya tetap menjadi rintangan utama bagi kelompok tersebut. Sekarang ini pendidikan inklusif lebih dipahami dalam konteks anak berkebutuhan khusus saja dan dalam cakupan ini pula anak tunagrahita tidak lagi dianggap “mampu didik” dan ini sangat diskriminatif.

Kebijakan, dan pelaksanaan pendidikan inklusif memang berada pada tahap awal perkembangan di negara tersebut. Seorang pembuat kebijakan berkata: “Sekolah kami terbuka untuk semua anak jadi kami ingin mengadopsi pendidikan inklusif.” Namun banyak kelompok anak terabaikan dari pendidikan umum. Ada keterbatasan akuntabilitas untuk melihat apakah semua anak bersekolah atau untuk mencari data siapa yang tidak bersekolah dan juga alasan-alasan apa sajakah yang menyebabkannya.

Anak-anak tak bersekolah
Analisa berdasarkan pengamatan lapangan mengungkapkan bahwa anak-anak tidak bersekolah karena banyak alasan lain diluar kemiskinan. Sebagian orangtua menganggap tidak penting untuk menyekolahkan anak mereka dan tidak melihat bagaimana sekolah dapat meningkatkan taraf hidup mereka. Meskipun si anak ingin disekolahkan namun orangtua tetap menolaknya.

Beberapa anak di sekolah menganggap perjuangan untuk tetap bersekolah tidaklah berarti, karena mereka sering dibuat tidak naik kelas. Alasan lain adalah karena terlalu jauhnya letak sekolah. Sebagian lainnya lebih memilih bermain di lapangan, karena sekolah telah menjadi tempat yang mengerikan dimana mereka dibentak/dipukuli/atau mendapat masalah karena berkemampuan rendah.

Ada sebagian lainnya yang duduk di kelas namun mereka benar-benar tidak dianggap sebagai bagian dari kelas itu. Mereka merasa terabaikan karena berbagai alasan. Beberapa diantaranya tidak memahami bahasa yang digunakan oleh guru. Isi buku juga tidak mewakili kenyataan hidup mereka maka dari itu mereka menganggap belajar tidaklah menarik atau bermakna. Sementara sebagian lainnya merasa bahwa guru memiliki pengharapan rendah terhadap mereka karena latar belakang mereka. Hanya sedikit dari anak-anak ini yang dapat melihat apa yang tertulis di papan tulis dari tempat duduk mereka. Banyak juga yang tidak senang ketika dibentak karena tidak mempelajari lagi pelajaran tsb di rumah. Seorang anak berkata, “Guru tampaknya tidak memahami bahwa tak ada waktu lagi bagiku untuk belajar karena ketika saya kembali ke rumah yang berjarak lima mil dari sekolah saya melihat banyaknya pekerjaan yang harus saya kerjakan di rumah. Saya tidak memiliki buku pegangan selain buku lama yang pernah diberikan pada saya di sekolah pada tahun ini karena buku itu telah terkoyak.“

Masalah seperti ini jelaslah akibat kebijakan dan pelaksanaan yang tidak sesuai di sekolah, bukan masalah yang ada pada anak itu sendiri. Kepatuhan kaku terhadap kurikulum dan metode pengajaran yang tidak fleksibel, tidak membuat sekolah menjadi tempat belajar yang baik bagi anak. Sistem pendidikan tradisional cenderung memperlebar jurang antara anak-anak yang beruntung, yang dilibatkan dengan anak-anak yang tidak beruntung dan tidak dilibatkan. Anak-anak dari golongan ekonomi menengah keatas memiliki kesempatan yang lebih. Anak-anak yang hidup di perkampungan kumuh, mendapat kesempatan pendidikan yang lebih sedikit. Begitulah lingkaran kemiskinan dan kurangnya kesempatan terus berlanjut.

Tak ada seorang anakpun yang memilih hidup terpencil; lahir dari keluarga miskin; hidup dengan orangtua yang tidak terpelajar atau orangtua yang tidak melihat pentingnya pendidikan; berbicara dengan bahasa yang lain dari media pembelajaran di sekolah; atau untuk menjadi anak rendah prestasinya di kelas.

Banyak orangtua yang tidak menyekolahkan anak mereka karena biaya pendidikan tidak transparan. Penelitian dan diskusi dengan anak menemukan bahwa banyak anak terdaftar di sekolah di tahun ajaran baru, bahkan melebihi kapasitas yang ada. Namun mereka pada akhirnya putus sekolah. Mereka sering putus sekolah karena sakit, menjaga orangtua atau sanak saudara yang sakit, atau harus bekerja dan membantu keluarga mereka untuk tetap bertahan hidup. Banyak anak yang pada akhirnya dapat menyelesaikan sekolah mereka namun tetap tidak bisa membaca dan menulis. Banyak pula anak yang mengakui bahwa belajar dari buku dan mengerjakan tugas adalah hal yang membosankan dan para orangtua di komunitas tersebut juga merasa bahwa apa yang dipelajari anak-anak di sekolah sangat tidak relevan.

