Navigation

Home

About IDP Norway

Vision and Mission

Field of Work

Country Experience

Organisational Structure

Publications

Links

Contact

EENET Asia

ILFE Tookit - Indonesia

What can you do to help?

Kembali ke daftar isi

Pendidikan – Pendidikan Kebutuhan Khusus

Pendidikan Kebutuhan Khusus sebagai sebuah Disiplin Ilmu di Universitas – Jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus, Universitas Oslo

Berit H. Johnsen

Maksud utama di balik artikel ini adalah untuk memberikan gambaran singkat tentang Jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus, Universitas Oslo. Gambaran tersebut disajikan setelah pengantar konteks sejarahnya, dan diikuti dengan beberapa refleksi tentang prestasi dan tantangan dalam bidang penelitian, inovasi dan pendidikan tinggi yang berorientasi praktis ini.

Dari ceceran program pengajaran menuju disiplin ilmu di universitas

Pendidikan kebutuhan khusus sebagai disiplin ilmu universitas dapat dikatakan sebagai fenomena abad ke-20. Namun, pengetahuan tentang pendidikan kebutuhan khusus memiliki akar sejarah di zaman Mesir kuno lebih dari tiga ribu tahun yang lalu tentang pendidikan bagi orang tunanetra. Sejauh yang diketahui, buku pertama tentang metodologi pendidikan khusus adalah tentang pengajaran bagi penyandang tunarungu. Metodologi tersebut dikembangkan di Spanyol pada awal abad ke-17, kemungkinan ditulis pada akhir abad berikutnya.

Selama abad ke-18 muncul minat yang lebih berorientasi filosofi terhadap hubungan antara persepsi indera dan kognisi, dengan John Locke (1632-1704) sebagai tokoh utamanya. Sebagaimana dijelaskan secara singkat dalam salah satu artikel dalam buku ini17, minat yang cukup intelektual ini berkembang menjadi upaya-upaya pendidikan yang konkret.

Pertanyaan-pertanyaan mengenai bila dan bagaimana orang tunarungu atau tunanetra dapat belajar diinvestigasi, dan program pelatihan yang konkret bagi anggota keluarga yang mempunyai hak-hak istimewa dikembangkan dan dilaksanakan. Tempat pertemuan untuk kegiatan-kegiatan ini adalah di Paris. Sedikit demi sedikit bermacam-macam program pelatihan dikembangkan, pada awalnya dalam bidang kecacatan sensori, dan kemudian juga difokuskan pada mereka yang menyandang ketunagrahitaan, kesulitan komunikasi dan berbahasa serta penyakit mental. Semakin banyak ahli dari berbagai negara berpartisipasi aktif dalam perdebatan yang penuh semangat tentang metode terbaik untuk memenuhi bermacam-macam kebutuhan khusus (Enerstvedt 1996; Johnsen 1998/2000; 2001).

Eduard Seguin (1812-1880) dari Perancis merupakan salah seorang perintis dalam bidang ketunagrahitaan, yang kemudian melanjutkan pekerjaannya itu di Amerika Serikat. Dia memulai pendidikan guru di sekolah khususnya. Pada peralihan abad ke-20 berbagai seminar dan lembaga di bidang pendidikan kebutuhan khusus diselenggarakan di beberapa kota Eropa seperti di Budapest pada tahun 1898 dan Berlin pada tahun 1927. Di beberapa negara, pendidikan guru pendidikan khusus tampaknya dimulai dengan penyelenggaraan berbagai kursus jangka pendek atau jangka panjang, yang terkait dengan sekolah khusus. Ini pula yang terjadi di Swedia, yang merupakan negara perintis dalam konteks Nordik ketika mereka memulai kursus jangka panjang bagi guru-guru pendidikan khusus di kelas-kelas remedial pada tahun 1926 (Askildt & Johsen 2001; Johnsen 2000).

Perkembangan di Rusia dan Soviet memerlukan perhatian khusus karena kondisi sosial dan politik yang spesifik pada waktu itu, ketika Lev Vygotsky (1896-1934) mengkontribusikan karya kepeloporannya. Sebagaimana di negara-negara Eropa Timur lainnya, kata defectology masih merupakan konsep resmi untuk pendidikan kebutuhan khusus. Konsep ini diperkenalkan ke dalam bahasa Rusia pada tahun 1912 dari istilah “pendidikan kuratif kontemporer” dari bahasa Jerman (Heilpedagogik). Konsep ‘defects’ dan ‘defectology’ juga digunakan dalam literatur Nordik dan Eropa lainnya serta dalam teks Amerika pada awal abad ke-20. Menjelang akhir masa Tsarist Rusia, beberapa sekolah khusus untuk anak-anak penyandang cacat sensori dan tunagrahita telah didirikan, yang mendidik kurang dari satu persen anak-anak penyandang cacat di dua kota besar, Moscow dan St. Petersburg. Pada tahun-tahun ketika pendidikan kebutuhan khusus sedang berkembang sebagai sebuah disiplin ilmu, masyarakat Rusia harus memikul penderitaan Perang Dunia I seperti negara-negara lain, dan di samping itu mereka mengalami Revolusi Komunis yang diikuti dengan perang saudara. Sebagai akibat dari masa kekacauan dengan kelaparan dan perang saudara, sejumlah besar anak muncul ke permukaan, anak-anak yang tidak memiliki rumah, yatim piatu atau diabaikan, dibiarkan bergelandangan. Jumlahnya diperkirakan sebanyak tujuh juta anak pada tahun 1921-22. sebagai akibat dari situasi ini, isi pendidikan kebutuhan khusus diperluas keluar dari pengajaran tradisional untuk anak-anak penyandang cacat sensori, kini mencakup pengajaran bagi anak-anak yang dibuang dan dilecehkan. Perspektif kepedulian sosial ini menjadi bagian yang menonjol dari tradisi pendidikan khusus di Soviet dan kemudian juga di Eropa Timur. Akibat dari revolusi tersebut, beberapa pendidik dalam pendidikan kebutuhan khusus dari masa pra-revolusi mendirikan sekolah-sekolah radikal, klinik dan institusi pengajaran untuk mempelajari fenomena pendidikan khusus dalam versi baru yang diperluas sebagaimana disebutkan di atas. Ketika Universitas Negeri Moscow II menyelenggarakan lembaga penelitian ilmiah pada fakultas pendidikan pada tahun 1926-27, Vygotsky ditunjuk sebagai asisten direktur pada bagian defektologi. Ini menandai berdirinya pendidikan kebutuhan khusus sebagai disiplin ilmu di Uni Sovyet18.

Namun, kontribusi Vygotsky pertama kali pada bidang pendidikan kebutuhan khusus terutama adalah melalui tulisan-tulisannya. Knox dan Stevens (1993:10) menggambarkan tulisan-tulisan Vygotsky dalam bidang pendidikan kebutuhan khusus sebagai berikut.

Dasar-dasar defektologi berisikan pemikiran Vygotsky untuk menciptakan pemahaman baru tentang psikologi anak-anak abnormal dan metodologi baru untuk mengembangkan kekuatan-kekuatannya yang masih tersisa serta fungsi- fungsi lainnya yang masih sehat dan utuh. Pekerjaan Vygotsky dengan anak-anak abnormal dilaksanakan bersamaan dengan penelitian tentang masalah-masalah fundamental yang terkait dengan perkembangan bahasa dan psikologi anak, dan ini dipergunakannya sebagai dasar untuk memecahkan masalah yang lebih besar ini. Singkatnya, makalah-makalahnya serta pemikiran yang terkandung di dalamnya memberi kontribusi besar terhadap pembentukan psikologi perkembangan modern di Soviet.

Pendekatan Vygotsky menonjolkan konsep dialogisme; suatu pendekatan yang didasarkan pada komunikasi, yang sependapat dengan ahli-ahli terkemuka pada waktu itu, seperti ahli linguistik, kritikus sastra dan ahli teori Marxisme. Knox dan Stevens (1993) mengemukakan bahwa salah satu kontribusinya terhadap bidang pendidikan kebutuhan khusus adalah bahwa dia membantu memberikan dasar teori yang kuat untuk terus memperlakukan psikologi dan pengajaran siswa penyandang cacat sebagai satu bidang penelitian yang terpadu. Di samping itu, dia juga menciptakan gambaran holistik tentang hakikat manusia, dengan memadukan bidang-bidang yang terkait seperti linguistik, sosiologi, psikologi, fisiologi dan pendidikan. Namun, karya-karya Vygotsky itu sangat dikritik oleh penguasa baru Soviet, dan tulisan-tulisannya hampir hilang dari wacana pendidikan kebutuhan khusus di Soviet untuk beberapa dekade. Bersamaan dengan itu, gagasannya untuk mengembangkan defektologi sebagai disiplin penelitian dan sebagai satu disiplin ilmu menyebar ke banyak universitas di seluruh bagian timur Eropa. Baru beberapa dekade yang lalu tulisan-tulisan Vygotsky hidup kembali sebagai pengetahuan yang fundamental dalam pendidikan kebutuhan khusus dan bidang-bidang terkait lainnya (Askildt & Johnsen 2001; Johnsen 2000; Knox & Stevens 1993).