Ada anak yatim piatu atau hidup dengan orangtua tunggal karena ayah mereka menikah lagi dan tinggal entah dimana. Anak ini terpaksa memikul tanggung jawab rumah tangga serta terhadap adik-adiknya sehingga tak ada waktu lagi untuk bersekolah.

Anak-anak yang terkucilkan secara sosial dan terabaikan pendidikannya
Anak-anak dari kelompok yang hidup berpindah-pindah, anak-anak dari para pekerja seks, dan mereka yang tergolong komunitas ekonomi lemah, anak-anak jalanan serta anak-anak dari minoritas etnis sering juga mendapat penolakan dalam bidang pendidikan dan sosial.

Anak-anak dari kelompok Bede (sering disebut orang-orang jipsi sungai) sering terkucil dan terdiskriminasi dari sekolah. Kelompok Bede adalah orang-orang yang hidup berpindah-pindah di Bangladesh yang waktu mereka sering dipakai untuk bepergian, hidup di kapal-kapal dan mencari penghidupan dengan memancing atau menyelam di air untuk mencari sisa-sisa peninggalan dari kolam-kolam atau sumur-sumur. Norma hidup mereka adalah pernikahan dini. Komunitasnya didominasi oleh kaum pria, namun para wanita juga memikul beban untuk mempertahankan hidup selain melakukan pekerjaan rumah tangga. Kunjungan lapangan menunjukkan bahwa siswa, orangtua, dan guru tidak menghargai kelompok Bede, mereka dianggap kotor. Meskipun khalayak juga berinteraksi dengan mereka, namun sebenarnya orang-orang tersebut tidak mengenal mereka, terutama mengenai penindasan-penindasan yang dialami.

Anak-anak dari komunitas ekonomi lemah juga sering menderita karena bentuk penghinaan berlebihan, oleh karena itu mereka membutuhkan perhatian sesegera mungkin. Komunitas ini menetap di wilayah perkotaan untuk melakukan pekerjaan yang rendah dan kotor untuk orang lain. Mereka bersihkan saluran pembuangan, dsb. Mereka dianggap patut dihindari, dan di tempat umum mereka harus makan dan minum dari peralatan makan mereka sendiri yang terpisah. Mereka hidup di kelompoknya sendiri dan di perkampungan kumuh yang tidak higienis serta tidak diizinkan untuk sering berinterksi dengan masyarakat. Stigma sosial ini menyebabkan anak-anak terabaikan total dari sekolah umum.

Kelompok lain yang dianggap sangat hina ialah para pekerja seks dan anak-anaknya. Anak dari para pekerja seks adalah yang paling menderita, sangat terdiskriminasi dan sering mendapat tekanan psikologi yang sangat hebat. Hak-hak asasi mereka dilanggar dan kesehatan para ibu serta anak-anaknya berada dalam resiko tinggi. Anak-anak perempuan menghadapi takdir mereka seperti ibunya dan berakhir dengan menjalani profesi sama. Sedangkan anak laki-laki menghadapi masa depan yang penuh kehinaan dan ketidakpastian.

Kelompok anak lain yang terabaikan hak-haknya adalah anak-anak jalanan. Di Bangladesh jumlah mereka cukup besar. Kebanyakan anak ini mengungkapkan bahwa biasanya mereka bertahan dengan mencari nafkah sendiri dan/atau hidup di bawah belas kasihan orang lain. Jalanan adalah tempat mereka bekerja, makan, bersosialisasi, bermain, belajar, mencuci dan tidur. Kebutuhan kelompok lain yang perlu dimasukkan ke dalam kerangka kerja inklusi adalah anak-anak dari komunitas minoritas etnis.

Kebutuhan mereka beragam karena mereka hidup di lokasi yang sulit dijangkau. Kurangnya kepekaan dan kurangnya pemahaman bahasa dan budaya serta diskriminasi dalam masyarakat pada umumnya tercermin dalam pendidikan mereka. Sebagian besar campur tangan NGOs terhadap pendidikan minoritas etnis menekankan pada sekolah-sekolah minoritas yang eksklusif daripada yang inklusif.

Pendidikan inklusif memegang peranan yang penting dalam mengubah perilaku diskriminatif sosial di Bangladesh. Otoritas pendidikan harus menyadari tantangan anak-anak yang termarjinalisasi ini dan membuat tindakan yang tepat. Seluruh intervensi menuju perubahan sosial untuk komunitas yang termarjinalisasi ini harus dilakukan bersamaan dan dengan usaha-usaha mempromosikan pendidikan inklusif.

Oleh penulis artikel ini telah diadaptasi dari laporan: Sebuah Asesmen Pendidikan Inklusi di Bangladesh(2004).

Anupam Ahuja adalah konsultan lepas dengan 20 tahun pengalaman dalam bidang pendidikan dan memfokuskan pada pengembangan pelaksanaan inklusif. Ia dapat dihubungi di: Email:
A-59 Malviya Nagar
New Delhi 1100017
Tel: +911126681303
Mobile: +9810652249
Fax: +9111243660850