Di Zurich, Swiss, pada tahun 1935, terdapat empat lembaga pendidikan kebutuhan khusus atau pendidikan kuratif (Heilpedagogik), sebutan pada waktu itu. Salah satunya didirikan pada tahun 1924 oleh Heinrich Hanselmann (1882-1960), yang kemudian diangkat sebagai professor pertama dalam bidang ini. Hanselmann adalah perintis besar dari Eropa Barat yang mengembangkan landasarn teoritis untuk pendidikan kebutuhan khusus. Seperti Vygotsky di Uni Sovyet, Hanselmann memadukan pengetahuan tentang berbagai jenis kecacatan menjadi satu disiplin ilmu. Dia menganjurkan bahwa fokusnya harus pada pendidikan, pengasuhan dan perawatan anak yang berkebutuhan khusus. Bidang ini harus merupakan satu disiplin umum dengan cakupan yang luas, yang terkait erat dengan praktek. Di samping itu, dia juga menekankan bahwa disiplin ilmu yang baru ini terkait dengan berbagai disiplin ilmu lain seperti pendidikan, psikologi, kedokteran, filsafat dan sosiologi. Ide-ide Hanselmann ini menyebar ke Negara-negara lain dan pemikirannya menjadi sangat penting dalam wacana di negara-negara Nordik dan Norwegia (Askildt & Johnsen 2001; Johnsen 2000; Simonsen 1996).

Seguin, Vygotsky dan Hanselmann semuanya mengemukakan argumen bahwa jenis kompetensi tertentu dibutuhkan dalam pendidikan murid yang berkebutuhan khusus. Mereka menggambarkan jenis kompetensi yang lebih luas daripada pendidikan tradisional pada saat itu di samping kedokteran dan psikologi tradisional. Sebagaimana disebutkan di muka, Vygotsky dan Hanselmann menekankan pentingnya hubungan yang erat dengan disiplin-disiplin yang lain. Sejak saat munculnya minat terhadap pendidikan kebutuhan khusus di Paris pada abad ke-18, para ahli dan praktisi yang menangani berbagai jenis kebutuhan khusus telah berkolaborasi dan saling memberikan inspirasi. Sebagian dari mereka bahkan berpindah-pindah dari satu kecacatan ke kecacatan lain atau menangani beberapa jenis kecacatan sekaligus. Tradisi mengumpulkan dan membandingkan pengetahuan ini juga telah menjadi bagian dari wacana pendidikan kiebutuhan khusus di negara-negara Nordik sejak awalnya. Para ahli Nordik berkumpul untuk berpartisipasi dalam diskusi dan seminar-seminar yang rutin. Jurnal Nordik gabungan yang pertama diterbitkan pada tahun 1867 dan hingga kini masih terbit. Namun, belum ada negara-negara yang telah menyelenggarakan program studi pendidikan kebutuhan khusus secara gabungan.

Di Norwegia, pentingnya memberikan pendidikan khusus kepada mereka yang akan mendidik anak-anak yang berkebutuhan khusus telah ditetapkan dalam undang-undang khusus pertama tentang sekolah khusus pada tahun 1881. Penyelenggaraan kursus gabungan untuk guru-guru di sekolah khusus dibahas tanpa ada hasil nyata pada saat itu. Juga di Norwegia, berbagai sekolah khusus mengembangkan kursusnya sendiri-sendiri atau mengupayakan beasiswa agar orang dapat pergi ke negara lain untuk belajar di sekolah khusus serupa. Kelompok terbesar yang merasa sangat membutuhkan pendidikan tambahan adalah guru-guru kelas remedial di sekolah reguler. Perdebatan tentang perlunya kursus pendidikan gabungan untuk guru pendidikan kebutuhan khusus berlanjut dengan fokus khusus yaitu menemukan hubungan yang relevan dengan pendidikan guru reguler. Pada tahun 1961 Lembaga Pendidikan Khusus Norwegia (NISE) didirikan. Lembaga ini memberikan pelatihan gabungan pada jenjang pendidikan tinggi untuk guru-guru pendidikan kebutuhan khusus di sekolah khusus dan sekolah reguler, yang didasarkan atas pendidikan yang telah dimilikinnya dan praktek yang telah dilakukannya sebagai guru reguler. Pelatihan tersebut diprogram dengan durasi dua tahun (Askildt 1996; Askildt & Johnsen 2001; Johnsen 1998/2000; 2000).

Sekarang ini pendidikan kebutuhan khusus ditawarkan sebagai pendidikan tambahan pada beberapa universitas untuk guru-guru, baik dengan status sebagai mahasiswa penuh ataupun mahasiswa paruh waktu. Lembaga Pendidikan Khusus Norwegia telah diperluas dan berkembang menjadi sekolah tinggi pendidikan kebutuhan khusus pada semua jenjang akademik. Jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus, sebagaimana namanya sekarang, merupakan bagian dari Fakultas Pendidikan Universitas Oslo.

Jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus

Terdapat kira-kira tujuh puluh staf pada Jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus, terdiri dari lima puluh staf akademik dan dua puluh staf teknis dan administrasi. Ada dua puluh staf tambahan yang terkait dengan proyek-proyek dan kerjasama dengan pusat-pusat sumber, yang dibiayai dari luar. Jumlah mahasiswanya sedikit bervariasi setiap tahun, tetapi rata-rata sekitar 700 orang.

Jurusan ini menyelenggarakan program perkuliahan pada berbagai jenjang. Tiga program perkuliahan yang akan digambarkan secara rinci kemudian, dicetak tebal pada daftar di bawah ini:

Program perkuliahan lainnya:

Pendidikan lanjutan dan In-service Training/Penataran

Program Doktoral

  1. Dr. Poli. Program Studi Pendidikan Kebutuhan Khusus.

Tujuan dari Program Studi Pendidikan Kebutuhan Khusus yang Berorientasi Profesional adalah untuk memberikan kualifikasi yang berbasis penelitian dan berorientasi karir untuk bekerja dalam bidang pendidikan, konseling, intervensi dan rehabilitasi bagi orang berkebutuhan khusus dan penyandang cacat.

Studi tersebut terdiri dari sejumlah mata kuliah untuk mendapatkan gelar Cand. Ed. dalam Pendidikan Kebutuhan Khusus. Di samping studi dalam bidang pendidikan kebutuhan khusus yang umum, studi ini menawarkan spesialisasi dalam sejumlah aspek. Ini meliputi studi bahasa isyarat, pencegahan terhadap hambatan belajar dan mengajar, habilitasi dan rehabilitasi dalam bidang kecacatan sensori, perkembangan dan gangguan bahasa dan bicara (“logopedics”), strategi dan kesulitan pembelajaran dan perkembangan, dukungan emosional dan sosial serta dukungan pendidikan untuk kesulitan belajar spesifik.

Bagian lanjutan dari studi ini terdiri dari mata kuliah tentang teori ilmu dan metodologi penelitian yang diikuti dengan penulisan tesis, di mana para mahasiswa melakukan penelitian dalam bidang spesialisasi yang telah dipilihnya. Bagian ini juga menawarkan studi lanjutan dalam bidang asesmen, konseling dan inovasi.

Mahasiswa ditugaskan ke sejumlah lokasi praktek untuk beberapa minggu selama masa studinya, seperti taman kanak-kanak dan sekolah umum, pusat layanan psikologi pendidikan, pusat-pusat yang berada di bawah sistem pendukung pendidikan kebutuhan khusus, lembaga psikiatri anak dan remaja, pusat alat bantu pendidikan, pusat layanan kotapraja untuk penyandang tunarungu dan tunanetra, pusat interpreter, dll.

Setelah memperoleh gelar magister pendidikan dalam bidang Pendidikan Kebutuhan Khusus ini, mahasiswa dapat melanjutkan ke program doktor selama tiga tahun pada program studi ini.

Struktur program studi ini kini sedang dalam revisi untuk diselaraskan dengan tren internasional, dan karenanya tidak akan dijelaskan secara rinci di sini. Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai struktur program studi ini, silakan kunjungi situs (http://www.uio.no/english/ects/uv/isp).

Jurusan ini menawarkan Program dua tahun Master Filosofi Pendidikan Kebutuhan Khusus – M. Phil. SNE – yang keseluruhan programnya dilaksanakan dalam bahasa Inggris. Mayoritas mahasiswa yang telah diterima dalam program ini berasal dari benua-benua lain atau dari Eropa Timur. Bantuan keuangan kini tersedia dari “Quota Programme ” dan program bantuan lainnya seperti program beasiswa NORAD. Para pelamar internasional lainnya juga dapat diterima sebagai mahasiswa pembayar. Kandidat dari negara-negara barat yang bermaksud mempersiapkan diri untuk penelitian internasional, usaha kerjasama, dan layanan bantuan, juga dapat melamar di sini. Sejumlah kecil mahasiswa dari negara tuan rumah, Norwegia, juga diterima dalam program ini dengan persyaratan yang disebutkan di atas.

M. Phil. SNE (master filosofi pendidikan kebutuhan khusus) adalah sebuah program “sandwich “ dua tahun, yang terdiri dari empat bagian:

Bagian I ( 2 bulan): Proyek persiapan: Deskripsi tentang situasi di negara asal mahasiswa yang disiapkan di negara asal sebelum kedatangan di Norwegia.

Bagian II (8 bulan): Teori dan Metode dalam Pendidikan Kebutuhan Khusus: Kajian umum, spesialisasi, metoda dan rancangan penelitian. Bagian ini dilaksanakan di Universitas Oslo.

Bagian III (9 bulan): Penelitian dan Tesis.

Praktek lapangan, pengumpulan, penyusunan dan analisis data empirik di negara asal mahasiswa.

Bagian IV (5 bulan): Penyelesaian jenjang Master: Finalisasi tesis dan perkuliahan akhir di Universitas Oslo.

Program ini meliputi perkuliahan, diskusi kelompok, seminar mata kuliah terintegrasi, kerja kelompok, membaca mandiri, pengerjaan tugas/makalah dan tesis, latihan praktis, tutoring dan studi wisata.

Dr. Polit. Study Programme in Special Needs Education [Perkuliahan untuk program doktor dalam Pendidikan Kebutuhan Khusus] dilaksanakan terutama dalam bahasa Norwegia. Namun, untuk memfasilitasi mahasiswa internasional dalam program ini, kini para dosen dapat memberikan perkuliahan untuk mata kuliah wajib dalam bahasa Inggris. Program doktor adalah studi full time selama tiga tahun.

Program Doktor bertujuan meningkatkan kualifikasi kandidat untuk penelitian dan pekerjaan lain dalam Pendidikan Kebutuhan Khusus di mana penguasaan pengetahuan dan pendekatan keilmuan yang cermat dituntut. Selama masa pendidikan jenjang doktor ini, penekanan diberikan pada pengembangan keluasan profesional dan kedalaman penelitian akademik. Pengetahuan yang mendalam diperoleh melalui karya penelitian, baik teoritis maupun metodologis, yang terkait erat dengan penulisan disertasi doktor. Tujuan keluasan profesional akan dicapai sebagian melalui perkuliahan dan sebagian melalui pembacaan literatur yang diwajibkan. Tujuan pelatihan ini adalah memberikan pemahaman yang mendalam tentang teori keilmuan dalam metodologi penelitian dan Pendidikan Kebutuhan Khusus sebagai satu disiplin ilmu dan sebagai bidang studi.

Semua mata kuliah yang ditawarkan oleh jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus dijelaskan lebih lanjut dan senantiasa diperbaharui dalam situs: (http://www.uio.no/english/ects/uv/isp).

Kesamaan, kualitas dan inklusi:

Pencapaian dan tantangan dalam Pendidikan Kebutuhan Khusus sebagai Disiplin Ilmu

Konsep ‘pendidikan khusus‘ dan ‘pendidikan kebutuhan khusus‘ telah dipergunakan dalam kaitannya dengan pendidikan di sekolah reguler untuk semua, atau sekolah inklusif, selama beberapa dekade di Norwegia serta di negara-negara Nordik lainnya.

Sebagaimana dijelaskan dalam artikel-artikel lain dalam bunga rampai ini, anak dan remaja yang berkebutuhan khusus dan penyandang cacat sudah dijamin kesamaan aksesnya ke pendidikan di sekolah reguler yang wajib di Norwegia sejak beberapa dekade yang lalu melalui perubahan-perubahan dalam perundang-undangan tahun 1975. Pada waktu itu setiap anak diberi hak untuk memulai pendidikan formalnya di sekolah reguler setempat. Sejak tahun 1991 prinsip inklusi direalisasikan lebih lanjut dengan penutupan sekolah-sekolah khusus nasional dan mengintegrasikan siswa-siswa dari sekolah-sekolah tersebut ke sekolah reguler lokal. Sebagai akibatnya, hanya satu persen dari total populasi siswa sekarang bersekolah di sekolah khusus atau kelas khusus. Kesamaan hak atas pendidikan ini juga diberikan untuk mengikuti pendidikan menengah atas tiga tahun, dengan kemungkinan perpanjangan waktu belajar hingga lima tahun (Johnsen 2001;2001).

Kesetaraan akses ke sekolah inklusif menuntut adanya dukungan pendidikan yang relevan dan berkualitas tinggi bagi semua siswa. Tujuan mendasar dari kebijakan pendidikan ini adalah untuk menjamin semua anak, remaja dan orang dewasa yang berkebutuhan khusus memperoleh pendidikan yang tepat dan bermakna di sekolah untuk semua. Ini ditekankan dalam perundang-undangan dan kurikulum nasional melalui prinsip pendidikan yang diadaptasikan secara tepat (Johnsen 2001; 2001; Kementrian Pendidikan, Penelitian dan Gereja2001). Akan tetapi, kualitas pendidikan tidak dijamin melalui kebijakan resmi saja. Sebagaimana telah disebutkan di muka, program studi pendidikan kebutuhan khusus ditawarkan di sejumlah universitas dan lembaga pendidikan tinggi lainnya di Norwegia, yang menghasilkan pendidik dalam bidang pendidikan kebutuhan khusus pada berbagai jenjang. Sebagian besar sekolah di Norwegia mempunyai sekurang-kurangnya seorang guru dengan pendidikan tambahan dalam bidang pendidikan kebutuhan khusus.

Oleh karena itu, wajar bila disebutkan bahwa Jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus berperan penting dalam pencapaian di bidang pendidikan kebutuhan khusus dan inklusi selama beberapa dekade terakhir ini, karena jurusan ini merupakan lembaga pertama dan terbesar yang memberikan pendidikan tinggi dalam bidang ini. Pada tahun 1985, sebuah komite evaluasi yang dibentuk oleh Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menggambarkan lembaga ini, yang pada saat itu bernama Sekolah Tinggi Pasca-Sarjana Pendidikan Khusus Norwegia, dengan kata-kata berikut:

Status mereka yang memberi perkuliahan ini tinggi. Akan sulit menemukan suatu lembaga yang sebanding dengan Sekolah Tinggi Pasca-Sarjana Pendidikan Khusus Norwegia, di Baerum, dengan staf dan fasilitas yang setara dengan universitas (OECD 1982:26, dikutip dari Johnsen 1985:51).

Lembaga pendidikan ini merupakan faktor penting dalam memperkokoh pengetahuan dan keterampilan dalam bidang pendidikan kebutuhan khusus serta bagi perkembangan dini menuju satu sekolah untuk semua yang terjadi di Norwegia. Ada dua faktor yang patut disebutkan sebagai alasannya.

1. Penghimpunan berbagai bidang pendidikan kebutuhan khusus ke dalam satu institusi pendidikan tinggi menciptakan benteng yang kokoh yang berfokus pada hak dan kebutuhan orang yang berkebutuhan khusus dan menyandang kecacatan. Di kalangan staf institusi ini terdapat banyak tokoh juru bicara pada saat wacana tentang satu sekolah untuk semua baru menghangat, yang juga menyoroti pentingnya intervensi dini, meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam bidang-bidang tradisional dan mengeksplorasi aspek-aspek baru dalam pendidikan kebutuhan khusus. 2. Kedekatan hubungan dengan pendidikan guru reguler menjamin bahwa tidak ada hambatan profesional bagi para pendidik khusus untuk bekerja di sekolah reguler. Sejak pendiriannya, Jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus telah berkembang menjadi pusat nasional untuk penelitian, inovasi dan pendidikan tinggi di bidang pendidikan kebutuhan khusus dan inklusi. Ini tidak berarti bahwa Jurusan ini merupakan satu-satunya institusi dalam bidang ini. Sebagaimana telah dikemukakan, beberapa universitas menawarkan program pasca-sarjana di bidang pendidikan kebutuhan khusus pada jenjang yang lebih rendah. Inovasi di bidang pendidikan kebutuhan khusus adalah salah satu tujuan utama Sistem Pendukung Pendidikan Kebutuhan Khusus Norwegia dan pusat layanan psikologi pendidikan lokal serta sekolah-sekolah lokal. Penelitian dalam bidang dan tentang pendidikan kebutuhan khusus, inklusi dan kecacatan juga dilakukan di berbagai universitas lain di jurusan pendidikan, psikologi, sosiologi, antropologi dan studi budaya, serta di berbagai lembaga penelitian independen. Bidang pendidikan kebutuhan khusus akan senantiasa mengalami perubahan karena masyarakat pun senantiasa berubah. Terlebih lagi, jalan menuju kesetaraan penuh, pendidikan berkualitas tinggi dan masyarakat yang sepenuhnya inklusif masih panjang. Banyak tantangan yang masih harus dihadapi, oleh pendidikan kebutuhan khusus sebagai disiplin ilmu di universitas pada umumnya maupun Jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus Universitas Oslo pada khususnya. Daftar tantangan yang disebutkan berikut ini sama sekali tidak lengkap: 1. Sejak Jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus berubah dari sekolah tinggi yang terpisah menjadi bagian dari Universitas Oslo, hubungan langsung dengan pendidikan guru reguler menjadi kurang erat. 2. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, perubahan dalam struktur umum pendidikan tinggi di Norwegia sekarang ini sedang dibahas. Tujuannya adalah beralih dari tradisi Eropa Kontinental ke tradisi Anglo-Amerika yang lebih banyak dipergunakan secara internasional. Model baru yang akan berlaku di universitas kami dari tahun akademik 2002-2003 adalah model 3+2+3. Tiga tahun pertama perkuliahan adalah untuk kualifikasi Bachelor (sarjana), dua tahun berikutnya untuk jenjang Master, dan tiga tahun terakhir adalah program Doktoral (White Paper No. 27, 2000-2001). Beberapa kemungkinan dan tantangan baru menyertai perubahan besar struktur studi ini dalam hal prioritas kurikulum dan kaitan antara teori dan praktek. 3. Pendidikan kebutuhan khusus merupakan suatu pendekatan yang berorientasi praktis terhadap kebutuhan belajar, pengajaran, habilitasi dan rehabilitasi anak, remaja dan orang dewasa yang berkebutuhan khusus dan menyandang kecacatan. Ini merupakan satu disiplin ilmu yang terkait erat dengan disiplin-disiplin lain seperti pendidikan reguler, psikologi, kedokteran, sosiologi, studi budaya dan filsafat. Untuk mengembangkan, mempertahankan dan senantiasa memperbarui kaitan antara kegunaan praktis dengan refleksi kritis akan selalu menjadi tantangan besar bagi disiplin ilmu ini. 4. Tantangan besar lainnya bagi pendidikan kebutuhan khusus sebagai satu disiplin ilmu adalah selalu berada di depan perubahan masyarakat, sebagai penyokong dan fasilitator bagi orang yang berkebutuhan khusus dan penyandang cacat, serta mendukung perubahan menuju masyarakat sejahtera yang inklusif.

Daftar Pustaka

Footnotes

17 Untuk informasi lebih lanjut lihat Johnsen 2001: Pengenalan terhadap Sejarah Pendidikan Kebutuhan Khusus menuju Inklusi. Konteks Norwegia dan Eropa. Artikel pada buku ini.

18 Pada teks sebelumnya (Johnsen 2000) saya tempatkan pendirian institut Defektologi pada tahun 1929. Di sini saya menggunakan 1926-27 berdasarkan dokumentasi dan diskusi Knox’ & Stevens’ (1993).